PELUANG USAHA
Berita
Pasokan batu datang dari Yogyakarta & Bali (2)

SENTRA KERAJINAN BATU PADAS, BY PASS, BALI

Pasokan batu datang dari Yogyakarta & Bali (2)


Telah dibaca sebanyak 1358 kali
Pasokan batu datang dari Yogyakarta & Bali (2)

BALI. Sentra kerajinan batu Jalan Bypass, Denpasar tidak pernah sepi dari aktivitas produksi. Setiap hari kawasan ini selalu riuh oleh suara pahat beradu batu.

Ada lebih dari 50 tempat produksi sekaligus perdagangan kerajinan batu padas di sana. Seperti saat Kontan menyambangi kawasan ini pekan lalu. Nampak kesibukan para perajin membuat aneka ukiran dari batu.

Seperti di kios kerajinan batu Juwita Jaya 2. Salah satu perajin tampak membuat relief bernuansa alam. Sementara perajin lainnya sibuk membuat ukiran ventilasi dari batu.

Komang Apel, pengelola Juwita Jaya 2 mengungkapkan, setiap hari, bengkel kerjanya bisa memproduksi beberapa patung kecil atau ventilasi berukuran 30 centimeter (cm) m x 30 cm. Sementara, untuk produksi patung berukuran sedang, relief maupun air mancur, lama pengerjaannya memakan waktu empat hari sampai dua minggu.

Di Juwita Jaya, seluruh kerajinan dibuat dari bahan batu paras. Ada batu paras berwarna putih bersih yang bahan bakunya dibeli dari Yogyakarta. Selain itu ada juga batu paras berwarna keabuan dan sedikit lebih kasar teksturnya. "Kalau yang abu-abu ini kami beli batunya dari daerah Bali," ujar Komang.

Komang menjelaskan, ada dua proses pembuatan batu paras. Pertama langsung dipahat dan diukir. Proses ini biasanya untuk pembuatan relief dan patung berukuran kecil ataupun sedang. Batu yang sudah ada dipotong sesuai ukuran yang diinginkan. Setelah itu langsung dipahat dan diukir.Sedangkan pembuatan relief, khususnya ukuran ada proses penempelan, misal relief berukuran 3 meter (m) x 4 m.

Pembuatannya menggunakan enam hingga delapan batu yang dipahat terpisah. Setelah itu, relief disambungkan dengan baut khusus.

Proses kedua dengan menggunakan cetakan atau kerangka terlebih dahulu. Batu yang ada akan dihancurkan. "Kalau mau membuat air mancur, batunya dicampur lagi dulu dengan semen dan pasir," terang Komang.

Dengan begitu, batu akan lebih mudah dibentuk sesuai keinginan. Proses ini juga dilakukan dalam membuat patung berukuran besar.

Langkah pertama, perajin akan membuat kerangka dari besi ataupun kawat. Lalu, bagian luarnya ditempeli adonan batu padas mengikuti kerangka yang sudah dibuat.  Setelah kering, patung tersebut sudah setengah jadi.

Perajin lalu melakukan pengukiran dan pemahatan yang sifatnya mempertajam lekukan patung. Cara Ini ditempuh karena akan jauh lebih memudahkan perajin.

Agung, pengelola usaha Sari Mulya menambahkan, proses pembuatan patung berukuran besar lebih sulit karena memakai bongkahan batu sangat besar. "Pemahatannya memakan waktu lebih lama. Makanya, pembuatan patung besar dan air mancur biasanya campuran," jelasnya.

Di Sari Mulya, selain batu padas, ada pula kerajinan batu alam. Pasokan batu alam kebanyakan didatangkan dari Yogyakarta yang biasa disebut batu palimanan.

Kelebihan batu palimanan warnanya putih dan semakin indah jika terkena matahari. Batu alam juga bisa tahan hingga puluhan tahun. (Bersambung)

Telah dibaca sebanyak 1358 kali



Syarat & Ketentuan Komentar :
  1. Tidak memuat isi bohong, fitnah, sadis dan cabul.
  2. Tidak memuat isi yang mengandung prasangka dan kebencian terkait dengan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta menganjurkan tindakan kekerasan.
  3. Tidak memuat isi diskriminatif atas dasar perbedaan jenis kelamin dan bahasa, serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa, atau cacat jasmani.
  4. KONTAN memiliki kewenangan mutlak untuk mengedit atau menghapus komentar yang bertentangan dengan ketentuan ini.

LIPSUS

LIPSUS Update

  • Bisnis properti tiarap dulu

    +

    Industri properti menyambut 2014 dengan pesimistis.

    Baca lebih detail..

  • Mobil baru bermunculan kendati pasar stagnan

    +

    Pelemahan ekonomi membuat pasar otomotif tak melaju cepat.

    Baca lebih detail..