: WIB    --   
indikator  I  

Mengalap cuan dari suvenir kaktus mini

Mengalap cuan dari suvenir kaktus mini

JAKARTA. Menciptakan produk ramah lingkungan yang sukses mencuri perhatian pasar memang tidak mudah. Apalagi ide yang dibangun haruslah berbeda dengan produk lainnya yang sudah terkenal.

Nah, salah seorang yang ikut membuat produk kreatif dari bahan ramah lingkungan ini adalah Anita Wulandari, seorang lulusan Desain Komunikasi Visual, Unikom, Bandung, Jawa Barat. Di bawah bendera Grisa, ia sukses membuat aneka suvenir dari tanaman kaktus dan sukulen.

Anita pun telah menggandeng beberapa petani kaktus dan sukulen untuk membangun usaha eco-suvenir ini. Ide ini didapat setelah melihat banyaknya potensi tanaman hias di Indonesia dibandingkan negara lainnya.

Kebetulan, Anita sebelumnya memang menyukai tanaman kaktus dan membudidayakannya di rumah. "Awalnya untuk koleksi pribadi, tapi ternyata ada peluang bisnis dan bisa dikomersilkan dari inovasi kaktus," ujarnya.

Dari situ, ia pun terbesit membuat tagline usaha lets love grow yang artinya tanaman hias akan terus bertumbuh dan dapat dimanfaatkan. Dari situ dia lalu mencoba membeli beberapa tanaman kaktus dan sukulen di pasar kaget Tegalega, Bandung.

"Setiap minggu pergi ke pasar kaget dan ternyata ada yang jual kaktus mini. Saat itu ngobrol dengan pedagangnya dan kerjasama untuk pembuatan souvenir," kata Anita. Tepat November 2016, Anita resmi menjual suvenir kaktus.

Anita memproduksi aneka suvenir kaktus dan sukulen untuk berbagai keperluan acara, seperti ulang tahun dan pernikahan. Untuk acara ulang tahun biasanya pesanan yang masuk sekitar 100-150 pieces. Sementara untuk acara pernikahan tidak menentu. "Saya pernah melayani acara pernikahan yang membutuhkan 1.000 suvenir," ujarnya.

Harga yang dibanderol untuk suvenir berkisar Rp 5.000 hingga Rp 17.500 per pieces. Dalam sebulan, dia bisa menjual 1.000 pieces suvenir hingga lebih, dengan omzet mencapai Rp 10 juta sampai 15 juta.

Saat ini, ia juga sudah menggandeng tiga sampai lima petani kaktus dan sukulen di Lembang, Bandung. Dari petani, kaktus dan sukulen tidak dipoles lagi. "Hanya dimasukkan dalam pot dan akan diberi tag tulisan Grisa di kertas. Lainnya kalau dikirim ke luar kora harus di lem batu hias di sekitar suvenir kaktus agar tidak tumpah," ungkapnya.

Meski tidak mengalami kendala dalam proses pembuatan, Anita mengalami kesulitan dalam pengiriman. Pernah sekali waktu ratusan suvenir yang dikirim rusak.  Kini Anita tengah mencari perusahaan pengiriman yang bisa memberi pelayanan maksimal. Ke depannya, dia juga ingin memiliki lahan sendiri untuk mengembangkan tanaman kaktus.    


Reporter Jane Aprilyani

USAHA IKM

Feedback   ↑ x