: WIB    —   
indikator  I  

Menularkan kreativitas sembari tambah penghasilan

Menularkan kreativitas sembari tambah penghasilan

KONTAN.CO.ID - Mempunyai keahlian membatik, Bagus Prabowo, membangun ruang komunitas Frog House pada 2012 lalu, di Imogiri, Yogyakarta. Dengan Frog House, ia ingin  anak muda lebih produktif.

Awalnya, ada lima orang anak muda yang bergabung. Selain berbagi pengalaman dan ketrampilan, mereka membuat batik tulis dengan motif kontemporer.

Tema yang diambil adalah kehidupan, seperti pemandangan bawah laut. Warnanya pun dibuat mencolok sehingga menarik perhatian. "Tema ini dipilih supaya beda dan mudah pembuatannya," ujar Yohana Raharjo, istri Bagus Prabowo dan juga pemilik Frog House.  

Selain anak muda, ada juga ibu-ibu rumah tangga yang turut serta. Yohana mengajak mereka supaya ibu-ibu tersebut berkesempatan mendapat penghasilan tambahan.

Dalam sebulan, Frog House bisa menghasilkan 50-60 lembar kain batik. Hasilnya dijual melalui butik dan hotel yang berada di Bali. Selain itu, dia membuka penjualan online melalui media sosial.

Harganya dibandrol mulai dari Rp 800.000 hingga Rp 4 juta. Dalam sebulan, rata-rata batik produksi Frog House terjual 30 lembar kain.

Tak hanya batik, ruang komunitas ini juga membuat produk unik lainnya, yaitu kacamata bambu. Yang menarik, bahan baku bambu ini merupakan limbah dari pabrik furnitur.

Ide produksi kacamata bambu ini muncul saat melihat karakter bambu yang lebih mudah dibentuk dan tersedianya sisa bambu petung.  Produk ini baru dilaunching pada September 2016 lalu. Namun, lantaran proses pembuatannya masih handmade, produksinya  terbatas sekitar 10 unit per minggu.

Sama seperti batik kontemporer, kacamata bambu ini juga dijual melalui galeri yang ada di Bali. Harga sepasang kacamata ini Rp 450.000. Penjualannya dalam sebulan mencapai 10 unit.

Yohana menjelaskan,  setiap orang yang mendapatkan pendapatan dari produksinya diminta untuk memberikan kontribusi 10% kepada Frog House sebagai biaya maintanance produksi.

Untuk urusan produksi, perempuan lulusan University of New South Wales, Australia ini mengaku tidak menghadapi masalah yang berarti. Karena, para perajin selalu bertukar pikiran dan belajar secara otodidak untuk menghasilkan karya baru.

Hambatan justru datang dari karakter individu yang bergabung, lantaran ak semua bisa bekerja dalam tim. "Bila sifat egois dan individualisnya tinggi, maka lama kelamaan dia akan tergerus karena kami disini konsepnya saling berbagi," tegasnya.

Kedepan, dia bakal membuat produk baru yaitu keramik. Yohana ingin mendorong warga  membuat kerajinan tersebut. Sebab, di Imogiri dulu dikenal sebagai pusat produksi keramik.


Reporter Tri Sulistiowati
Editor Johana K.

SOCIAL ENTREPRENEUR

Feedback   ↑ x