: WIB    —   
indikator  I  

Ratusan tenaga kerja bertumpu di sentra ini (2)

Ratusan tenaga kerja bertumpu di sentra ini (2)

JAKARTA. Minggu pagi menjelang siang pada pertengahan Januari lalu, salah satu rumah di Desa Padurenan, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus tampak riuh oleh aktifitas sejumlah orang. Pintu rumah dan rolling door garasi rumah terbuka lebar. Bunyi mesin bercampur alunan musik pun terdengar hingga pekarangan.

KONTAN terpanggil untuk menyambangi rumah, yang ternyata adalah sebuah  workshop untuk usaha konveksi. Di dalam rumah ini ternyata terdapat satu mesin plisket, hingga puluhan mesin obras dan mesin jahit. Para karyawan tampak sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Yeni, adalah salah satunya.

Sambil memotong kain, Yeni membeberkan proses produksi di rumah konveksi tersebut.“Disini kurang lebih ada 100 karyawan,” ujarnya. Sebagian karyawan menginap di rumah konveksi tersebut, sebagian hanya bekerja dari pagi hingga sore. Sisanya, bekerja dari rumah.

Hal ini ditentukan dari jobdesk yang menjadi bagian mereka. “Kalau yang bikin pola, itu biasanya menginap, kalau yang jahit banyak yang bawa pulang,” tuturnya.

Setiap pagi, para karyawan yang ingin bekerja dari rumah, biasanya akan menjemput bahan kain yang sudah disiapkan di rumah konveksi tersebut. Mereka kemudian harus menyelesaikan jahitan sesuai target yang ditentukan.

Menurut Yeni, banyaknya jumlah karyawan di konveksi tersebut juga disebabkan usaha yang beranak. “Nanti karyawan disini, mempekerjakan orang lagi untuk menjahit, kalau disini dikasih upah misalnya Rp 2.000, nanti mereka ke karyawannya kasih Rp 1.500,” ujar Yeni mencontohkan.

Rumah konveksi dengan merek Lida Jaya, tempat Yeni bekerja, membuat produk berupa seragam sekolah. Setiap harinya, workshop ini bisa menghasilkan sekitar 500 seragam. Sebagian hasil produksi langsung dipasarkan, sementara sebagian lainnya disimpan untuk stok pada musim ramai.

Yeni mengatakan, pembuatan seragam sekolah ini dilakukan setiap hari. Meski demikian, setiap karyawan tetap mendapat giliran untuk libur satu hari dalam seminggu. “Disini juga kerjanya enak, kami mendapat gaji setiap hari Kamis,” tutur Yeni.

Bisnis konveksi di Padurenan ini kemudian merambat ke seluruh masyarakat. Seperti yang diungkapkan Yeni, karena bisa bekerja dari rumah, para ibu rumah tangga di desa tersebut banyak yang tertarik bergabung menjadi tukang jahit.

Bahkan, anak sekolah pun mulai dari tingkat sekolah dasar, bisa nyambi untuk dapat uang jajan lebih. “Biasanya mereka pasang kancing baju, nanti diupah Rp 50 per kancing,” ucap Yeni.

Namun, ternyata sistem bekerja dari rumah dalam beberapa kasus bisa menjadi boomerang. Seperti halnya yang dialami Umi Muhadiroh. Pemilik rumah konveksi dengan merek Iqbal Fashion ini mengaku produksinya seringkali terhambat dengan sistem bawa pulang. “Kadang mereka terlambat dari target, atau justru meliburkan diri, gak jemput bahan,” ujar Umi.

Umi sendiri di rumah konveksi miliknya memproduksi baju koko dan busana muslim wanita. Setiap harinya 250 stel baju koko dan busana muslim wanita bisa ia produksi.                             

(Bersambung)


Reporter Nisa Dwiresya Putri
Editor Havid Vebri

USAHA IKM

Feedback   ↑ x
Close [X]