PELUANG USAHA
Berita
Menjumput untung dari sampah yang menggunung

PELUANG BISNIS PENGOLAHAN SAMPAH

Menjumput untung dari sampah yang menggunung


Telah dibaca sebanyak 9887 kali
Menjumput untung dari sampah yang menggunung

Sampah adalah masalah. Sering memang terdengar anggapan seperti itu. Namun, bagi sebagian orang, sampah justru mendatangkan rezeki, setelah mereka mengelola dan mengolahnya dengan benar.  Omzetnya mencapai puluhan hingga ratusan juta. Tertarik?

Kian tingginya tingkat konsumsi masyarakat di kota-kota besar, meninggalkan jejak permasalahan baru. Jumlah sampah yang makin menggunung. Sampah semakin banyak dihasilkan, mulai dari sampah rumah tangga, restoran, perkantoran, hingga sampah dari pabrik atau industri tertentu.

Tengok saja wilayah DKI Jakarta. Volume sampah di ibu kota ini berkisar 6.000 ton hingga 6.500 ton per hari. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, melalui Dinas  Kebersihan, kini, mengembangkan berbagai teknologi pengolahan sampah, melalui program 3R, alias reduce-reuse-recycle.

Terlepas dari upaya pemerintah untuk mengatasi persoalan sampah ini, sebenarnya ada peluang yang cukup menarik dari sampah ini. Semakin meningkatnya jumlah produksi sampah juga memperbesar peluang untuk usaha pengolahan sampah.  Pasalnya, jumlah pengolahan sampah yang sudah ada, masih belum sebanding dengan tingkat produksi sampah.

Apalagi, jumlah kompleks hunian baru atau perumahan juga terus menjamur. Bukan hanya di DKI Jakarta, pemukiman baru ini juga makin banyak terdapat di kota-kota lain. Pengelolaan sampah suatu kawasan komersial, seperti pasar, pabrik, mal, hotel dan restoran, kini bisa menjadi peluang usaha yang baru.

Hidayat, pemilik sekaligus pendiri PT Mitratani Mandiri Perdana (Mittran), salah satu perusahaan pengolah sampah, mengatakan, potensi usaha pengolahan sampah ini semakin hari semakin bagus. “Apalagi, dengan adanya UU Sampah yang intinya sampah harus diselesaikan sedekat mungkin dengan sumbernya,” jelasnya.

Hidayat mengembangkan usaha pengolahan sampah di Jatimurni, Bekasi, sejak 2007. Kini, ia pun bisa mengumpulkan omzet hingga ratusan juta rupiah. Mittran pun menjadi pengumpul sampah dari lebih 3.000 rumah tangga.  

Selain mengolah sampah yang dikumpulkan sendiri, kini Mittran membuka kemitraan bagi orang yang tertarik untuk menjalankan bisnis serupa.  Hidayat akan memberikan pelatihan tentang cara mengelola dan mengolah tanah.

Tak hanya itu, Mittran juga akan menerima hasil pengolahan sampah mitra. Mulai dari hasil sampah organik hingga sampah anorganik, seperti plastik, kertas, sampai botol kaca. “Keuntungan berjaringan adalah kami membeli semua produk sampah itu karena kami punya banyak relasi dengan berbagai perusahaan daur ulang,” jelas Hidayat. Karena banyak perusahaan daur ulang berlokasi di Jakarta, Mittran juga menerima kiriman sampah yang sudah diolah dari mitranya yang berada di Sumatra, Kalimantan hingga Sulawesi.

Apakah Anda tertarik mencoba peruntungan di bisnis sampah ini? Satu modal yang penting, untuk terjun ke bisnis ini, seperti Hidayat bilang, Anda harus mempelajari dulu seluk-beluk soal sampah. Mulai dari mengenal jenis-jenis sampah yang banyak, pengumpulan, pemrosesan hingga mengenal perusahaan penampung hasil sampah-sampah mereka. “Orang yang mau terjun ke usaha ini harus mengetahui gambaran makro dan detail soal sampah,” ujar dia.

