: WIB    —   
indikator  I  

Pengganti dompet jadul yang aman

Pengganti dompet jadul yang aman

KONTAN.CO.ID - Miris. Masih banyak penduduk Indonesia yang menyandang status unbanked society. Mereka tidak memiliki rekening bank tradisional ataupun akses langsung ke layanan perbankan.

Y Combinator menyebutkan, sekitar 64% penduduk negara kita masih unbanked. Jumlah ini mencerminkan 120 juta orang dewasa dan 80 juta anak-anak.

Tapi, menurut perusahaan modal ventura yang berpusat di Silicon Valley, Amerika Serikat itu, separuh dari orang dewasa yang unbanked itu ialah pengguna ponsel cerdas.

Tahun ini, eMarketer mencatat, pengguna aktif smartphone di Indonesia mencapai 86,6 juta orang. Lembaga riset pemasaran digital asal negeri Uak Sam tersebut memperkirakan, tahun depan jumlahnya bertambah menjadi 103 juta orang.

Nah, Hendra Kwik, pendiri Payfazz, mengungkapkan, keterbatasan akses ke perbankan itu justru berbanding terbalik dengan permintaan masyarakat unbanked terhadap layanan keuangan yang bisa membantu aktivitas mereka dalam transaksi pembayaran online. Tambah lagi, sebaran kantor cabang bank dan mesin ATM belum merata di daerah.

Berangkat dari fakta ini, Henry dan dua rekannya, Ricky Winata serta Jefriyanto, melahirkan perusahaan rintisan (startup) PT Payfazz Teknologi Nusantara, Maret 2016 lalu.

Payfazz sendiri merupakan mobile wallet. Hendra mengklaim, layanan dompet digital milik perusahaannya cepat, aman, dan nyaman untuk berbagai transaksi keuangan.

Mulai isi ulang pulsa dan listrik, pembelian vocer game, hingga pembayaran. “Pengganti dompet jadul,” katanya. Jadul kependekan dari zaman dahulu.

Apa lagi, Payfazz sudah tersedia dalam aplikasi berbasis Android. Dengan begitu, Hendra berpromosi, Payfazz mampu mendukung mobilitas tinggi untuk transaksi keuangan online dengan lebih mudah.

Sayangnya, Hendra enggak mau blak-blakan soal nilai investasi awal untuk membangun startup tersebut. Yang jelas, Payfazz sudah memperoleh sokongan dana dari dua perusahaan besar.

“Payfazz mendapat suntikan dana dari Y Combinator dan MDI Venture,” ujar Hendra yang juga jadi Chief Executive Officer (CEO) Payfazz.

Dan, Payfazz adalah startup pertama asal Indonesia yang terpilih untuk masuk dalam program inkubator Y Combinator. Majalah Fortune menyebut Y Combinator sebagai tempat melahirkan perusahaan teknologi raksasa.

Ya, sejumlah startup sukses berkat sentuhan perusahaan yang berdiri 2005 ini. Sebut saja, Airbnb, Dropbox, Stripe, dan Twitch.

Dengan ikut program inkubator Y Combinator, Hendra menjelaskan, secara bisnis Paypazz memperoleh mentoring dari para mentor Silicon Valley mengenai industri teknologi finansial (tekfin) secara komprehensif. “Dari sisi operasional, kami mendapat pendanaan untuk melakukan kegiatan operasional perusahaan,” ucap Hendra yang tak mengungkap angka pendanaan tersebut.

Cuma, mengutip Tech in Asia, Payfazz mengantongi pendanaan dari YCombinator sebesar US$ 120.000.

Sedangkan MDI Venture merupakan modal ventura milik PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) Tbk. Payfazz ikut program inkubator mereka: Indigo Startup Nation.

Saat ini, Payfazz memiliki 30 karyawan yang terdiri dari anak-anak muda generasi milenial. Mereka bergabung dalam beberapa divisi utama yang sangat berpengaruh penting dalam pertumbuhan bisnis Payfazz. Misalnya, Divisi Engineer/Developer, Marketing and Sales, Product Development, dan Business Development.

