PELUANG USAHA
Berita
Tipenya memang warung angkringan, labanya sekelas restoran

TAWARAN KEMITRAAN KULINER: KEDAI MAKANAN JEPANG

Tipenya memang warung angkringan, labanya sekelas restoran


Telah dibaca sebanyak 7103 kali
Tipenya memang warung angkringan, labanya sekelas restoran

Sushi makin diminati di Indonesia. Beberapa kemitraan usaha makanan khas Jepang ini juga mulai merebak. Dengan harga jual yang jauh lebih murah, gerai-gerai hasil kemitraan usaha sushi pun laris dan menyebar di beberapa kota.

Makanan ala Jepang sudah tak asing lagi di lidah masyarakat Indonesia. Salah satu menu yang sudah bersahabat adalah sushi. Gerai-gerai sushi yang ada di mal sering penuh oleh konsumen penggemar makanan ini.

Antusiasme konsumen pada sushi ternyata membuat banyak waralaba restoran Jepang masuk ke Indonesia. Meski begitu, banyak juga tawaran kerja sama usaha makanan ini dari pengusaha Indonesia. Jenis usahanya bukan restoran, melainkan kelas booth dengan konsep kemitraan alias business opportunity. Misalnya, Zushioda Japanese Street Sushi dan Ikki Sushi.

Aditya Yodha, pemilik Kemitraan Zushioda Japanese Street Sushi, melihat bahwa peminat masakan Jepang memang sangat besar. “Di Indonesia, melihat konsep makan sushi, banyak berasumsi ini jenis makan serius,” ujar konsultan pembuat restoran jepang yang juga berpengalaman memiliki beberapa restoran jepang itu.

Padahal di Jepang, ada konsep makan sushi di warung kaki lima atau dalam istilah lokasi disebut angkringan. Di Jepang, angkringan biasanya disebut yatai. Makanan yang disajikan biasanya makanan tradisional Jepang, seperti yakitori, sushi, yakiniku, agemono, oden, dan hakata ramen. Biasanya juga ada minuman seperti sake atau bir. Makanan yang dijual di yatai biasanya relatif lebih murah dibandingkan dengan di restoran.

Nah, setelah sukses berbisnis restoran, Aditya mencoba menawarkan kemitraan gerai Yatai Zushioda. Tawaran ini memang baru berjalan satu bulan. Tapi, menurut dia, sudah ada beberapa orang yang mengajukan diri sebagai mitra. “Rata-rata dari luar Jakarta,” ujar dia. Yang sudah jalan saat ini baru satu gerai di kawasan Tebet, Jakarta Selatan.

Tawaran kemitraan sushi yang lain berasal dari PT Ikki Group, yaitu Ikki Sushi. Bisnis kemitraan ini telah berjalan selama tiga tahun terakhir. Widi Mada, pemilik bisnis Ikki Sushi, menyatakan bahwa meski baru tiga mitra bergabung dengannya, konsumen masing-masing gerai sushi tersebut lumayan besar. “Sehari, mitra saya bisa membeli bahan makanan sampai Rp 1 juta,” ujar dia.

Sayangnya, Widi tidak tahu benar berapa omzet yang dibukukan masing-masing mitra. Maklum, dalam sistem kemitraan ini, ia tidak mengenakan biaya royalti. Karenanya, ia juga tidak menerima laporan berapa omzet para mitra. Tiga mitranya itu dua di antaranya berada di Jakarta, yaitu di Plaza Semanggi dan Galaxy, Bekasi, dan satu lagi di Istana Plaza, Bandung.

Satu lagi warung sushi dengan konsep booth adalah Sushi Rock n Roll. Tenesia Megariani, pemilik usaha ini, mengaku saat ini sudah mempunyai 10 mitra. “Kami sudah jalan selama dua tahun,” tutur dia. Tak hanya dari jumlah mitra yang bertambah, omzet yang diraup mitra juga lumayan. Dia bilang, untuk kelas booth, rata-rata mitra mendulang omzet Rp 22 juta–Rp 30 juta per bulan. Harga jual sushi-nya mulai Rp 6.000–Rp 49.000 per rol.

