: WIB    —   
indikator  I  

Mengawali profesi pelukis dinding dari guru TK

Menghasilkan uang lewat hobi, itulah yang dilakukan oleh Agung Prasetyanto. Hobinya pada seni lukis telah mengantarkannya menjadi seorang pelukis dinding profesional sejak tahun 2007.
 
Sebelum menjadi pelukis, Agung sempat menjadi guru taman kanak-kanak (TK) di Jakarta dan Bekasi. "Waktu itu menjadi guru seni lukis, masih di bidang itu juga," ujar pria lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini.

Kendati masih di bidang seni lukis, profesi guru justru menghambat kreativitasnya di dunia tersebut. Soalnya karena kesibukan mengajar, ia tidak memiliki cukup waktu buat berekspresi dalam berkarya.

Itu juga yang mendorongnya untuk mundur dari dunia pendidikan dan fokus menjadi pelukis profesional. Sejak awal terjun ke dunia lukis profesional, Agung sudah memilih seni lukis dinding sebagai spesialisasinya. Khusus lukisan tiga dimensi (3D), baru ditekuninya pada 2010.

Ketika itu, lukisan dinding 3D mulai banyak peminatnya. "Pada 2010 itu saya mulai mendapat pesanan lukisan 3D dari seorang konsumen," kata pria kelahiran Blora, Jawa Tengah ini.

Sejak itu, Agung mulai terbiasa mengerjakan lukisan dinding 3D. Order pun semakin banyak. Salah satunya dari pesulap Denny Darko untuk menggambar lukisan 3D di belakang panggung tempat pertunjukannya.

Menurut Agung, lukisan tiga dimensi sebetulnya tidak jauh berbeda dengan lukisan dua dimensi. Hanya saja si pelukis 3D harus menguasai teknik perspektif, sehingga lukisan yang ditampilkan bisa seolah-olah tampak hidup dan nyata dalam sudut tertentu.

Dari segi teknis pengerjaan  sama sekali tidak ada perbedaan dengan teknik dua dimensi. "Material yang digunakan untuk melukis tiga dimensi semuanya sama dengan lukisan dua dimensi," tambah pria 35 tahun ini.

Material tersebut seperti cat dan kuas. Hanya saja, karena lukisan tiga dimensi membutuhkan keahlian perspektif, Agung memasang tariff lebih mahal dibanding lukisan dua dimensi.

Khusus untuk pesanan lukisan dinding 3D, ia mematok tarif Rp 200.000 per meter persegi (m2). Sedangkan untuk lukisan dinding dua dimensi, Agung hanya memberi tarif Rp 150.000 per m2.

Dari jasa melukis ini, Agung bisa mengantongi omzet hingga Rp 100 juta per bulan. Untuk lukisan 3D, porsi pesanannya sekitar 40% dari total omzet yang diperolehnya.  Jadi dari pesanan lukisan 3D saja, Agung bisa mendapat omzet kotor hingga sekitar Rp 40 juta per bulan.

Kebanyakan pelanggan lukisan 3D ini datang dari kalangan individu. "Kebanyakan yang minta dilukis itu kamar mereka supaya unik. Sedangkan kalau lukisan dua dimensi pasarnya memang lebih luas," katanya.

Agung memberi tip bagi yang ingin terjun ke dunia ini. Katanya, calon pelukis tiga dimensi wajib memahami teknik perspektif. Namun sebelum terjun ke bisnis ini, seseorang tentu harus menguasai teknis dasar melukis.

Juga secara umum, bisnis ini membutuhkan komunikasi yang intens dengan pelanggan. "Setiap pelukis punya aliran sendiri. Kita tidak boleh egois mengikuti aliran sendiri sehingga tidak memahami maunya pelanggan," ujar Agung.


Reporter Noor Muhammad Falih
Editor Dupla KS

PROFIL INKREF: AGUNG PRASETYANTO

Feedback   ↑ x