: WIB    —   
indikator  I  

Mengendus ramai lelang ikan di Bagan (2)

Mengendus ramai lelang ikan di Bagan (2)

KONTAN.CO.ID - Menjadi seorang nelayan harus pintar-pintar membaca prediksi cuaca. Karena saat musim penghujan, kondisi laut akan tidak begitu bersabahat. Tidak jarang, kapal hanya terombang-ambing terkena hantaman ombak, ditambah lagi hawa dingin yang harus dirasakan. Tangkapan ikan juga kurang maksimal.

Kondisi seperti ini juga sering dirasakan oleh nelayan di Desa Bagan, Kecamatan Percut, Kabupaten Deli Serdang, Sumatra Utara. Bahkan, badai yang datang di tengah laut, juga mengancam jiwa nelayan itu sendiri. Seperti saat KONTAN bertandang ke Desa Bagan, medio September lalu. Ada berita seorang nelayan hilang saat melaut dan ditemukan tidak bernyawa.

Zulkifli, nelayan sekaligus tengkulak ini mengatakan, bila musim hujan memang nelayan lebih memilih tidak melaut karena ganasnya ombak. Alhasil, hasil tangkapan ikan yang dipasok kepadanya akan turun tajam pada musim tersebut. Bahkan, Zulkifli pernah mendapati tidak ada samasekali setoran ikan dari nelayan.

Dia mengatakan, saat tak ada setoran dari nelayan setempat. Mereka bisa memasok ikan ke pusat penjualan ikan di Bagan. Tujuannya, supaya kebutuhan para pelanggan tetap terpenuhi. Namun, harga menjadi tak ramah di kantong lantaran pasokannya terbatas.  

"Pada minggu-minggu ini hasilnya lumayan, kebanyakan jenis ikannya kembung dan kakap," kata Zulkifli. Untuk memastikan pasokan ikan, dia pun menjalin kerjasama dengan lima orang nelayan.

Selain cuaca, kendala yang kerap dihadapi para nelayan adalan stok es batu yang membantu nelayan untuk menjaga kondisi ikan tetap segar. Saat, pasokan es batu tak cukup, Zulkifli juga harus mencari dari daerah lain dengan risiko harga mahal.

Baharudin yang juga berprofesi sebagai nelayan dan tengkulak mengaku bila harga beli es batu terlalu tinggi sekitar Rp 25.000 per balok. Padahal saban harinya, dia membutuhkan sekitar 20 hingga 30 balok es.

Ada beberapa faktor pemicu terbatasnya jumlah batu es disana. Pertama, terbatasnya jumlah produsen balok es. Laki-laki yang sering tampil dengan dandanan koboy ini bilang, masyarakat sekitar lebih memilih menjadi nelayan ketimbang membuat es batu. Kedua,  jumlah ikan yang datang terlalu banyak, sehingga kebutuhan es bertambah.

Lainnya, saat cuaca sedang tidak baik, Baharudin hanya mendapatkan setoran ikan sekitar 300 kg dari nelayan. Alhasil, dia harus mengambil dari nelayan luar wilayah bila ingin tetap memenuhi permintaan pasar.

Saat musim hujan tiba, dia harus bersiap untuk menerima hasil tangkapan nelayan yang merosot. Sekitar bulan Desember, menjadi saat paling sepi alias tangkapan nelayan sangat sedikit akibat tingginya intensitas angin.  

Asal tahu saja, untuk menjamin setoran ikan terus ada saban harinya, Baharudin menjalin kerjasama dengan 30 orang nelayan. Tak hanya membeli semua hasil tangkapan, dia juga harus menjalin komunikasi yang intes dengan nelayan agar hubungan terus baik.

Dia menambahkan, bila tahun ini penjualan ikan tidak sebagus tahun lalu, harga jual di pasaran terbilang murah. Contohnya, saat hari raya Idul Fitri harga ikan tak mampu dikerek tinggi. Dia pun tidak tahu pasti penyebabnya.    

(Bersambung)


Reporter Tri Sulistiowati
Editor Johana K.

0

Feedback   ↑ x