: WIB    —   
indikator  I  

Temenggungan, pusat batik sejak penjajahan (1)

Temenggungan, pusat batik sejak penjajahan (1)

KONTAN.CO.ID - Batik merupakan salah satu warisan budaya Indonesia. Perajinnya pun sudah tersebar di banyak wilayah, terutama di wilayah Pulau Jawa. Uniknya, setiap lokasi mempunyai motif berbeda-beda sesuai dengan adatnya. 

Di Banyuwangi, Jawa Timur misalnya. Batiknya memakai motif flora dan fauna, gajah oleng, uler buntung, sekar jagad, kangkung setingkes, dan lainnya. Kelirnya khas, yakni menggunakan warna menyala seperti merah, hijau dan lainnya. 

Kampung Temenggungan yang berada tak jauh dari pusat kota Banyuwangi ini dikenal sebagai pusat produksi batik. Anda bisa menggunakan kendaraan pribadi ataupun transportasi umum untuk menuju Temenggungan. Dari bandara Blimbingsari. lokasi itu bisa ditempuh dalam waktu 30 menit dengan kendaraan pribadi.  

Saat KONTAN menyambangi Temenggungan pada September lalu, terlihat deretan bangunan rumah tua yang menjadi penanda keberadaan pusat batik itu. Pemukiman ini merupakan kampung pertama yang dibangun, saat pemindahan pusat pemerintahan Kadipaten Blambangan dari Ulupampang ke hutan Tirtaganda (saat ini menjadi wilayah Kota Banyuwangi), pada era Bupati Mas Alit, tahun 1774. 
 
Sampai sekarang, rumah-rumah kuno peninggalan jaman penjajagan serta kediaman Bupati ke-5 Raden Temenggung Pringgokusumo masih kokoh berdiri. Alhasil, selain menjumpai perajin batik, para pengunjung juga dapat menikmati suasana atau sekedar jeprat-jepret mengabadikan diri dengan latar bangunan bersejarah. 
 
Meski dikenal sebagai pusat produksi, tak terlihat suasana sibuk para perajin. Lantaran, pembuatan batik dikerjakan didalam atau dihalaman belakang rumah. 
 
Perajin batik Temenggungaan didominasi oleh orang-orang dewasa dan tua. Ada lebih dari 10 perajin batik. Kebanyakan mereka yang bertahan saat ini adalah para generasi kedua. 
 
Kulsum, pembatik senior di pusat batik itu menceritakan, bila tempatnya sudah dikenal sebagai sentra batik sejak jaman penjajahan Jepang. Dia sendiri, sudah menjalani profesi tersebut sejak kelas lima Sekolah Dasar. "Dulu, duduk di kelas lima sudah dianggap besar, saya diminta berhenti sekolah untuk membatik. Orang tua dan seluruh saudara saya juga pembatik," katanya pada KONTAN.  
 
Meski kini usianya sudah lanjut, perempuan yang lebih akrab disapa Mak Kulsum ini tetap setia menggambar kain lembaran kain putih dengan malam. Dalam sehari dia bisa menyelesaikan satu lembar penuh kain batik.
 
Untuk desainnya, dia hanya membuat motif kuno seperti uler buntung, sekar jagad, dan lainnya. Seakan tak kenal lelah, dia melakukan semua tahapan dari desain hingga pewarnaan seorang diri. 
 
Pembatik lainnya adalah Fonny Meilyasari pemilik galeri batik Sayu Wiwid. Usaha batik ini dia dapatkan dari almarhum ayahnya. Sejak tahun 2010 dia resmi menjalankan bisnis tersebut. 
 
Berbeda dengan sebelumnya, dia tidak hanya membuat batik tulis tapi juga batik cap, serta batik kombinasi cap dan tulis dengan motif kontemporer. Dia mengaku melakukan pengembangan motif untuk mengundang minat pasar dan memperkaya koleksinya.
 
(Bersambung)


Reporter Tri Sulistiowati
Editor Johana K.

SENTRA UKM

Feedback   ↑ x