: WIB    --   
indikator  I  

Menjadi usaha turun temurun (3)

Menjadi usaha turun temurun (3)

JAKARTA. Mendirikan usaha konveksi bukan perkara mudah. Hal ini diungkapkan Yeni, salah satu pegawai di rumah konveksi Lida Jaya yang memproduksi seragam di Desa Padurenan, Kudus.

"Modalnya harus kuat karena lipat tiga," tutur Yeni. Lipat tiga yang dimaksud, sang pebisnis konveksi harus sanggup memenuhi biaya pembelian bahan baku, biaya operasional harian, serta sanggup menerima tunggakan dari para pengecer.

Bahan baku untuk konveksi di Padurenan biasanya berasal dari Cirebon, Jawa Barat. Rumah konveksi Lida Jaya, contohnya. Menurut Yeni, setiap minggu rumah konveksi ini membutuhkan pasokan paling sedikit 100 gulung/pis kain. "Itu tidak langsung bayar, bayarnya dicicil, pas lagi musim masuk sekolah baru dilunasi," tutur Yeni.

Selain berutang, para pelaku bisnis konveksi juga harus rela diutangi. Pasalnya, hal yang sama terjadi pula pada para pengecer. Ketika pasokan seragam diterima, para pengecer tidak harus langsung membayar. Mereka akan melunasi pembayaran ketika seragam-seragam tersebut telah laku terjual.

Dalam perputaran uang yang cukup lambat tersebut, para pelaku usaha konveksi masih harus memikirkan kebutuhan biaya operasional. Padahal, tidak sedikit karyawan maupun mesin dan peralatan yang dibutuhkan dalam sebuah bisnis konveksi. "Untuk listriknya saja, minimal Rp 2 juta per bulan untuk rumah konveksi ini," ujar Yeni.

Tak heran, Yeni kemudian memilih menghentikan usaha konveksi miliknya karena tak kuat menyesuaikan pengeluaran dan pemasukan pada musim-musim sepi. Akhirnya ia memilih menjadi pegawai di rumah konveksi milik orang lain. Lida Jaya sendiri telah berdiri sejak 20 tahun lalu. Yeni sendiri sudah tujuh tahun bekerja untuk rumah konveksi tersebut.

Seakan tidak mau usahanya terhenti di satu generasi, pemilik Lida Jaya menurunkan kepandaian mengelola bisnis konveksinya pada sang anak. Hal ini diceritakan langsung oleh Yeni. "Ini kalau khusus pakaian bawahan itu anaknya yang punya bisnis, kalau pakaian atasan itu ibunya," ujar Yeni.

Hal ini juga dilakukan oleh Umi Muhadiroh, pemilik rumah konveksi dengan merek Iqbal Fashion. Umi telah merintis usaha konveksi sejak tahun 1998. Awalnya Umi memulai bisnis konveksi karena terinspirasi dari sang kakak. "Saya mulai dari muda, awalnya saya belajar dari kakak saya. Mereka ternyata sukses karena rajin dan tekun mengelola bisnis," ujar Umi.

Belasan tahun menekuni bisnis konveksi, kini Umi sukses memasarkan sendiri baju koko dan busana muslim wanita hasil produksinya. Mulai bisnis dari muda, kini Umi sudah memiliki tiga anak. Umi berharap, dapat menurunkan bisnis konveksi hingga ke generasi selanjutnya. "Jadi sudah mulai diajari. Disuruh ke pasar-pasar mengantarkan hasil produksi," ujar Umi.

Meski lokasi rumah konveksi di Desa Padurenan berdekatan dan bisnisnya beranak pinak, warga desa ini tidak pernah bertikai soal rezeki. Menurut Yeni, setiap rumah konveksi telah memiliki bakul masing-masing.  "Kalau ada orang baru pun bakulnya enggak mau, harus ada kenalan dulu," ujar Yeni.

Umi juga mengakui tidak ada konflik dalam bisnis konveksi ini. "Persaingan sehat saja karena sama-sama teman. Wong yang setor sudah teman dan saudara semua," tutupnya.                 

(Selesai)


Reporter Nisa Dwiresya Putri
Editor Havid Vebri

USAHA IKM

Feedback   ↑ x
Close [X]