: WIB    —   
indikator  I  

Merintis bisnis pomade bermula dari tugas kuliah

Merintis bisnis pomade bermula dari tugas kuliah

KONTAN.CO.ID - Siapa sangka, tugas kuliah bisa membuka pintu sukses bagi Michael Mathew dan ketiga temannya. Berawal dari tugas mata kuliah Business Creation, empat mahasiswa Prasetya Mulia kini bisa merengkuh omzet miliaran dari bisnis pomade.  

Bisnis ini dirintis pada  2013. "Kami buat pomade karena saat itu sedang booming. Yang mencetuskan pomade itu Michael Nugroho, CEO kami," terang Mathew. Melihat prospek yang bagus, mereka pun sepakat untuk menekuni bisnis pomade yang diberi nama Smith Pomade ini lebih serius.  

Smith Pomade pertama kali dijual di sebuah bazar. Kala itu, hanya 20 kaleng pomade yang dijual sebagai permulaan. Tak disangka, Smith Pomade perdana ludes, bahkan banyak pesanan yang datang. "Waktu itu, semuanya homemade, tangan sampai keriting,"  kata Mathew.

Pomade Smith Men Supply perdana keluar dengan tiga variasi semua dengan tekstur oil based pomade, yakni bold hold, premium medium dan fine shine. Kini, ketiga varian oil based pomade tersebut dibanderol Rp 95.000 per kaleng.

Mathew menjelaskan oil based pomade milik Smith ini membuat rambut pria jadi sangat rapi dan mengkilat lebih lama dibanding pomade lainnya. Meski kekurangannya, efek pomade agak sulit hilang jika hanya sekali keramas.

Menjawab tantangan itu, tahun 2015 Mathew dan koleganya kembali berinovasi dengan meluncurkan dua varian baru. Awal Juli 2017, Smith Men Supply meluncurkan produk premium.  

Total, ada tiga varian baru yang keluar sejak 2015, yaitu water based pomade, hair wax dan Smith Premium. Harganya mulai dari Rp 100.000 hingga Rp 160.000 per kaleng. "Pelanggan tinggal membeli sesuai dengan kebutuhannya," tutur Mathew.

Saat ini, masing-masing varian diproduksi minimal 5.000 kaleng per bulan. Produksinya juga tak lagi homemade, tapi di pabrik.  

Praktis, Smith Men Supply sedikitnya memproduksi 30.000 kaleng pomade setiap bulannya. Dengan memproduksi puluhan ribu pomade, omzet yang dikantongi Mathew dan kawan-kawan mencapai miliaran rupiah.


Reporter Elisabeth Adventa
Editor Johana K.

0

Feedback   ↑ x
Close [X]