Asal tahu saja, transaksi produk sampah yang dilakukan Mittran, saat ini, mencapai 30 transaksi atau ada 30 jenis sampah. Oleh karena itu, Hidayat pun menyarankan Anda yang memang ingin menggeluti usaha ini untuk belajar dari orang-orang yang sudah berpengalaman mengelola bisnis sampah. “Cara memisahkan sampah enggak ada di buku, khususnya untuk membedakan jenis-jenis plastik, ada yang harus dipegang, dilihat lewat warna, dan lainnya,” kata Hidayat. Bisa juga Anda menimba ilmu ke pada beberapa instansi yang memang mengadakan pelatihan soal manajemen sampah.


Angkut sampah

Pendapatan yang diperoleh dari usaha ini sebagian besar bersumber dari kegiatan pengumpulan sampah dan pengolah. Anda bisa mengambil sampah-sampah tersebut dari tempat atau tong sampah yang disebarkan ke rumah-rumah penduduk. Mittran membuat sendiri tempat sampah yang diletakkan di rumah penduduk.

Untuk mengambil sampah ini, Mittran mengutip biaya Rp 50.000 per bulan untuk setiap titik sampah yang bisa dipakai oleh dua rumah tangga sekaligus. Tapi, jumlah iuran ini juga bergantung pada kondisi warga dan lokasi pengambilan. Apalagi, kalau warga sudah memilah sampah dengan benar, mereka juga bisa menjual hasil sampahnya secara langsung.

Dalam usaha ini, biasanya, Mittran akan bekerja sama dengan pengurus rukun tetangga (RT) atau pengelola kawasan perumahan tertentu. Selain kawasan perumahan di Bekasi, Mittran juga mengelola sampah hingga ke lokasi Villa Pamulang Mas, Summarecon, dan lainnya. Klien lainnya berasal dari beberapa apartemen dengan tarif berkisar Rp 5 juta hingga Rp 20 juta per bulan.

Bisnis jasa pengangkutan sampah ini juga cukup menggiurkan. Naba yang menawarkan jasa ini mengutip biaya Rp 7 juta hingga Rp 10 juta per bulan. Kendati belum mengibarkan bendera usaha, Naba mampu menggaet perumahan dan fasilitas umum, seperti pasar, sebagai kliennya.

Naba mengatakan, peluang jasa pengangkutan sampah ini makin besar. “Banyak perumahan baru,” tutur dia. Dari jasa pengangkutan saja, keuntungan yang diperoleh bisa 40%.

Jika belum menjalin kerja sama dengan pengurus RT atau pengembang, Anda juga bisa memasok sampah dari pemilik gerobak sampah. Ini yang dilakukan Lilik Yulianto, pemilik usaha pengolahan sampah Inti 81 di kawasan Sudimara Selatan, Tangerang.

Lilik yang baru memulai usaha ini Desember lalu, mendapat pasokan dari para penarik gerobak sampah. “Saat ini, baru ada enam gerobak, karena sumber daya manusia belum mencukupi. Padahal, ada 42 gerobak yang ingin masuk,” ujar Lilik. Di luar pemilik gerobak, beberapa pengembang telah mengajaknya bekerja sama.

Sebagai pengumpul sampah, tentu saja, Anda harus menyiapkan lahan untuk melakukan proses pengolahan. Lahan ini sebaiknya tak dekat dengan permukiman penduduk. Maklum, citra sampah lekat dengan bau busuk yang menyengat. Meski bila diolah dengan segera, sampah tak akan menimbulkan bau.

Luas lahan yang diperlukan kurang lebih 600 m2. Di atas lahan tersebut, tentu saja, Anda harus menyiapkan bangunan  untuk meletakkan mesin-mesin pengolahan sampah.


Organik dan anorganik

Setelah sampah terkumpul, baru dilakukan pengolahan sampah. Pertama-tama, dilakukan proses pemilahan untuk memisahkan sampah organik dan anorganik. Proses pemilahan ini, bisa dibantu oleh sebuah mesin sortasi.

Nah, setelah terbagi dalam dua jenis sampah, masing-masing jenis akan diproses. Sampah organik bisa menjadi bahan baku kompos. Tahap pembuatannya kompos harus melalui pencacahan, pengayakan, dan pengadukan. Masing-masing tahap itu bisa dilakukan dengan bantuan mesin pula.