Harga sushi yang dijual dalam kemitraan berbentuk booth ini memang jauh lebih murah dari kelas restoran. Widi bilang, harga jual sushi dari pihaknya mulai Rp 5.000 per rol. “Harga jual ke konsumen bisa ditentukan oleh si mitra sendiri, lantaran mungkin mereka juga memperhitungkan ongkos kirim dan biaya lainnya,” tutur dia.

Sama halnya dengan yang diungkapkan oleh Aditya, Widi mengaku harga jual sushi di Zushioda hanya berkisar Rp 12.000–Rp 20.000 per rol. Selama sebulan ini, menurut dia, pendapatan yang masuk ke mitra memang baru hanya sekitar Rp 14 juta. Tapi, dia memperkirakan, ke depan, omzet penjualan per bulan bisa mencapai Rp 24 juta. “Target saya, per hari satu booth bisa mendapatkan Rp 800.000,” ujar dia.

Tertarik memulai bisnis makanan ini? Kami akan mengulas bagaimana mereka menawarkan pola kemitraan usaha ini.


• Yatai Zushioda

Aditya menawarkan kemitraan angkringan ala Jepang ini dengan harga Rp 38 juta. Modal awal tersebut digunakan untuk membeli booth, termasuk meja kursi, mesin pendingin, dan beberapa peralatan lain. Selain itu, masih termasuk bahan baku awal senilai Rp 2 juta.

Selain menyiapkan dana sebesar itu, Anda juga masih harus menyiapkan tempat untuk mendirikan bisnis ini. Tidak ada ukuran tempat sebab dengan konsep angkringan memang tidak membutuhkan ruang cukup besar. Tapi, Aditya menyarankan letak lokasi tempat bisnis ini berdekatan dengan pusat keramaian. “Tempat yang pertama saya buka berdekatan dengan Seven Eleven. Pengunjung gerai itu juga kadang mampir ke booth saya,” ujar dia.

Anda juga masih harus menyiapkan karyawan yang bertugas untuk menjaga warung. “Tiga karyawan cukup untuk sebagai pelayan, koki, dan kasir,” ujar dia.

Sebelum memulai bisnis ini, Aditya juga akan memberikan pelatihan terlebih dahulu kepada para mitranya. Waktu yang dibutuhkan sekitar 14 hari. Sebab, mitra atau karyawan harus ada yang diberi pelajaran memasak sushi. Maklum, tidak semua jenis sushi bisa langsung didatangkan dari Aditya. Ada beberapa sushi yang memang harus dihasilkan fresh.

Aditya menambahkan, jika berada di luar Jakarta, mitra harus menyediakan biaya transportasi dan akomodasi untuk pelatihan. “Biaya sebesar Rp 38 juta, belum termasuk dengan akomodasi dan transportasi,” jelas dia.

Karena pola bisnis ini adalah kemitraan, Anda tidak akan dikenai biaya royalti atau biaya manajemen. “Sistemnya memang jual putus, hanya saja beberapa bahan makanan harus beli ke saya untuk menjaga kualitas,” ujar dia.

Keuntungan bersih bisnis ini per bulan bisa mencapai 50% dari omzet. Beban usaha terbesar berasal dari gaji karyawan dan bahan baku. Kalau Anda menyewa lokasi, biaya itu juga lumayan membebani. Kalau bisnis ini berjalan dengan lancar dengan pendapatan per hari Rp 800.000, Aditya memperkirakan balik modal usaha ini bisa selama 5 bulan–6 bulan.



• Ikki Sushi

Satu pola kemitraan milik dari Ikki Group ini ditawarkan dengan tawaran modal sebesar Rp 80 juta. Dana tersebut digunakan untuk booth, beberapa peralatan, dan bahan baku awal. Bahan baku yang diberikan menurut Widi tidak hanya bahan baku untuk sushi. Sebab, di booth tersebut juga akan menawarkan makanan Jepang lain seperti bento dan yakiniku.

