: WIB    --   
indikator  I  

Mengayam cuan lewat anyaman (2)

Mengayam cuan lewat anyaman (2)

KONTAN.CO.ID - Kelurahan Gombengsari, dikenal sebagai sentra anyaman sejak jaman dahulu. Sayangnya, para perajin seakan enggan berkembang untuk menghasilkan berbagai jenis produk jadi.

Kebanyakan mereka memilih untuk membuat produk yang sederhana atau setengah jadi. Hal inilah yang membuat sentra anyaman Gombengsari kalah kondang dengan sentra kerajinan Gintangan, Banyuwangi.

Johan, salah satu perajin menceritakan, sebenarnya banyak warga di sana yang bisa membuat produk anyaman jadi. Namun, mereka beralasan, sulit menembus pasar baru. Alhasil, mereka pun memilih menjadi pemasok produk setengah jadi. "Saya sendiri sudah tidak berpikir untuk membuat produk jadi karena memenuhi permintaan konsumen untuk anyaman lembaran saja kewalahan," kata Johan.

Dalam sebulan, dia membutuhkan sekitar 50 ikat (ada dua ruas per satu ikat) bambu apus. Johan mengaku membeli bambu dari wilayah Licin, Banyuwangi. Dia menggunakan bambu apus yang sudah berumur minimal satu tahun.

Laki-laki berkumis ini harus merogoh koceknya cukup dalam untuk membeli bahan baku. Setiap ikatnya dihargai Rp 4.000. Bahkan, bila musim penghujan datang, harga jualnya bisa lebih tinggi.

Johan juga menerangkan proses produksi anyaman buatannya. Bambu harus dalam kondisi bersih. Oleh karena itu harus dibersihkan lebih dahulu dari serat dan lainnya. Kemudian, diangin-anginkan dalam tempat teduh agar, bambu kandungan air dalam bambu menurun.

Setelah bambu dipotong sepanjang 60 cm, baru kemudian dianyam sesuai dengan kebutuhan. Dia mengaku, saat pesanaan tinggi dan durasi pengerjaan yang diberikan pendek, mau tidak mau proses penjemuran tidak dilakukan dengan maksimal.

Berkerjasama dengan agen untuk menyerap produksinya, tak membuat Munawaroh mendapatkan suplai  bahan baku dari si agen. Perempaun berhijab ini harus mencari sendiri semua bahan yang diperlukannya.

Tidak seperti Johan, dia membeli bahan baku berupa tulang daun lontar atau kelapa. Bahan ini dia peroleh dari petani kelapa sekitar rumahnya. Dalam sehari, Munawaroh membutuhkan sekitar 15-20 ikat lidi seharga Rp 2.000 per ikat. "Satu ikat hanya bisa jadi tiga piring saja," katanya.

Saat musim penghujan datang, dia mengaku kesulitan mendapatkan lidi berkualitas. Tingginya kandungan air membuat warnanya menjadi lebih gelap dan mudah patah.  

Bila sedang ada pesanan langsung dari konsumen yang merupakan pelanggan, Munawaroh pun sangat peduli akan kualitas. Ia juga akan memilih bahan baku lebih selektif. Yakni dengan hanya memakai lidi yang berwarna kuning dan utuh.

Pemilihan ini, otomatis mengerek harga jual piringnya menjadi Rp 2.500 per biji. Kebanyakan konsumen langganannya berasal dari Surabaya, Situbondo, dan sekitar Banyuwangi.

Dia bercerita tidak melakukan usaha promosi untuk mendapatkan konsumen langsung. Atas bantuan teman-temannya yang sering membicarakan produk dan pekerjaannya, kini dia mulai dikenal oleh pasar.       n

(Bersambung)


Reporter Tri Sulistiowati
Editor Johana K.

SENTRA UKM

Feedback   ↑ x
Close [X]