: WIB    —   
indikator  I  

Merajut omzet ratusan juta dari kain tradisional

Merajut omzet ratusan juta dari kain tradisional

KONTAN.CO.ID - Berawal dari toko kecil milik sang ayah, kini Robert Maruli Tua Sianipar sukses berbisnis ulos. Di bawah bendera Galeri Ulos Sianipar, dia membuka sejumlah galeri di luar Medan. Bahkan, hingga Penang, Malaysia.

Tak hanya ulos, Robert juga memproduksi kain tradisional hingga baju siap pakai. Hingga kini, dia masih menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM).

Pusat produksi masih dilakukan di kota Medan.  Pertimbangannya, efisien mencari penenun serta biaya produksi lebih murah.

Sekarang, jumlah penenun yang membantunya dalam tahap produksi ada sekitar 200 orang. Dalam sehari, mereka mampu menghasilkan 200 sampai 300 lembar kain tenun.

Hasilnya banyak didistribusikan disekitar kota Medan, Siantar, Tarutung, Palembang, Jakarta, Lampung, Papua, dan kota lainnya. Selain sudah mondar -mandir dipasar lokal, tenun miliknya banyak diborong wisatawan mancanegara.

Dia mengaku pernah mendapatkan permintaan 1.500 lembar kain untuk dikirimkan ke Jerman dan 1.000 lembar untuk diterbangkan ke Amerika. Disana, kain tersebut digunakan untuk suvenir.

Banderol harga kainnya cukup bervariasi, tergantung ukuran serta desain. Paling murah Rp 15.000 sampai yang paling mahal Rp 6 juta per helai. Dalam sebulan, dia dapat mengantongi omzet lebih dari Rp 100 juta.

Saat musim libur sekolah, permintaan pun dapat meningkat. Sebab, pada waktu-waktu libur sekolah banyak orang yang menggelar pesta. Alhasil, kebutuhan kain tenun sebagai busana atau aksesorisnya meningkat. Momen lainnya adalah saat perayaan Natal.

Meski produksinya besar, Robert tak pernah terkendala dalam urusan pengadaan bahan baku. Dia menjalin kerjasama dengan pabrik asal Bandung, Jawa Barat.

Sekadar info, ayah dua anak ini tak melakukan tahap pewarnaan sendiri. Sebab, dia tidak mengantongi ijin dari pemerintah daerah  setempat untuk proses tersebut. "Dulu saya melakukan pewarnaan sendiri, karena masalah lingkungan akhirnya ijin dicabut sekitar 1998,"  jelasnya.                     


Reporter Tri Sulistiowati
Editor Johana K.

PROFIL PENGUSAHA

Feedback   ↑ x
Close [X]