: WIB    —   
indikator  I  

Mengenal sentra manik-manik di Banyuwangi (3)

Mengenal sentra manik-manik di Banyuwangi (3)

KONTAN.CO.ID - Meski sudah tersohor oleh   manik-maniknya, para perajin Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur masih sulit memasarkan aksesorinya. Mereka harus berhadapan dengan perajin di Bali atau daerah lain.  

Oleh karena itu, untuk menembus pasar baru, perajin menggunakan jasa pihak ketiga. Muhammad Yamin, salah satu perajin serta pengepul mengatakan, perantara sangat membantu supaya waktu tak banyak terbuang untuk berburu pelanggan baru.  

Saat ada konsumen yang tertarik dan terjalin kerjasama, perantara akan mendapat imbalan jasanya. Nilainya tergantung kesepakatan, tapi biasanya Rp 50 per item.

Adanya kendala dalam berbisnis menjadi hal yang lazim. Yamin pun mengungkapkan, hambatan terbesarnya adalah keterbatasan modal.  

Tingginya harga bahan seringkali memaksanya menolak pesanan dalam jumlah besar. Asal tahu saja, harga manik-manik buatan Jepang mulai dari puluhan ribu hingga ratusan ribu per 4,5 ons. Sementara, uang muka dari pelanggan tak cukup untuk belanja.   

Yamin pun baru saja menolak permintaan pelanggan untuk membuat 1.000 dompet manik-manik. "Saya hitung seluruh biaya produksi mencapai Rp 3 milyar, saya tak ada uang sebanyak itu," tambahnya. Kini, dia pun rajin mencari informasi pinjaman modal dengan bunga rendah.

Selain modal, keterbatasan perajin juga menjadi penghalang. Masing-masing perajin memang punya kemampuan masing-masing.

Seperti, perajin di Desa Aliyan hanya mau mengerjakan aksesori dengan manik-manik berukiran sedang hingga besar. Sedangkan, aksesori manik-manik kecil biasanya dikerjakan oleh perajin di daerah Pengunungan Ijen. Dan, ketrampilan membuat ikat pinggang manik-manik dikuasi oleh perajin di Situbondo.  

Selain itu,  saat masa panen padi dan kopi tiba, Yamin tak akan mendapat perajin. Sebab, ibu-ibu lebih memilih untuk mengurus hasil panennya. Sebagai antisipasi, biasanya Yamin membuat stok berlebih dari setiap model aksesori yang dia pesan sebelumnya.

Banyaknya perajin manik-manik ini juga tak menimbulkan persaingan panas antar mereka. Perajin telah  membuat kesepakatan untuk tidak saling menganggu perajin lainnya, termasuk tak boleh masuk ke artshop yang sama.

Menurut Yamin, para perajin selalu bertukar informasi terkait pasar yang disasar. Demikian juga pihak artshop juga tidak akan menjalin kerjasama dengan dua perajin dalam waktu yang sama.

Islamiyah, perajin manik-manik Desa Aliyan lainnya mengungkapkan tak ada kendala berarti dalam proses produksi. Sebagai peronce manik-manik, dia hanya dituntut teliti dan sabar. Bila suasana hati dan pikiran kacau, dia akan berhenti. Alasannya, hasil pekerjaannya pasti tidak sempurna.

Sedangkan, untuk persaingan antar perajin dia tanggapi dingin. Dia bilang, sesama perajin selalu belajar bersama untuk membuat satu kreasi yang menarik . "Bila kreasi saya kurang disukai, berarti belum rejeki," katanya santai.

Untuk ide desainnya, Islamiyah banyak terinspirasi dari aksesori yang dilihatnya di internet, televisi, dan model yang banyak beredar di penjaja aksesori. Lantas, akan dia modifikasi biar terlihat unik dan berbeda.     

(Selesai)


Reporter Tri Sulistiowati
Editor Johana K.

SENTRA UKM

Feedback   ↑ x
Close [X]