: WIB    —   
indikator  I  

Sepak terjang Iwan Bomba cari peluang

Sepak terjang Iwan Bomba cari peluang

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menjadi wirausaha di usia muda tidaklah mudah. Apalagi tidak ada mentor yang membimbing. Namun bagi Setiawan Ichlas hal itu bukan mustahil, selama ada tekad dan niat kuat untuk sukses. Ia membuktikan dengan memulai usaha dari nol.

SETIAWAN Ichlas mendadak terkenal pasca ia memiliki saham PT Minna Padi Investama Securitas Tbk (PADI) sebesar 13,27% pawal Agustus 2017. Bahkan namanya semakin membuat publik penasaran setelah ada pernyataan dari PADI bakal mengakuisisi saham mayoritas Bank Muamalat.

Pria yang masih berusia 40 tahun ini telah menjadi taipan di usia yang tergolong masih sangat muda. Pria yang akrab disapa Iwan ini meraih posisi seperti berkat hasil kerja kerasnya membangun usaha dari nol. Bahkan karena itu, ia harus meninggalkan bangku kuliah untuk mengembangkan usahanya.

Iwan mulai berusaha membangun bisnis sejak masih menempati bangku sekolah. Ia menjual apa saja agar bisa sekolah dan membiayai hidup.

Bagaimana ia bisa sukses di usia muda? Iwan membeberkan rahasianya kepada KONTAN beberapa waktu yang lalu.

Ia memulai kisahnya dengan mengatakan bahwa ia telah lama berkecimpung di berbagai bidang usaha. Misalnya, usaha perkebunan kelapa sawit, pertambangan mineral dan batubara sebelum menjadi sorotan seperti saat ini.

Ia menyatakan, kisah suksesnya ini juga dibangun dengan kerja keras dan konsisten. Bahkan, bisa dibilang ia nekat dalam menggulirkan roda bisnis.

Pasalnya, saat terjun ke dunia usaha, ia tidak memiliki seorang kenalan, kerabat ataupun saudara yang menjadi pengusaha. Bisa dibilang, ia nyaris tidak memiliki pengalaman dan pembimbing yang dapat menuntunnya menjadi sekarang pengusaha sukses.

Ia mengaku benar-benar memulai usahanya dari nol dan kemudian ia belajar secara autodidak. Bahkan, ia mengaku sudah kehilangan sosok dan figur ayah sebagai pembimbing. Maklum, sang ayah meninggal dunia ketika Iwan masih berusia sekitar 16 tahun.

Lahir di Palembang pada 10 April 1977, Iwan dibesarkan dalam keluarga yang sederhana. Lantaran keinginan untuk mengubah kondisi, ia memberanikan diri menerjuni dunia bisnis. Bahkan usaha tersebut mulai ia jalani sewaktu masih berada di bangku sekolah.

Sejak itu, ia menjadi terbiasa menjajakan sejumlah barang untuk dijual kepada konsumen. Uang itu kemudian ia gunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan biaya sekolah.

Ia kemudian menyadari, berjualan itu bisa memberikan pemasukan untuk bisa hidup lebih baik. Sejak itu, Iwan mulai bercita-cita ingin menjadi pengusaha. Meskipun, ia juga tetap ingin melanjutkan sekolah.

Sekolah di tingkat pendidikan sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA) diselesaikan Iwan di kota kelahirannya, Palembang. Kemudian ia melanjutkan pendidikan ke Bandung. Ia masuk kuliah di Universitas Pasundan.

Meski pun kuliah di Pasundan bukan cita-cita awalnya, tapi ia tidak punya pilihan lain. "Karena mau masuk Universitas Indonesia tapi tidak diterima. Di Institut Teknologi Bandung juga demikian," ujar Iwan.

Sembari kuliah, Iwan melanjutkan berdagang. Ia memilih berjualan batu. Namun keberuntungan tidak berpihak pada Iwan kala itu. Ia baru satu tahun kuliah, kemudian berhenti. Kemudian ia memutuskan pergi ke Jakarta dan melanjutkan kuliah di STIE Perbanas.

