: WIB    —   
indikator  I  

Sambil melancong, yuk terima jasa titip beli!

Sambil melancong, yuk terima jasa titip beli!

Berkunjung ke negara lain, baik untuk plesir maupun keperluan bisnis tak jarang bikin kantong kempis.  Agar keuangan tetap aman, Airfrov berusaha hadirkan layanan yang dapat digunakan para pelancong untuk raup keuntungan.

Startup besutan Cai Li ini, pertama kali berdiri di Singapura pada 2015. Menurut Acesa Rebecca, Marketing Manager Airfrov, ide awal pendirian startup ini berdasar pengalaman pribadi sang founder. “Cai Li tinggal di Singapura, kerja bolak-balik, salah satunya ke Indonesia, istri dan teman-temannya sering nitip,” jelas Acesa.

Dari situlah, Cai Li menangkap peluang. Ia pun mulai berpikir untuk memonetisasi titipan-titipan pembelian barang yang muncul, dan akhirnya mendirikan Airfrov di Singapura. Pada 2016, Airfrov mulai merambat ke Indonesia. “Kami sudah soft launching di Indonesia dari Agustus 2016, cuma baru efektif beroperasi itu di Desember 2016,” jelas Acesa.

Indonesia dipilih karena kondisi marketnya yang kompleks. Mimpinya, setelah berhasil berkembang di Indonesia, Airfrov juga akan masuk ke negara-negara lainnya di Asia Tenggara. “Memang tolak ukurnya masyarakat kompleks, banyak dan heterogen itu kan di Indonesia,” jelas Acesa.

Saat ini, Airfrov sudah dapat digunakan oleh user dari dua negara yakni Singapura dan Indonesia. Target user-nya adalah para pelancong dan juga personal shopper. “Kami juga ada program untuk mengakuisisi personal shopper, kebutuhan mereka kan demand, kami tawarkan constant demand kepada mereka,” tutur Acesa.

Airfrov dapat diakses melalui website maupun aplikasi di smartphone. Layanannya memungkinkan pengguna untuk menjadi traveller maupun requester. Menjadi traveller, berarti pengguna bisa membuat rekomendasi barang-barang yang bisa dititipi oleh pengguna lain.

Traveller juga bisa mengambil permintaan (request) dari user lain untuk segera dibelikan dan dibawa pulang ke negara asal. Sementara itu, untuk menjadi requester, user bisa membuat permintaan kepada para pelancong dari negara asal yang sedang bepergian ke negara lain di seluruh dunia.

Jenis barang yang bisa diminta di Airfrov, mulai dari jajanan hingga perlengkapan rumah tangga. Sejauh ini, kategori teratas permintaan  dan penawaran barang diduduki oleh make up, perangkat fesyen, dan makanan. “Kami tak perkenankan narkoba, rokok, dan minuman,” ujar Acesa.

Dari setiap barang yang diminta maupun ditawarkan, user diperkenankan melakukan tawar menawar lewat fitur chat pada Airfrov. Setelah harga disepakati, requester diperkenankan melakukan pembayaran via rekening  bersama. Airfrov akan mengambil keuntungan sebesar 5% + Rp 25.000 dari harga final barang yang dibeli dan akan ditanggungkan kepada requester.

Sejauh ini, berdasarkan catatan Airfrov, sudah ada sekitar 25.000 user yang terdaftar di Indonesia dengan pengguna aktif 16%. Selama beroperasi di Indonesia, sudah ada 22.000 titipan barang dan 10.000 trip (rekomendasi titipan barang). Setidaknya, ada 3.000 transaksi yang complete Hingga saat ini.

“Pertumbuhan user dan pendapatannya sekitar 30% hingga saat ini,” tutur Acesa. Salah satu tantangan yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi Airfrov saat ini adalah menyeimbangkan jumlah permintaan dan penawaran dari traveller.  “Karena ternyata di indonesia cari traveller jauh lebih banyak tantangannya ketimbang orang yang nitip,” tutup Acesa.

Pengamat startup Heru Sutadi menilai bahwa gagasan Airfrov terbilang bagus. Hanya ada beberapa hal yang cukup rumit untuk dijalankan. Pertama, cukup sulit membangun kepercayaan antara pelancong dan penitip. Jika masalah uang akan teratasi dengan rekening bersama, bagaimana soal kualitas barang? Karena, “Kadang barang kan ada kualitas yang berbeda. Beli maksudnya asli tapi diberikan merek palsu atau KW,” ujar Heru. Tak hanya itu, user juga harus melek aturan bea cukai. Bisa saja harga barang masih perlu ditambah cukai.


Reporter Nisa Dwiresya Putri
Editor Johana K.

0

Feedback   ↑ x