: WIB    —   
indikator  I  

Pengusaha bimbel yang sukses jadi hipnoterapis (2)

Pengusaha bimbel yang sukses jadi hipnoterapis (2)

Ide untuk memulai bisnis bisa datang darimana saja. Namun, bagi Rezky Daniel, bisnis yang dibangun tak lepas dari cara untuk memenuhi kebutuhan hidup. Delapan tahun membangun bisnis, Rezky pun harus menjalani alur penuh liku. Mulai dari pendapatan puluhan ribu hingga jutaan bahkan ratusan juta.

Kondisi ekonomi yang sulit memaksa Rezky untuk memenuhi kebutuhannya. “Sejak kuliah saya harus memenuhi kebutuhan sendiri,” ujarnya. Sembari menempuh kuliah, Rezky berjualan donat keliling dari kos ke kos lain. “Awalnya malu, sampai akhirnya tidak malu lagi karena memang butuh uang,” ungkap Rezky yang hanya mengantongi untung Rp 200 per kotak dari jualan donat.

Saat menjajakan donat itulah, dia berkenalan dengan konsumen yang merupakan agen jasa bimbingan belajar (bimbel) pribadi. Saat itu, dia pun mendapat tawaran untuk memberi les privat. Kesempatan itu tak disia-siakan, meski tarifnya hanya Rp 35.000 per dua jam.

Sepanjang 2008, Rezky aktif memberi les privat. Setelah berkenalan dengan banyak pengajar, dia mulai berpikir untuk membuka usaha bimbingan belajar sendiri. Bersama rekan-rekan, Rezky menyewa kelas salah satu sekolah dasar di Tangerang.

Tahun pertama, dia mengaku bekerja mati-matian. "Tetapi senang, karena pendapatan bertambah jadi Rp 2 juta,” sebut pria kelahiran Medan ini.

Namun, semangat untuk mendongkrak pendapatan harus terhenti, lantaran Rezky ingin menyelesaikan ujian akhir pada 2009. Lantas, tak lama setelah lulus, karena terdorong rasa penasaran untuk mengembangkan bisnis bimbel. Bersama tiga teman di kampus, dia pun kembali membuka bisnis bimbel dengan nama Smartpro Education.

Dengan modal patungan, Rezky menyewa ruko tiga lantai di kawasan Bintaro, Tangerang. Dia pun harus kembali mulai dari nol untuk mempromosikan bimbelnya. “Awal usaha memang harus sabar dan butuh waktu untuk mendapatkan siswa,” kata Rezky.

Pria berusia 28 ini rajin berpromosi ke sekolah-sekolah, mengadakan try out gratis dan promosi melalui sosial media. “Saat itu, buka kelas yang daftar hanya satu orang, itu juga teman sendiri. Sekarang, tiap kelas bisa 10-30 orang,” tambahnya.

Meski kini bimbelnya telah berkembang, Rezky tak cepat puas. Dia justru semakin berkreasi dalam memberi metode pengajaran. Dia menyisipkan metode hipnosis saat mengajar murid. “Waktu itu metode pengajaran bimbel itu-itu saja. Terus terpikir untuk pakai ilmu hipnosis untuk mempengaruhi alam sadar murid ke hal yang positif dan giat belajar,” tuturnya.

Dari uji coba tersebut ternyata mendapat respon positif. Salah satunya, bagi murid-murid yang bermasalah. Setelah mendapat metode pengajaran bimbingan belajar yang ditambah hipnosis, Rezky bilang siswa tersebut berubah dan banyak melakukan kegiatan positif. “Saat ini, untuk bisa mengembangkan usaha kuncinya harus inovasi," ucapnya.              

(Bersambung)


Reporter Jane Aprilyani
Editor Johana K.

PROFIL PENGUSAHA

Feedback   ↑ x
Close [X]