Kepindahan ke Jakarta dan masuk ke Perbanas didasarkan pada sikap nekat disertai bantuan dari teman-temannya. Kendati demikian, ia tetap tidak meninggalkan cita-citanya menjadi seorang wirausaha.

Selama menempuh masa kuliah di Perbanas, semangat berdagang kembali berkobar dalam jiwa Iwan. Pria yang akrab disapa Iwan Bomba ini mengaku menjual apa saja yang bisa ditawarkan, tak cuma untuk membiayai hidupnya, tetapi juga untuk mendapat keuntungan.

Berkat kerja kerasnya dan sifat tanpa menyerah itu, bisnisnya semakin besar. Bahkan ia akhirnya bisa masuk bisnis sektor finance.

Naluri bisnis mengantar Iwan untuk menjajal ke berbagai sektor bisnis. Ia pun mulai masuk di bisnis sektor logistik, energi dan keuangan. Ia juga melebarkan usahanya ke sektor energy related. Iwan masuk ke bisnis batu bara dengan menjadi salah satu penyedia batu bara di pasar domestik.

Ia kemudian mendorong perusahaan logistik miliknya masuk ke dalam bisnis pertambangan. Kedua lini usaha milik Iwan saat ini tepat berada di posisi yang menguntungkan seiring dengan membaiknya harga komoditas dan juga dengan keperluan penyediaan energi di pasar domestik.

Untuk mengelola bisnis di sektor keuangan, Iwan memiliki perusahaan sekuritas, dan pernah melakukan revitalisasi sebuah bank. Pengalaman merevitalisasi dari bank swasta tersebut merupakan contoh dari kemampuan Iwan untuk melakukan perubahan dan pertumbuhan.

Iwan mengaku masih aktif mengendalikan bisnis-bisnisnya di bidang energi yaitu batubara dan tambang. Usaha perkebunan kelapa sawit juga masih aktif ditekuni Iwan.

Menurut Iwan sektor bisnis yang cukup menjanjikan dan terbesar adalah trading dan pertambangan. Namun ia juga tidak melepas usaha yang pertama kali ia rintis di sektor perkebunan di Lampung. Kendati ia mengakui bila ditilik dari sisi potensi maka bisnis pertambangan lebih menjanjikan. Namun sayang, Iwan enggan membeberkan lebih rinci nama-nama perusahaan miliknya tersebut.

Melihat peluang

Kunci sukses Iwan terletak pada strategi bisnisnya. Ia melihat peluang di tengah adanya masalah. Hal itu ia lakukan saat mengambil alih PT Bank Pundi Indonesia Tbk setelah membeli dari Grup Recapital yang kala itu tengah terbelit masalah.

Menurut Iwan, selain mencari peluang bisnis di Bank Pundi, ia juga berniat memperbaiki bisnis bank ini. "Bohong kalau tidak suka cuan. Terkadang ada sesuatu yang bisa kita banggakan, jika kita bisa melakukan yang orang lain tak bisa melakukannya," kata Iwan.

Kemudian Iwan menjadi pemegang saham mayoritas PT Bank Pundi yang sekarang telah bersalin nama menjadi PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk (BPD Banten). Namun setelah bank ini sehat, ia melepas Bank Pundi kepada Pemerintah Provinsi Banten.

Namun ia tetap menyisakan sekitar 20% saham miliknya di bank. Kendati demikian, Iwan mengaku namanya tidak masuk dalam struktur kepemilikan saham Bank Pundi karena kepemilikan disebar ke sejumlah kerabat dekatnya.

Membeli bank yang sedang bermasalah menjadi salah satu pendorong kesuksesan Iwan dalam berbisnis. Ia mengambil contoh, saat membeli Bank Pundi yang sedang terpuruk karena biaya operasional dan pendapatan operasional (BOPO).

Bahkan waktu itu bank tersebut juga tengah menghadapi kredit bermasalah dalam tingkat yang akut. Namun, kata Iwan, kini bank daerah tersebut kembali sehat.

Iwan juga melakukan hal serupa sewaktu akan membeli saham PT Bank Muamalat Indonesia Tbk. Dengan menggandeng sejumlah lembaga keuangan, seperti dana pensiun dan international sovereign fund, berniat akan menginjeksi dana senilai Rp 4,5 triliun ke Bank Muamalat di bawah bendera Minna Padi.

