: WIB    --   
indikator  I  

Tawa Riang Gembira Peternak Etawa Banyuwangi (2)

Tawa Riang Gembira Peternak Etawa Banyuwangi (2)

Tingginya harga beli indukan kambing etawa sempat membuat warga Dusun Lerek, Kelurahan Gombengsari, Banyuwangi,  enggan membudidayakannya. Peternak pun memilih memelihara kambing lokal.  

Namun, diantara peternak itu, ada kelompok yang ingin membudidayakan etawa. Mereka pun mengumpulkan modal untuk membeli indukan etawa untuk dikawinkan dengan kambing lokal. Peranakan etawa inilah yang selanjutnya mereka kembangbiakkan hingga kini.

Bahkan, mampu menyingkirkan keberadaan kambing lokal. Sekarang, mereka lebih fokus pada pembibitan dan pembesaran etawa.

Sebelumnya, para peternak cukup susah untuk memasarkan anakan atau kambing dewasa ke pasar. Namun, berkat kesabaran, promosi dan edukasi ke konsumen, kini mereka tak lagi temui kesulitan menjual etawa.  

Nur Hasan Masyuri salah satu peternak mengaku, banyak mendapatkan permintaan dari pelanggannya di Jakarta. Harganya beragam, tergantung kualitas, mulai dari Rp  2 juta per ekor. Khusus kambing etawa betina harganya Rp 1,5 juta per ekor.

Saat mendekati Idul Adha, harga jualnya pun naik. Muhammad Irsyad peternak lainnya bilang kenaikan bisa sampai 50% dari harga normal. "Biasanya mereka (konsumen) belinya sebulan sebelum perayaan. Para konsumen pun tak lantas membawa pulang kambing tersebut tapi, mereka  meminta sang penjual untuk merawatnya hingga menjelang hari raya.

Dengan adanya permintaan tersebut, peternak bisa mendapatkan tambahan bayaran dari biaya perawatan. Tidak sedikit pula, pelanggan yang minta jasa perawatan, memberikan janji imbalan anak kambing. "Jumlah anak dibagi dua, biasanya dalam sekali lahir ada dua ekor," tambahnya.

Sekadar info, peternak bisa menikmati harga jual yang bagus ini dua kali selama setahun. Hasan mengatakan, bila permintaan sedang tinggi, otomatis harga kambing terkerek naik.

Keuntungan bersih yang didapatkan para peternak terbilang besar. Sebab, modal perawatan yang peternak keluarkan sangat kecil. Untuk pakannya, mereka menggunakan tanaman perdu gamal (gliricia sepium) yang banyak tumbuh di perkebunan kopi. Tambahannya, mereka menggunakan campuran ampas tahu dan bekatul.  

Untuk menjaga kesehatannya, proses vaksinasi dilakukan secara berkala selama enam bulan sekali. Peternak bekerjasama dengan dinas peternakan untuk vaksinasi ini.

Hasan pun menilai, sangat rugi kalau warga tak beternak kambing. Karena, semuanya sudah tersedia di alam. Sampai sekarang, belum ada kendala yang berarti yang mereka hadapi. Perubahan cuaca juga berdampak bagi hewan peliharaan terkena penyakit. Rahasianya, berada pada cara perawatan serta pemberian pakan yang tepat.

Lainnya, aktivitas beternak di Dusun Lerek dilakukan dengan menggunakan sistem simbiosis mutualisme. Pakan yang diambil dari perkebunan kopi setempat, kotoran kambing digunakan sebagai pupuk tanaman kopi. Sekedar informasi, di wilayah tersebut juga terhampar sekitar ribuan hektare lahan kebun kopi milik rakyat.       

(Bersambung)


Reporter Tri Sulistiowati
Editor Johana K.

SENTRA UKM

Feedback   ↑ x
Close [X]