: WIB    --   
indikator  I  

Merintis usaha sarung tangan modal pas-pasan (2)

Merintis usaha sarung tangan modal pas-pasan (2)

JAKARTA. Berbekal pengalaman dalam memproduksi sarung tangan, Ngatino nekad mendirikan usaha sarung tangan pribadi dibawah bendera CV Deschino Sport. Modalnya pun diambil dari kantong pribadi yang jumlahnya sangat pas-pasan. Sayang, ia tidak mau menyebut nilainya.

Modal tersebut digunakan untuk menyewa rumah kontrakan yang dilengkapi dengan lima unit mesin jahit dan beberapa karyawan. "Uang muka order juga menjadi modal produksi saya," katanya pada KONTAN, Minggu (9/4).

Di tengah keterbatasan modal, untungnya ada seorang buyer yang menawari modal pinjaman berupa mesin. Buyer ini mau meminjami modal karena  senang dengan hasil produksinya dan cara bayarnya pun dapat diangsur.

Asal tahu saja, saat membuka usaha tersebut, pria yang akrab disapa Tino ini masih tercatat sebagai salah satu pegawai di perusahaan produk olahraga. Setelah tahun kedua, dia mulai memutuskan untuk fokus menjalankan usaha pribadinya secara maksimal.

Banyak mendapatkan bantuan, tidak membuat Tino selalu beruntung. Di tahun ketiga pasca pembukaan usahanya, dia sempat menanggung rugi miliaran rupiah karena pembayaran macet dari salah satu konsumennya.

Dia mengaku, hal itu berdampak bagi keberlangsungan usahanya. Maklum saja, saat itu dia masih merintis usahanya.

Pantang menyerah, Tino terus memproduksi pesanan sarung tangan konsumen. Bahkan, dia menjalin mitra dengan beberapa produsen sarung tangan untuk memenuhi pesanan konsumen. Sampai sekarang, dia bekerjasama dengan empat orang produsen yang berlokasi di Yogyakarta.

Banyak mendapat pesanan, bapak empat anak ini terus mengembangkan jenis produksinya. Adapun produk paling baru adalah penutup kelapa pada helm, masker, dan manset lengan. Tidak hanya itu, dia juga sedang membangun pabrik baru yang berlokasi di Yogyakarta.

Bila tidak ada halangan, pabrik tersebut akan siap dioperasikan setelah hari Raya Idul Fitri tahun ini. " Itu pabrik untuk produksi barang non kulit," ujar pria 50 tahun ini.

Dengan begitu, jumlah produksi barang khusus non kulit di pabrik lama dapat ditingkatkan. Tino menargetkan, produksi dapat mencapai 50.000 pasang produk kulit saban bulannya.

Untuk urusan pemasaran dan mencari pelanggan baru, Tino masih banyak terlibat. "Pernah bekerja di perusahaan produksi sarung tangan jadi modal untuk memikat konsumen," katanya sambil tertawa. 

Ajang pameran di berbagai kota juga menjadi andalannya untuk mendapatkan konsumen.                             

(Bersambung)


Reporter Tri Sulistiowati
Editor Havid Vebri

USAHA IKM

Feedback   ↑ x
Close [X]