Ia akan masuk dengan menjadi pembeli siaga rencana penerbitan saham baru dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) alias rights issue Bank Muamalat. Kelak, Minna Padi akan menguasai minimal 51% saham Bank Muamalat.

Iwan lantas akan memberikan 2,5% saham Muamalat kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan 1%–1,5% ke Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI).

Meskipun darah berniaga tidak mengalir dalam diri Iwan, tapi kejeliannya melihat peluang tak bisa diragukan. Ia membeli saham PADI di harga Rp 350 per saham, dengan bermodal Rp 525 miliar pada Agustus 2017. Namun dalam hitungan bulan saja, investasi itu berpotensi mencetak capital gain hingga senilai sekitar Rp 1,56 triliun.

Harga saham PADI melonjak hingga Rp 1.410 per lembar. Dus, potensi keuntungan super jumbo mendekati Iwan.

Kunci agar bisa memperoleh cuan besar di sektor keuangan, menurut Iwan, adalah tidak merugikan masyarakat. Kini, selain di sektor keuangan, perkebunan dan pertambangan, Iwan juga masuk bisnis infrastruktur, termasuk pelabuhan di Palembang dan Lampung.

Ia mengklaim, selain hitung-hitungan untung rugi, ia menjalankan bisnis juga untuk menolong orang lain yang sedang kesusahan. Pertimbangan itu pula yang menjadi alasannya mengambil alih perusahaan atau bank yang sedang dirundung masalah.

"Saya ingin menjadi pengusaha yang membawa berkah bagi semua orang, tidak hanya mencari keuntungan pribadi. Berbagi itu indah jika diberikan kepada orang yang membutuhkan," tandas Iwan.

Julukan terinspirasi bintang televisi

Sebagai pengendali organisasi bisnis, filosofi kepemimpinan yang dipegang Setiawan Ichlas adalah menyisihkan sedikit hasil usaha untuk berbagi dengan masyarakat sekitar. Seperti menyisihkan uang untuk masjid, atau sekadar membesarkan usaha untuk bisa merekrut banyak karyawan.

Dengan filosofi ini, Iwan berharap tingkat pengangguran bisa berkurang dan paling tidak karyawan yang bergabung dengannya bisa memiliki pendapatan untuk anggota keluarganya. "Dari situ paling tidak mereka pun mendoakan saya," ujarnya.

Setiawan juga memegang prinsip bahwa dalam menjalani usaha, ia tidak akan merugikan orang lain. Seperti berkecimpung dalam sektor bank syariah, aturan yang ada jelas tidak diperkenankan untuk memailitkan usaha dalam bentuk apa pun. Hal itu yang dipegang oleh pria asal Palembang ini untuk menjadi pengusaha sukses.

Nah, di tengah kesibukannya, Iwan tetap meluangkan waktu dengan keluarga. Biasanya, Iwan bepergian ke luar kota ataupun luar negeri untuk sekadar menemani anak dan istri jalan-jalan. Ia juga suka menonton film maupun membaca buku. Film yang kerap ditonton adalah Dragon Ball atau membaca komik Donald bebek.

Semasa bujang, Iwan akrab dikenal dengan nama Iwan Bomba. Awal mula nama ini muncul ketika Iwan sukses di Jakarta. Merasa sudah mendapatkan lebih dari kata cukup selama di perantauan, Iwan kembali ke kampung halamannya di Lubuklinggau, Sumatera Selatan.

Sewaktu kembali ke tempat kelahirannya, Iwan mencari cara untuk mengubah "imej" dirinya. Alhasil, Iwan yang memiliki keterampilan dalam bidang elektronik ini mulai mendirikan usaha sewa organ tunggal.

Nama Bomba muncul dari sebuah merek televisi Toshiba keluaran tahun 2000-an. Lagi-lagi bisnis yang Ia jalani ini pun sukses, dan nama Iwan Bomba pun tersebar di kalangan teman-temannya.


Reporter Jane Aprilyani
Editor Wahyu Rahmawati

NEWSMAKERS

Feedback   ↑ x
Close [X]