: WIB    —   
indikator  I  

Merajut omzet puluhan juta dari sepatu serat alam

Merajut omzet puluhan juta dari sepatu serat alam

KONTAN.CO.ID - Produk ramah lingkungan kian ramai bermunculan, seiring gencarnya kampanye go green. Jenis produknya pun kian beragam dan kreatif.

Mendukung gerakan ramah lingkungan ini, Ahmad Yasin Saipulloh mendobrak pasar dengan produk sepatu serat alam, seperti serat rami, sutra, pisang abaca, akar wangi dan serabut kelapa. "Kedepan produk ramah lingkungan akan banyak dicari orang," ujar Yasin. Selain itu, ketersediaan serat alami  cukup melimpah dan belum dimanfaatkan maksimal.  

Mengawali bisnis awal tahun 2016 lalu, Yasin memberi nama produknya Ayasins. Sampai sekarang, sudah ada puluhan model sepatu kategori unisex yang dibuatnya.

Sepatu yang diproduksi di Bandung, Jawa Barat ini sudah terbang ke beberapa kota, seperti Surabaya, Jakarta dan Medan. Bahkan, tidak jarang para wisatawan  menjadikan Ayasins sebagai buah tangan saat kembali ke negaranya.

Masih menggunakan cara tradisional dalam proses pembuatannya, anak sulung dari tiga bersaudara ini mematok harga jual produknya cukup mahal. Harganya mulai Rp 350.000-Rp 1,5 juta. Total penjualannya sekitar Rp 50 juta per bulan.

Dalam sebulan, total produksinya sekitar 500 pasang. Selain sepatu, Yasin juga membuat tas yang dapat dipesan sesuai selera. Untuk membuat berbagai produk fesyen ini, ia mempekerjakan 12 karyawan.

Guna memenuhi kebutuhan bahan baku sepatu maupun tas, dia menjalin kerjasama dengan beberapa mitra. Tidak tanggung-tanggung, ada beberapa bahan yang langsung didatangkan dari Sulawesi Utara dan Aceh.

Sedangkan, untuk proses pembuatan produk setengah jadi alias pemintalan serat menjadi kain, dia juga menjalin kerjasama dengan seorang  mitra yang juga berada di Bandung.

Menjalani usahanya selama dua tahun, kendala yang didapatkan adalah susahnya menembus pasar kaum urban. Dia mengaku, hingga saat ini masih terus melakukan edukasi terkait produk-produk ramah lingkungan. "Masalahnya konsumen itu kalau beli sepatu pasti dilihat dari modelnya yang lucu, sedangkan bahan bakunya tidak pernah menjadi perhatian bagimereka," tambahnya.

Ajang pameran, bazar, dan juga fashion show menjadi media edukasi. Karena, dia bisa langsung menjelaskan perbedaan produknya.

Kedepan, Yasin dia berharap produknya dapat menembus pasar mancanegara. Makanya, dia rajin mengikuti berbagai pameran skala internasional.

Selain itu, dia juga terus menambah kapasitas produksinya untuk memenuhi permintaan konsumen. Karena keterbatasan produksi, dia sempat menolak pesanan buyer asal Jepang yang memesan dalam jumlah besar.


Reporter Tri Sulistiowati
Editor Johana K.

PROFIL PENGUSAHA

Feedback   ↑ x
Close [X]