Anda juga harus menyiapkan lokasi yang ramai pengunjung. Dari pengalaman Widi, ada mitranya yang mendirikan di perumahan dan warungnya cukup sukses. Selain membuka di perumahan, ada juga yang membuka di mal.

Selain menyiapkan tempat, Anda juga harus sediakan karyawan. “Kami akan kasih koki juga karena tidak semua sushi bisa kami pasok,” tutur Widi. Tapi, ada beberapa bahan makanan yang memang bisa dipasok dalam keadaan beku dan di warung tinggal menggoreng.

Untung bersih dari bisnis ini, menurut Widi, bisa mencapai 40%–50%. Adapun masa balik modal bisa mencapai 1,5 tahun–2 tahun.



• Sushi Rock n Roll

Tenesia menawarkan lima pola kemitraan. Pola kemitraan booth dengan nilai investasi Rp 65 juta, tipe counter island dengan nilai investasi Rp 95 juta, tipe sushi bar dengan nilai investasi Rp 140 juta, tipe resto dengan nilai investasi Rp 300 juta, dan big resto dengan modal Rp 500 juta. Dengan dana sebesar itu, mitra akan mendapatkan perlengkapan konter seperti chiller sushi, freezer, kulkas, rice cooker, dan lain sebagainya sesuai dengan tipe konter. Selain itu, Tenesia akan melakukan supervisi setiap tiga bulan sekali dalam lima bulan.

Mitra juga akan mendapatkan pelatihan selama dua minggu sampai sebulan. Pelatihan tersebut di antaranya untuk memasak, manajemen, dan lain sebagainya. Tenesia menjamin rasa dari sushi yang akan disajikan tidak akan jauh berubah kalau memang sudah mengikuti standar operasional prosedur (SOP). “Sudah ada takarannya kalau tidak lepas dari itu, saya rasa rasanya tidak akan jauh berbeda,” tegas dia.

Lokasi yang dianjurkan untuk membuka usaha ini, menurut Tenesia, harus di tempat yang ramai dan sesuai dengan tipe dari konter yang diinginkan. Kalau tipe booth, misalnya, ia menyarankan untuk membuka di food court, sekolah, kampus, sport centre, dan tempat rekreasi. “Karena tipe ini memang untuk food court, kami tidak menyediakan meja kursi untuk para pelanggan,” ujar dia.

Tenesia bilang, Anda juga harus menyiapkan tempat usaha dan izin usaha. “Biasanya biaya untuk izin usaha rata-rata senilai Rp 2,5 juta untuk tipe resto,” ujar dia. Rata-rata margin bersih yang dihasilkan bisa sekitar 30%–40%. Adapun masa balik modal tergantung dari tipe konter. “Kalau tipe booth sekitar sembilan bulan,” papar dia. Kalau lainnya seperti counter island bisa sampai delapan bulan atau lebih.

Editor: Tri Adi
Telah dibaca sebanyak 7103 kali



Syarat & Ketentuan Komentar :
  1. Tidak memuat isi bohong, fitnah, sadis dan cabul.
  2. Tidak memuat isi yang mengandung prasangka dan kebencian terkait dengan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta menganjurkan tindakan kekerasan.
  3. Tidak memuat isi diskriminatif atas dasar perbedaan jenis kelamin dan bahasa, serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa, atau cacat jasmani.
  4. KONTAN memiliki kewenangan mutlak untuk mengedit atau menghapus komentar yang bertentangan dengan ketentuan ini.

LIPSUS

LIPSUS Update

  • DJP minta caleg dan capres transparan data pajak

    +

    Pemilihan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan presiden baru sebentar lagi mewarnai tahun 2014

    Baca lebih detail..

  • Akbar Tandjung siap jadi cawapres Jokowi

    +

    Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar Akbar Tandjung menyatakan siap maju sebagai bakal calon wakil presiden, termasuk berpasangan dengan Joko Widodo

    Baca lebih detail..