PELUANG USAHA
Berita
Sentra Rotan Jepara: Beralih ke rotan sintetis (2)

SENTRA KERAJINAN ROTAN DI DESA TELUK WETAN, JAPARA

Sentra Rotan Jepara: Beralih ke rotan sintetis (2)


Telah dibaca sebanyak 3122 kali
Sentra Rotan Jepara: Beralih ke rotan sintetis (2)

Sentra kerajinan rotan di Desa Teluk Wetan, Kecamatan Welahan, Jepara sudah berdiri sejak tahun 1970-an. Mayoritas warga desa ini memiliki keterampilan menganyam rotan.

Keahlian itu mereka dapat secara turun-temurun. Subhi, salah satu contohnya. Salah satu pengusaha rotan di Teluk Wetan ini mengaku sudah bisa menganyam rotan sejak masih anak-anak. Keterampilan menganyam rotan itu diajari langsung oleh orang tuanya.

Saat ini, Subhi juga mulai mengajari anak laki-lakinya menganyam rotan. “Menganyam sudah menjadi keahlian yang diturunkan dari generasi ke generasi,” ujarnya.

Tahun 1970-an, para perajin rotan di Teluk Wetan masih memakai rotan alam. Namun kini banyak perajin yang beralih menggunakan bahan baku kerajinan dari rotan sintetis.

Toh, Subhi masih setia memanfaatkan rotan alam. Sebab, rotan alam lebih murah daripada rotan sintetis. Dia membeli bahan baku dari depo rotan di Welahan yang saat ini seharga antara Rp 20.000-Rp 25.000 per kilogram (kg).

Dalam sebulan, Subhi bisa mengeluarkan biaya hingga Rp 27 juta untuk membeli  rotan bahan baku pelbagai kerajinan. Sebagai gambaran, satu tempat lampu bisa menghabiskan 3 kg rotan.

Asal tahu saja, tahun sebelumnya dia masih bisa membeli rotan alam seharga Rp 15.000-Rp 17.000 per kg. Dengan kata lain, tahun ini harga rotan alam naik sekitar 33%-66%. Kenaikan harga bahan baku itu menjadi alasannya untuk menaikkan harga jual produk kerajinannya sekitar 30%.

Selain kenaikan harga bahan baku, Subhi juga mengeluhkan pasokan rotan alami yang mulai menipis. Selama ini, pasokan rotan yang dibelinya di depo berasal dari Kalimantan.

Di sisi lain, permintaan rotan alam dari berbagai sentra produksi mebel di Jawa terus meningkat. Mereka pun harus berebut bahan baku berupa rotan alam. Alhasil, sesuai hukum pasar, harga rotan alam pun meningkat pesat.

"Harga rotan juga makin mahal karena ongkos kirim dari Luar Jawa meningkat," katanya. Ini juga yang mengakibatkan banyak perajin rotan beralih menggunakan rotan sintetis.

Salah satu yang beralih ke rotan sintetis adalah Adi Sutanto. Alasannya, rotan sintetis lebih mudah didapat.
Memang, harga rotan sintetis lebih mahal ketimbang rotan alam, yakni  mencapai Rp 45.000 per kg.

Namun, selain mudah didapat, rotan sintetis lebih tahan lama dari rotan alami sehingga bisa dibuat aneka ragam produk. "Rotan sintetis bisa untuk bahan baku mebel luar ruangan karena tahan air," ujarnya.

Rotan sintetis juga dibuat sesuai ukuran mebel dan tak ada sambungan antar rotan.  Produk yang dihasilkan pun tampak lebih rapi.      

(Bersambung)

Editor: Havid Vebri
Telah dibaca sebanyak 3122 kali



Syarat & Ketentuan Komentar :
  1. Tidak memuat isi bohong, fitnah, sadis dan cabul.
  2. Tidak memuat isi yang mengandung prasangka dan kebencian terkait dengan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta menganjurkan tindakan kekerasan.
  3. Tidak memuat isi diskriminatif atas dasar perbedaan jenis kelamin dan bahasa, serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa, atau cacat jasmani.
  4. KONTAN memiliki kewenangan mutlak untuk mengedit atau menghapus komentar yang bertentangan dengan ketentuan ini.

LIPSUS

LIPSUS Update

  • Simak sektor mana saja yang prospektif!

    +

    Sejak awal tahun hingga 22 September 2014, saham-saham sektor perbankan memberikan return terbesar.

    Baca lebih detail..

  • Meramal gerak IHSG setelah rekor

    +

    Analis berbeda pendapat soal prospek kinerja IHSG ke depannya.

    Baca lebih detail..