: WIB    —   
indikator  I  

Merajut untung dari suwar-suwir ayam

Merajut untung dari suwar-suwir ayam

KONTAN.CO.ID - Pesona makanan tradisional sulit untuk dilupakan. Citarasanya yang khas seolah lekat di lidah dan senantiasa membuat ketagihan. Meski banyak bermunculan menu makanan baru, belum lagi jenis menu baru dari luar negeri, sajian asli Indonesia masih menjadi pilihan utama. Hal itulah yang dirasakan oleh I Made Yusdi dan Devina Hartono.

Kecintaannya akan citarasa makanan lokal, mengantarkan mereka untuk membangun bisnis kuliner dengan merek Suwar-Suwir pada Maret 2015. Seperti namanya, jenis produknya adalah olahan daging ayam dan sapi yang dicampur dengan berbagai macam rempah dan kemudian disuwir atau disobek menurut serat dagingnya.  

Sebelum mengawali bisnisnya, Devina melihat potensi bisnis suwiran daging ini akan terus tumbuh. Sebab, kedua lauk ini bisa diterima oleh semua kalangan.  

Devina menjual olahan ini dalam lima pilihan. Yakni ayam suwir sambel mata, kecombrang, betutu, srundeng, srei, dan sapi suwir cabe. Harganya Rp 30.000-Rp 40.000 per porsi. Dalam satu porsi, isinya nasi, ayam atau daging suwir, bakwan jagung, dan sayur.

Selain itu, dia juga menyiapkan daging suwiran saja. " Biasanya produk itu banyak dicari saat momen hari besar atau saat bazar," kata Devina.  Harganya Rp 250.000 per kg.  

Dalam sehari, rata-rata penjualannya mencapai 100-200 porsi. Saat akhir pekan, penjualannya pun dapat meningkat. Sementara, saat hari raya keagamaan, seperti Idul Fitri, Natal dan Tahun baru, permintaan bisa naik hingga 30%.

Menyasar konsumen pekerja kelas menengah, Devina memasarkan produknya di beberapa lokasi di Jakarta. Seperti area perkantoran Sahid Sudirman, Grand Indonesia dan Dapur Kita. Untuk memperluas pasar, dia juga menjalin kerjasama dengan aplikasi ojek online Gojek.

Devina mengaku, sampai saat ini konsumennya masih berasal dari wilayah Jabodetabek. Dia masih enggan untuk ekspansi ke luar kota karena bisnisnya masih skala rumahan. Selain itu, produknya tanpa pengawet, jadi tak bisa bertahan lama.

Produksi Suwar-Suwir dilakukan di dapur pusat yang berada di Cinere, Jakarta Selatan. Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku berupa daging ayam dia menjalin kerjasama dengan pemasok dari Tangerang, Banten, Jawa Barat. Bumbu lainnya dia beli dari Pasar Induk di Jakarta dan Bogor.

Tapi, khusus kecombrang, Devina membelinya langsung dari petani asal Bogor. " Ini cukup sulit dipasaran dan biasanya harganya naik turun jadi, agar lebih mudah langsung ke petani," tambahnya.

Dia mengklaim kelebihan produknya adalah rasa yang khas, tidak menggunakan MSG, pengawet, serta kemasan yang higienis dan modern.      


Reporter Tri Sulistiowati
Editor Johana K.

PROFIL PENGUSAHA

Feedback   ↑ x
Close [X]