: WIB    --   
indikator  I  

Mengayam cuan lewat anyaman (3)

Mengayam cuan lewat anyaman (3)

KONTAN.CO.ID - Dapat dikerjakan sembari mengasuh anak dan tidak mengikat menjadi alasan utama para wanita di Desa Gombengsari, menekuni pekerjaan sebagai penganyam. Apalagi, nilai upah yang diterima lumayan cukup untuk tambahan agar dapur tetap mengepul.

Hal ini diceritakan Johan, salah satu perajin sekaligus pengepul anyaman. Lagipula, mereka (para perempuan) sudah terampil membuat anyaman berbentuk lembaran sampai dengan songkok. Makanya, dia tidak pernah pusing untuk mencari tambahan tenaga kerja baru saat kebanjiran pesanan.

Namun, adakalanya, dia harus kehilangan sebagian karyawannya karena memilih berpindah ke pengepul lainnya, dengan alasan upah yang diterima jauh lebih besar. "Mereka yang mendapatkan permintaan membuat produk jadi bayaran jauh lebih mahal," katanya pada KONTAN.   

Pada musim panen kopi juga, Johan akan pusing bukan kepalang untuk mencari tenaga kerja. Pasalnya, semua perajin akan memilih untuk memanen kopi di kebunnya masing-masing. Maklum saja, sebagian besar warga di sana mempunyai lahan kebun  kopi sendiri yang menjadi sumber penghasilan utama.

Mau tak mau, laki-laki berkumis tebal ini harus memasang tenggat waktu lebih lama serta menjelaskan kepada para kliennya soal tradisi warga wilayahnya. Tapi, tidak jarang dia juga memilih menggunakan sistem pengelolaan stok untuk memenuhi permintaan pelanggan tetapnya.

Kedepan, Johan pun  berharap para warga mau untuk mulai menanam bambu apus, selain kopi. Tujuannya. supaya pria  berkacamata ini tidak perlu jauh-jauh mencari bahan baku. Sampai sekarang, Johan masih mengandalkan pasokan bambu dari wilayah Licin, Banyuwangi.

Tidak hanya itu, dia berharap bisa memperluas atau mendapatkan pasar baru bagi produk kerajinan bambunya. Sehingga,  usahanya dapat berkembang lebih besar. Meski begitu, Johan masih tetap mengandalkan cara promosi tradisional yaitu penyebaran informasi dari mulut ke mulut untuk mempromosikan produknya.

Munawaroh, perajin lainnya mengaku, saat musim panen kopi, dia lebih memilih mengurus kebunnya, mulai dari tahap petik hingga penjemuran. "Panen kopi  lebih diutamakan karena hasilnya lebih menjanjikan," katanya. Saat KONTAN mengunjungi lokasinya pada Jumat (21/7) memang terlihat halaman depan rumahnya dipenuhi biji kopi yang sedang dijemur.

Lainnya, tingkat emosi yang baik menjadi kunci utama untuk menghasilkan anyaman yang sempurna. Perempuan ini mengatakan, apabila sedang banyak pikiran, pasti hasil anyamannya kacau balau. Jadi, dia memilih untuk tidak menganyam bambu. Meski terlihat mudah, pekerjaan ini membutuhkan konsentrasi, kesabaran, ketelatenan untuk mengerjakannya.

Meski ada ratusan perajin anyaman, perempuan yang lebih akrab disapa Muna ini mengaku tidak ada persaingan ataupun perang harga. Semuanya bekerjasama untuk memenuhi permintaan agen. "Harga jualnya pun sama. Kalau beda siapa yang mau beli?" tambahnya.

Ke depan, dia berharap usahanya dapat lebih berkembang dan bisa mendapatkan konsumen langsung tanpa perantara  atau agen. Alhasil, harga jualnya jauh lebih mahal.    

(Selesai)


Reporter Tri Sulistiowati
Editor Johana K.

SENTRA UKM

Feedback   ↑ x
Close [X]