: WIB    --   
indikator  I  

Penjual sempe beromzet ratusan juta

Penjual sempe beromzet ratusan juta

Siapa tak kenal rambut nenek. Di Yogyakarta, cemilan ini lebih sering disebut arumanis dan kadang kala disajikan bersama sempe. Di Jawa Timur, orang menyebutnya sebagai opak.

Ide bisnis sempe arumanis diakui Ardi Sahami datang dari pengalamannya menjadi sales di sekitar tahun 2000-an. Profesi ini ia tekuni sebagai pekerjaan sampingan. Sementara ia yang kala itu berstatus sarjana muda, aktif pula bekerja di salah satu lembaga swadaya masyarakat di Yogyakarta.

Menjadi seorang sales memang bukanlah pekerjaan impian Ardi. Karena itu, ia memasang target jenjang karir untuk dirinya sendiri. Merasa kurang wibawa, Ardi berjanji pada dirinya untuk menjadi sales tak lebih dari lima tahun.

Dengan semangat untuk mengembangkan diri, akhirnya pada tahun 2003, Ardi sudah tak lagi berkeliling menjajakan produk makanan. Dengan bantuan empat karyawan, Ardi mulai menjadi agen penjualan arumanis. “Produknya masih ambil dari juragan, belum pakai merek sendiri,” jelasnya.

Sekitar tujuh tahun waktunya dihabiskan menjadi agen sembari merancang langkah untuk meningkatkan kapasitas diri. Ardi tak terpaku pada satu pundi uang. Sembari memasarkan arumanis, ia juga menawarkan jasa lembaga pelatihan.

Mulai tahun 2005, Ardi aktif memberikan pelatihan guna pengembangan SDM. Tak perlu heran, karena Ardi memang lulusan Fakultas Dakwah IAIN Yogyakarta. Urusan latih-melatih juga sudah menjadi bidang keahliannya. Namun, layanan ini hanya berjalan kurang lebih 5 tahun.

Di tahun 2010, Ardi mulai fokus mengembangkan usaha. Ia sudah ambil ancang-ancang untuk produksi sempe aromanis sendiri. Keinginannya terwujud di tahun 2011, ia resmi memproduksi massal Sempe Arumanis H. Ardi. Produknya langsung dipasarkan di Yogyakarta.

Bagi Ardi, bisnis snack ini terasa menggiurkan. Selain karena ia dapat mempertahankan eksistensi sempe arumanis sebagai makanan tradisional, ia juga melihat peluang yang besar baik dipandang dari segi pasar maupun kompetitor.

“Banyak produk yang pernah saya jual, mulai dari kacang atom, emping jagung, onde-onde, kripik pisang pun pernah,” ujar Ardi saat mengawali kisahnya. Namun, menurut Ardi, sempe aromanis adalah produk yang mampu bertahan lama di pasaran. Permintaan yang tinggi terhadap produk tersebut, menurutnya tak berimbang dengan jumlah produsen.

Ardi mengisahkan, bahwa jaman dahulu, aromanis dan sempe tak asing, karena jajanan ini banyak dijual di sekolahan. “Sekitar tahun 80-an mulai hilang, karena orang cenderung beralih ke makanan modern,” ujar Ardi.

Selain itu, proses pembuatan sempe arumanis juga tak mudah. Hal ini pula yang menurut Ardi turut menggerus jumlah produsen sempe arumanis. Padahal, cemilan ini masih diminati hingga saat ini. Menganggap hal itu sebagai peluang, Ardi kini sukses memasarkan arumanis.

Sempe Arumanis H. Ardi kini tembus di 4.000 toko yang tersebar di seluruh pulau Jawa. Setiap hari produksinya capai 1.000 pieces. Dijual dengan harga terjangkau yani Rp 1.500-Rp 13.000, Ardi bisa raup omset hingga Rp 200 juta dalam satu bulan.

(Bersambung)


Reporter Nisa Dwiresya Putri
Editor Johana Ani K.

USAHA IKM

Feedback   ↑ x
Close [X]