: WIB    —   
indikator  I  

Menyeruput secangkir kopi di teras warga (3)

Menyeruput secangkir kopi di teras warga (3)

Meski aktifitas kopi kian populer, potensi pasar ini belum dirasakan oleh para petani sekaligus produsen kopi di Kelurahan Gombengsari, Banyuwangi. Mereka mengaku masih kesulitan memasarkan kopi bubuk miliknya.

Terangkatnya pamor kopi lokal juga meningkatkan persaingan. Maklum, hampir setiap daerah memiliki kopi lokal dengan ciri khas masing-masing. "Persaingan di luar sana sudah cukup ketat," kata Ali, petani dan produsen kopi.  

Tidak ingin tersingkir, ia terus memperbaiki kemasan produknya. Mulai dari penyempurnaan logo, penggunaan kemasan aluminium, sampai menjaga kualitas produk.

Sayangnya, sampai saat ini konsumen terbesarnya masih berasal dari Banyuwangi. Dia pun masih mengandalkan cara promosi konvensional, yakni info dari mulut ke mulut.

Dalam sebulan, Ali bisa memproduksi 60 kg kopi bubuk. Selain menggiling kopi hasil kebun sendiri, dia juga membeli biji kopi petani lainnya.

Saat mendekati Idul Fitri, jumlah produksi bisa meningkat dua kali lipat. Ali harus memenuhi pesanan pelanggan sebanyak 1,5 kuintal kopi bubuk.  

Kedepan, dia berharap bisa memperluas pasar produknya. Namun, dia masih khawatir soal kebutuhan modal. "Untuk produksi lebih besar, butuh dana yang besar juga," jelasnya. Ali pun masih enggan mengajukan utang bank karena takut tak bisa  mengangsur tiap bulan.

Produsen dan petani lainnya adalah Nita Senduk. Berbeda dengan Ali, Nita mengatakan hambatan terbesarnya saat ini adalah pengolahan. Nita mengakui belum banyak pengalaman.
Selain itu, harga biji kopi yang rendah juga menjadi kendala. Harga biji kopi di sini sekitar Rp 24.000-
Rp 25.000 per kg.

Tidak ingin kalah bersaing dengan pemain lainnya, Nita mengemas kopi GNC miliknya semenarik mungkin. Ia juga memakai kemasan aluminium, lengkap dengan logo dan gambar kopi.

Kedepan, dia berharap dapat mengemas bubuk kopinya dalam kemasan standing. Sayangnya, bentuk tersebut tidak diproduksi di Banyuwangi. Sehingga, dia harus pesan dari luar kota. Saat ini, dia membeli kemasan dari sekitar Banyuwangi dan Surabaya.

Untuk pemasarannya, perempuan berhijab ini sudah menggunakan media digital serta membuka gerai pribadi yang juga berada di Kelurahan Gombengsari.

Banyaknya jumlah petani dan produsen kopi tidak membuat persaingan memanas di wilayah ini. Pasalnya, semua produsen bersatu untuk saling melengkapi dan memasarkan produk secara bersama-sama.

Bila tidak ada kendala, tahun 2018 nanti perkebunan kopi Gombengsari bakal menjadi perkebunan organik. Kini petani terus membenahi lahannya dengan membersihkan tanaman liar di dalam perkebunan.                       

(Selesai)


Reporter Tri Sulistiowati
Editor Johana K.

SENTRA UKM

Feedback   ↑ x