Agen keuangan

Payfazz punya tiga layanan utama: prabayar, pascabayar, dan saldo Payfazz. Hendra menuturkan, layanan prabayar merupakan pembelian paket data, pulsa, token listrik, juga vocer game.

Lalu, pascabayar berupa pembayaran tagihan telepon dan internet, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), Perusahaan Listrik Negara (PLN), TV berlangganan, dan angsuran multifinance.

Adapun layanan saldo Payfazz ditujukan untuk agen yang mempunyai saldo berlebih. Jadi, mereka bisa menjual saldo ke sesama agen ataupun ke pelanggan Payfazz.

Untuk menjadi agen Paypazz gampang. “Hanya dengan memasukan nama, nomor telepon, seseorang sudah bisa menjadi agen Payfazz. Proses mudah, cepat, dan gratis. Itu tujuan kami, berusaha tidak menciptakan kondisi yang rumit dalam melakukan pendaftaran agen Payfazz,” ungkap Hendra.

Payfazz memberi nama agen mereka: Agen Keuangan Nusantara. Harapannya, bisa membawa perubahan dalam bidang teknologi keuangan.

Sekarang, jumlah agen Payfazz sudah mencapai puluhan ribu yang berasal dari beragam demografi. Rata-rata transaksi per agen Rp 1 juta per bulan.

Buat agen yang ingin menikmati untung lebih, Payfazz menawarkan mereka untuk naik kelas menjadi Agen Premium. Nah, menurut Hendra, ini yang paling diminati dari semua layanan yang ada di Payfazz.

Sejatinya, Agen Premium sama dengan agen biasa Payfazz. Yang membedakan agen reguler dan premium adalah dari sisi keuntungan, kepemilikan kode referal, dan kesempatan mendapatkan promosi menarik dari Payfazz.

Hendra menyatakan, para agen yang telah berstatus sebagai Agen Premium secara bertahap diperkenalkan dengan dunia teknologi keuangan. “Kami mencoba mengedukasi para agen untuk menjadi Agen Keuangan, dan bukan sekadar agen pulsa,” imbuh Hendra yang pernah berkerja di situs jual beli atau toko online Kudo sebagai head of growth.

Jika ingin menjadi Agen Premium, pastikan saldo Payfazz Wallet Anda berisi Rp 100.000. Dana ini untuk biaya upgrade. Jika bisa mengajak rekan untuk bergabung menjadi Agen Premium Payfazz, Anda bisa mendapat bonus Rp 50.000.

Tambah fitur

Meski baru sekitar setahun aktif, Payfazz sudah menggandeng banyak rekanan untuk mendukung bisnisnya. Mulai  bank, penyedia payment point online bank (PPOB), e-commerce, sampai lembaga keuangan nonperbankan. Misalnya, Telkom, PLN, Adira Finance, BAF, serta WOM Finance.

Sayangnya, Hendra enggan membeberkan apakah Payfazz sudah mengantongi profit atau belum. Ia hanya mengatakan, startup-nya masih fokus untuk terus mengembangkan bisnisnya.

“Kami saat ini sedang dalam tahap memaksimalkan dan mengembangkan fitur Jual Saldo,” ujar lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini.

Fitur Jual Saldo memungkinkan para agen Payfazz berjualan saldo ke para Agen yang membutuhkan saldo untuk berjualan. Tapi, mereka tidak punya akses ke rekening bank.

Hendra dan pendiri lainnya juga berencana memperluas jaringan bisnis Payfazz dengan menambah jumlah agen. Mereka juga berusaha terus  mensosialisasikan teknologi keuangan ke masyarakat Indonesia secara bertahap.

Soalnya, ini yang menjadi tantangan Payfazz untuk berkembang. Tantangan lainnya, Hendra menambahkan, bagaimana memberikan edukasi yang terus-menerus dan stabil kepada para agen Payfazz untuk menjadi Agen Keuangan.

Hendra optimistis, peluang bisnis yang digarap Payfazz besar lantaran masih banyak masyarakat Indonesia yang berstatus unbanked. Untuk itu, Payfazz bakal terus memberikan layanan keuangan dan perbankan melalui aplikasi dan sistem keagenan.


Reporter Francisca Bertha Vistika
Editor S.S. Kurniawan

0

Feedback   ↑ x
Close [X]