: WIB    —   
indikator  I  

Mengandangkan peruntungan onagari si ayam hias Jepang

Mengandangkan peruntungan onagari si ayam hias Jepang

KONTAN.CO.ID - Jenis ayam hias kini semakin beragam. Tidak hanya ayam asli dari Indonesia saja tapi ayam asal luar negeri mulai ada penggemar. Salah satunya adalah ayam onagadari.

Ini adalah ayam yang berasal dari negeri Sakura, Jepang. Biasanya, ayam jenis ini ditemukan di wilayah Shikoku, Jepang.

Para warga di wilayah itu biasanya menggunakan bulu ayam yang paling dihormati di negeri tersebut  untuk menghias pelindung kepala. Bulu ayam ini juga dipakai untuk menghias tombak para tentara di negara tersebut.

Maklum saja, ayam ini memang tergolong unik dan berbeda dari ayam kebanyakan. Sebab, jenis unggas ini  memiliki bulu ekor yang sangat panjang, bahkan bisa mencapai lebih dari dua meter.

Karakter unik inilah yang membuat onagadari mulai punya banyak penggemar di Tanah Air. Sejumlah penggemarnya juga mulai membudidayakan ayam jenis ini.  Salah satunya adalah Muhammad Akbar asal Palembang, Sumatera Selatan.

Laki-laki yang akrab disapa Akbar ini mengaku sudah dua tahun lalu mengembangbiakkan ayam berekor panjang ini. Ia membeli bibit onagadari dari seorang peternak asal Magelang, Jawa Tengah.

Perlahan namun pasti, ia mulai membudidayakan ayam Jepang tersebut. Ia berhasil mengembangkan enam indukan ayam onagadari. Terdiri dari dua pejantan dan empat betina.

Dari indukan itulah Akbar mulai mengembangbiakkan ayam tersebut. Saat ini saja, ia mengklaim sudah memiliki 10 ekor onagadari yang siap untuk dijual.  

Dia mengaku penjualan onagadari terbilang cukup bagus karena dalam sebulan bisa mengirimkan lima pasang ayam ke tangan konsumen. "Memang sedang ramai apalagi kemarin baru saja ada lomba ayam hias semenjak itu konsumen makin banyak yang minat," katanya pada KONTAN, Selasa (26/12).

Jangkauan pasarnya tidak hanya di sekitar Palembang. Dia juga memasarkan onagadari ke daerah lainnya seperti Jambi, Bengkulu, dan lainnya.

Sedangkan untuk harga, ia membanderol sekitar Rp 550.000 per pasang untuk usia satu bulan. Sedangkan, untuk indukan bisa mencapai Rp 3,5 juta per ekor bila mempunyai ekor panjang maksimal yang mencapai dua meter dan kondisi mulus.

Peternak lainnya adalah Saiful Aziz asal Yogyakarta. Dia mengembangbiakkan ayam ini sejak tahun 2013. Sampai sekarang sudah ada sekitar tiga jantan, sembilan betina, dan 30 ekor anakan.  

Menurutnya, untuk area Jawa, ayam onagadori sudah tidak lagi menjadi primadona. Meski demikian, bukan berarti penjualnnya menurun. "Penjualannya masih tergolong stabil tiap bulan," jelasnya.

Dia menjual anakan onagadari usia satu bulan seharga Rp 200.000 per ekor. Dalam sebulan, sekitar 30 ekor anakan laku terjual. Konsumennya pun tidak hanya dari sekitar kota gudeg tapi juga kota-kota lainnya seperti Sumatera dan Kalimantan.

Saiful mengingatkan, untuk pengiriman ayam dewasa atau indukan yang sudah memiliki ekor panjang, ada  baiknya ekor dibalut koran serta diselotip. Tujuannya adalah supaya tekstur bulu ayam Onagadari tidak rusak selama perjalanan.      


Reporter Tri Sulistiowati
Editor Johana K.

AGRIBISNIS

Feedback   ↑ x
Close [X]