PELUANG USAHA
Berita
Sentra pelek Jatibaru: Harga bisa miring (1)

SENTRA PELEK DAN BAN JATIBARU, TANAHABANG, JAKARTA

Sentra pelek Jatibaru: Harga bisa miring (1)


Telah dibaca sebanyak 6917 kali
Sentra pelek Jatibaru:  Harga bisa miring (1)

Bagi sebagian orang, tampilan mobil pribadi bisa menambah kebanggaan saat berkendara. Salah satu aksesori mempercantik tampilan mobil adalah pelek dan ban. Salah satu kawasan yang kerap di sambangi pemilik mobil yang ingin mempercantik mobil lewat pelek dan ban adalah kawasan Jatibaru, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Sentra pelek dan ban di Jatibaru, Tanah Abang termasuk sentra yang cukup lama bertahan. Selain lokasinya yang mudah dicari, kawasan ini mudah diingat karena tak jauh dari sisi barat Lapangan Monas menuju Pasar Tanah Abang.

Di sana, Anda bisa menemui puluhan penjual pelek dan ban mobil mulai dari Jalan Tanah Abang II melalui Kali Cideng hingga ke Jalan Abdul Muis. Banyaknya penjual memberikan variasi bagi para pembeli untuk menentukan pilihan. Bahkan, sebagian penjual menjajakan barang dagangan di toko berpendingin ruangan. Namun, banyak juga yang menghamparkan dagangannya di pinggir jalan.

Kosasih, seorang pengusaha pelek pemilik toko Jati Setia Ban yang berlokasi di Jalan Cideng Timur mengatakan sentra pelek Jatibaru sudah ada sejak 1989. Kala itu, penjual masih berpencar, belum rapat-rapat seperti sekarang.

Kosasih baru terjun ke bisnis ini tahun 1992 menggantikan kakaknya. Dalam sebulan, ia mengaku bisa mencetak omzet Rp 100 juta dengan menjual 10 set hingga 30 set pelek maupun ban.

Harga pelek bekas ia jual mulai Rp 1,5 juta - Rp 5 juta per set tergantung kondisi. Sedangkan harga pelek baru dan asli dengan ring besar bisa Rp 20 juta per set.

Untuk ban, ia menjualnya dengan harga Rp 150.000-500.000 per buah. Ia menawarkan ban baru dan bekas.

Jika berminat membeli pelek atau ban di sentra ini, sebaiknya mengetahui berapa harga pasaran. Di tempat ini berlaku sistem tawar-menawar. Jika tak pintar menawar bisa jadi pembeli harus membayar dengan harga mahal. Namun, bila paham kualitas barang dan pintar menawar, pembeli bisa menikmati harga miring."Makanya keuntungan tidak pasti," ujar Kosasih.

Ia biasa mendapat selisih 25% hingga 40% dari harga beli awal. Namun, itu belum termasuk biaya memperbaiki pelek bekas. Untuk membetulkan satu set pelek biayanya bisa Rp 300.000 - Rp 500.000.

Irwan Setiawan, pengelola Ryas Ban di sentra ini, bercerita bahwa pelek bekas biasanya didapat dari pembeli yang ingin tukar tambah dengan pelek baru. Ia memiliki 5 orang karyawan yang bekerja untuk memperbaiki pelek bekas ini.

Rata-rata pedagang mendapat pasokan pelek dari kawasan Jakarta. Adapun barang baru, mereka dapatkan dari distributor di kawasan Kemayoran.

Irwan yang mulai berbisnis pelek dan ban sejak 2001 juga menawarkan jasa memoles pelek . Usaha sampingan ini mendatangkan penghasilan mulai dari Rp 300.000 per set. Jika cukup parah satu unit pelek , ongkos polesnya bisa sampai Rp 200.000. Irawan enggan memerinci berapa omzet usaha yang ia lakoni.

Hanya, sebagai gambaran, setiap bulan, ia bisa menjual sekitar 15 sampai 30 set pelek maupun ban yang nilainya lebih dari Rp 100 juta. Laba bersih Irwan per bulan sekitar Rp 20 juta - Rp 30 juta.

Mulyadi, pemilik Peka Ban bilang, selain dari Jakarta, pembeli juga datang dari Padang, Sulawesi, bahkan Papua. Selain untuk pribadi, beberapa pembeli membeli untuk dijual kembali.

(Bersambung)

Editor: Tri Adi
Telah dibaca sebanyak 6917 kali



Syarat & Ketentuan Komentar :
  1. Tidak memuat isi bohong, fitnah, sadis dan cabul.
  2. Tidak memuat isi yang mengandung prasangka dan kebencian terkait dengan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta menganjurkan tindakan kekerasan.
  3. Tidak memuat isi diskriminatif atas dasar perbedaan jenis kelamin dan bahasa, serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa, atau cacat jasmani.
  4. KONTAN memiliki kewenangan mutlak untuk mengedit atau menghapus komentar yang bertentangan dengan ketentuan ini.

LIPSUS

LIPSUS Update

  • Risiko berbeda, premi tiap daerah seharusnya berbeda juga

    +

    Dalam uji coba pertama, Jasindo mengkover 600 hektare (ha) lahan dengan biaya premi Rp 100 juta.

    Baca lebih detail..

  • Agar sukses, perlu insentif bagi penyuluh lapangan

    +

    Program asuransi pertanian menjadi salah satu upaya pemerintah untuk melindungi petani dari efek perubahan iklim. Hanya saja masih banyak kekurangan yang ditemui, seperti kurangnya sosialisasi dan tidak adanya insentif bagi penyuluh pertanian lapa

    Baca lebih detail..