Supaya kompos yang dihasilkan berkualitas, Anda juga bisa menambahkan pupuk kandang di dalamnya. Seperti yang dilakukan Lilik Yulianto, pemilik usaha pengolahan sampah Inti 81 di Sudimara Selatan. Ia menambahkan kotoran sapi atau kambing dalam kompos.

Dari empat meter kubik (m3) sampah organik, Inti 81 bisa menghasilkan 50 kg kompos. Lilik pun mengemas pupuk ini dalam plastik ukuran 10 kilogram dan dijual dengan harga Rp 7.500.

Sampah anorganik membutuhkan penanganan yang lebih spesifik. Maklumlah, sampah-sampah ini selanjutnya merupakan bahan baku daur ulang.

Jika tak ingin repot, Anda bisa saja menjual sampah jenis anorganik langsung ke para pengepul. Tentu saja, untuk mendapatkan harga yang lebih baik, sampah-sampah anorganik tersebut harus kembali disortir. Sampah dipisahkan berdasarkan bahannya, yakni sampah plastik, kertas, kaleng, beling (kaca) dan lainnya.

Khusus sampah plastik, bisa dipilah-pilah lagi berdasarkan jenisnya. Penyortiran semacam itu perlu karena masing-masing jenis plastik harganya berbeda. Pemisahan sederhana bisa dilakukan, seperti kantong plastik, gelas dan botol dari air minum kemasan, plastik emberan dari kemasan sabun, sampo dan lainnya. Harga sampah plastik itu mulai dari Rp 500 hingga Rp 2.500 per kilogram.

Harga jual juga berbeda jika sampah-sampah tersebut dalam kondisi bersih. Namun, untuk proses pembersihan ini, Anda juga harus mempunyai mesin untuk mencuci sampah plastik tersebut, Setelah terkumpul, baru sampah dipres untuk selanjutnya ditimbang.

Dari pengolahan berbagai sampah anorganik ini, Mittran mencatatkan omzet dengan nilai berkisar Rp 3 juta–Rp 5 juta per hari. Dari situ, Hidayat pun menghitung, profit yang diperoleh bisa mencapai 20%.

Untuk pengadaan mesin-mesin pengolah sampah, menurut Hidayat, ada baiknya melihat potensi ekonomi usaha ini. Anda bisa saja menyewa mesin ini terlebih dulu. Banyak produsen mesin, yang juga bersedia menyewakan mesin-mesin pengolah sampah.

Harga mesin sendiri bervariasi, mulai dari Rp 35 juta hingga Rp 75 juta per unit. Sementara, tarif sewa mesin mulai dari Rp 35.000 hingga Rp 60.000 per hari. Namun di luar tarif sewa tersebut, Anda juga harus menyiapkan uang jaminan yang nilainya mencapai puluhan juta. “Dengan sewa, bisa mengantisipasi jika usaha ini tidak menguntungkan uang bisa kembali,” pesan Hidayat.    

Editor: Tri Adi
Telah dibaca sebanyak 9887 kali



Syarat & Ketentuan Komentar :
  1. Tidak memuat isi bohong, fitnah, sadis dan cabul.
  2. Tidak memuat isi yang mengandung prasangka dan kebencian terkait dengan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta menganjurkan tindakan kekerasan.
  3. Tidak memuat isi diskriminatif atas dasar perbedaan jenis kelamin dan bahasa, serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa, atau cacat jasmani.
  4. KONTAN memiliki kewenangan mutlak untuk mengedit atau menghapus komentar yang bertentangan dengan ketentuan ini.

LIPSUS

LIPSUS Update

  • Risiko berbeda, premi tiap daerah seharusnya berbeda juga

    +

    Dalam uji coba pertama, Jasindo mengkover 600 hektare (ha) lahan dengan biaya premi Rp 100 juta.

    Baca lebih detail..

  • Agar sukses, perlu insentif bagi penyuluh lapangan

    +

    Program asuransi pertanian menjadi salah satu upaya pemerintah untuk melindungi petani dari efek perubahan iklim. Hanya saja masih banyak kekurangan yang ditemui, seperti kurangnya sosialisasi dan tidak adanya insentif bagi penyuluh pertanian lapa

    Baca lebih detail..