: WIB    --   
indikator  I  

Omzet ratusan juta dari hobi kerajinan tangan (3)

Omzet ratusan juta dari hobi kerajinan tangan (3)

KONTAN.CO.ID - Sudah sejak tahun 2010, Muhamad Bashir Khan mulai membuat karya kerajinan dari bahan kulit dan kayu. Ide bisnis tersebut mencuat setelah pria yang biasa disapa Cie itu melihat banyak hamparan potongan kulit sisa produksi sepatu di Bandung.

Dua tahun tekun menggarap kerajinan kulit, Cie mulai memasarkan buah tangannya pada tahun 2012. Hasilnya, usaha itu berkembang sampai sekarang.

Ide kreatif Cie yang peka mengendus peluang bisnis berasal dari sang orang tuanya sendiri. Sejak kecil, Cie sudah diperkenalkan dengan kegiatan wirausaha. "Ibu saya pebisnis juga, dari kecil sudah bantu-bantu," tuturnya kepada KONTAN.

Saat masih duduk di bangku sekolah dasar, Cie sempat berjualan es dan nasi kuning. Sepulang dari sekolah pun ia ikut membantu usaha sang ibu berjualan di pasar.

Begitu pula saat lulus sekolah,  Cie sempat mencoba beberapa ragam usaha.  Cie bilang,  sejak tahun 2006 dia sudah mencoba beberapa peluang usaha yang ada.  Mulai dari berjualan burger,  aksesori,  hingga akhirnya berlabuh di aksesori kulit dan kayu.

Perjalanan panjang yang dilalui Cie dalam membesarkan Droplets Indonesia juga tak bisa dibilang mudah alias tinggal membalikkan tangan saja. "Kami ada cerita jualan tidak laku sampai tertipu, " ujar pria kelahiran 25 Agustus 1987 tersebut. Bahkan,  awalnya produksi Droplets hanya menggunakan limbah kulit.

Selain itu,  kendala yang hingga sekarang masih dirasakan Cie menghantui usahanya adalah soal sumber daya manusia. Di awal bisnis,  Cie sempat bermitra dengan teman-temannya sendiri.  "Kami awalnya mulai dengan dua hingga tiga orang teman," imbuhnya.

Ia akui kalau mulai belajar berbisnis bersama para teman memang lebih menyenangkan. Selain bisa berdiskusi dengan lebih nyaman,  bentuk toleransi pun biasanya lebih besar dibandingkan bermitra dengan orang yang belum dikenal.  

Hanya saja,  lama kelamaan Cie tidak menampik bahwa bekerja dengan teman punya nilai plus dan minus. Sisi minusnya yakni sulit bersikap profesional. "Usaha ini memang berjalan berkat teman-teman. Tapi saya sulit untuk profesional akhirnya saya mengeluarkan (teman)," ucapnya.

Beragam masalah memang sudah bakal muncul saat berwirausaha bersama teman. Beda pendapat bisa berujung menjadi kurang baik. Berdasarkan pengalaman inilah   Cie menyarankan pada pelaku usaha baru agar lebih berani untuk memulai usaha sendiri.

Soal produksi,  Cie tak mengalami banyak kendala.  Pasokan bahan baku hingga saat ini masih terus tercukupi. Kurang puas dengan bahan kulit dalam negeri,  Cie mengakali dengan mendatangkan bahan baku kulit dari luar negeri  

Proses produksi pun berjalan relatif lancar. Dalam tujuh hari,  Cie sudah bisa menghadirkan kerajinan kulit dan kayu ke tangan pelanggan. Produknya pun awet hingga tahunan.  "Asal jangan basah dan ditaruh di tempat lembab, " saran Cie.

Melihat hasil yang positif tersebut, Cie terus mengembangkan usahanya.  Produk-produk baru pun sedang dalam percobaan dan siap diluncurkan.

Seperti nama usaha yang didirikannya,  Cie menyimpan harapan besar pada Droplets Indonesia.  "Droplets itu kan artinya tetesan air.  Air itu kan sumber kehidupan.  Saya harapannya Droplets bisa seperti itu," tutupnya.          

(Selesai)


Reporter Nisa Dwiresya Putri
Editor Johana K.

0

Feedback   ↑ x
Close [X]