: WIB    —   
indikator  I  

Tumbuh liar di hutan, cinta sulit dibudidaya (2)

Tumbuh liar di hutan, cinta sulit dibudidaya (2)

JAKARTA. Membudidayakan tanaman yang tumbuh liar di hutan tak mudah. Begitu pula dengan buah cinta, tanaman ini hanya bisa dikembangkan secara alami, serta stek dan cangkok.

William Soejokto, pembudidaya asal Jakarta mengatakan, tanaman yang kini banyak diburu karena keunikannya ini hanya dapat dikembangkan dengan cara cangkok. "Saya sudah mencoba untuk okulasi tapi gagal terus," jelasnya. 

Proses pencangkokan pun harus didukung dengan tambahan obat perangsang akar. Sebab, karakter batang pada tanaman ini kosong. Saat pencangkokan, tanaman harus mendapat sinar matahari langsung. 

Butuh waktu sekitar dua bulan hingga tanaman siap dipindahkan ke polybag. Media tanam sebaiknya menggunakan campuran tanah merah, sekam, dan pupuk organik (kotoran kambing) dengan perbandingan 1:1.

Sedangkan, proses perawatannya pun dengan penyiraman rutin. Tanaman baru ini harus terlindung dari sinar matahari langsung atau diletakkan di bawah paranet.

Dua bulan paska cangkok, tanaman sebaiknya diberi pupuk organik dan mono kalium phosphate (MKP) untuk merangsang pertumbuhan buah. Buah cinta akan berbuah sempurna bila ditanam di dataran tinggi.

Bila tanaman ini dibiarkan berkembang tanpa dipangkas, pohonnya dapat tumbuh sampai dua meter. Sebagai tanaman hias ada baiknya tanaman rutin dipangkas agar berbentuk bonsai.

Pembudidaya asal Bogor, Parta Suhanda juga mengatakan sulit untuk membudidayakan buah cinta. “Kebanyakan budidaya dilakukan dari biji, stek atau canglok masih sulit dan tetap membutuhkan waktu bertumbuh yang lama,” kata Parta. Pohon yang lambat untuk besar ini membutuhkan waktu lima tahun untuk tumbuh setinggi hampir satu meter.

Pohon buah cinta yang dibudidayakan dengan cara stek atau cangkok hanya tumbuh setinggi 15 cm dalam satu tahun. Pertumbuhan pohon buah cinta yang lambat, membuat Patra tidak memiliki stok bibit dengan jumlah banyak. Padahal, permintaan buah cinta tinggi. “Permintaan sekarang banyak, tapi stok dari bibit hasil budidaya belum bisa memenuhi kebutuhan pasar,” ungkapnya. 

Buah yang memiliki tekstur mirip apel ini akan semakin subur bila ditanam pada tanah yang memiliki PH dibawah 7. Sebab, buah cinta asli berasal dari wilayah Sulawesi dan Kalimantan tumbuh di tanah yang mengandung air payau atau campuran air tawar dan air laut. Penyiraman baiknya dilakukan setiap hari dan sebaiknya terkena sinar matahari.

Jika pohon sudah besar, pohon buah cinta bisa panen tiap seminggu sekali. Satu kali panen bisa menghasilkan 10 biji buah cinta. “Buah cinta termasuk dalam pohon yang panennya tidak musiman,” kata Parta. Ukuran buah cinta sebesar dua ibu jari tangan manusia. Selain untuk dikoleksi, penyuka buah cinta bisa menikmati buah yang bisa meningkatkan  stamina tubuh.

(Selesai)


Reporter Danielisa Putriadita, Tri Sulistiowati
Editor Havid Vebri

USAHA IKM

Feedback   ↑ x
Close [X]