: WIB    --   
indikator  I  

Usaha kentang goreng masih legit

Usaha kentang goreng masih legit

 JAKARTA. Camilan satu ini rasanya sudah menjadi kegemaran banyak orang Indonesia. Selain jadi menu pelengkap sajian ayam goreng di resto cepat saji, kentang goreng juga makin umum dijajakan di berbagai sudut kota sebagai menu utama.

Seiring dengan permintaan yang tinggi, tawaran kemitraan kentang goreng juga menjamur. Sebut saja beberapa brand yang pernah KONTAN ulas, seperti Potaterz, Twister Chip, dan Pota Potatoes. Perkembangan usaha kemitraan kentang goreng itu beragam. Dari ketiga merek usaha tersebut, ada yang tidak terlalu agresif menambah mitra, namun, ada pula yang masih terus menambah mitra.

Bagaimana para pelaku usaha ini mengatur strategi agar terus bertahan?  Simak ulasan terbarunya berikut ini.

Potaterz

Pemilik usaha Potato Muterz alias Potaterz adalah Romi Muhison. Dia mengusung nama tersebut lantaran  kentang goreng yang ia jual adalah kentang ulir sebagai menu utama di gerainya.

Romi memulai bisnis ini awal 2013. Ketika ditulis KONTAN pada Agustus tahun lalu, Potaterz memiliki sembilan cabang. Satu di antaranya adalah milik pusat, sisanya milik mitra. Saat ini, gerainya  berjumlah 10 outlet. Dengan demikian, dalam jangka waktu delapan bulan, Potaterz hanya mampu menambah satu mitra baru. Lokasi gerai Potaterz tersebar di Palembang, Lampung, Surabaya, Makassar, dan Bogor.

Menurut Romi, lambannya penambahan outlet karena manajemen pusat lebih fokus menjual perlengkapan memasak kentang. Ia juga mengatakan, kondisi itu membuat gerai mitra di Jakarta tidak ada, karena orang hanya membeli perlengkapannya. "Tapi di luar kota Jakarta, cara untuk cepat membuka bisnis ini adalah dengan membeli paket kemitraan," ujar Romi.

Untuk urusan menu kentang, Potaterz menawarkan delapan varian rasa, seperti keju asin, keju manis, sambal balado, sapi panggang, barbeku, jagung panggang, dan jagung manis. Agustus lalu harga jual kentang ulir itu berkisar Rp 5.000−Rp 10.000 per tusuk. Namun saat ini, harga jual paling murah sebesar Rp 8.000 per tusuk.

Paket kemitraan Potaterz tetap sama, yaitu Rp 8 juta dan Rp 13 juta. Nantinya, mitra memperoleh peralatan seperti kompor, penggorengan, 200 tusuk bambu, dan  delapan bungkus varian bumbu. Sementara untuk paket Rp 13 juta, selain mendapatkan perlengkapan dan bahan baku, mitra juga akan mendapatkan booth.

Romi bilang, omzet mitra sekitar Rp 6 juta per bulan dengan laba bersih mencapai 30% dari penjualan. Target balik modal mitra sekitar empat bulan hingga lima bulan. Sepanjang tahun ini, Romi menargetkan bisa menambah gerai lebih banyak. "Saya ingin menambah sebanyak 20 hingga 25 gerai baru," kata dia.

Twister Chips

Twister Chip berdiri sejak 2006, di bawah bendera PT Tata Cipta Megapelangi. Keunggulan usaha ini adalah menawarkan menu kentang goreng dengan beragam bentuk unik, mulai dari twister atau tornado, stik, nuget, hingga tofu kentang.

Lantaran banyak peminat, manajemen Twister Chip mulai menawarkan peluang kemitraan sejak tahun 2008 silam. Saat KONTAN mengulas tawaran kemitraan kentang renyah ini pada Mei 2013, total gerai yang dimilikinya sudah mencapai 120 gerai.

Setahun berlalu, penambahan gerai tidak begitu signifikan, hanya 15 outlet. Semua lokasi gerai tersebut berada di luar kota Jakarta seperti Makassar dan Surabaya. Manager Twister Chip, Yenny, beralasan, setahun ini pertumbuhan gerai tidak sebanyak tahun lalu, karena kondisi ekonomi saat ini tidak menentu.

Untuk terus meningkatkan dan mempertahankan tingkat penjualan, Twister Chip terus melakukan inovasi produk. Yang paling baru adalah menu head brown, yaitu kentang tumbuk yang dibentuk filet kemudian digoreng.

Yenny mengungkapkan, tidak ada jadwal tetap untuk melakukan inovasi produk. Mereka baru akan membuat produk baru bila banyak permintaan dari mitra.

Sedangkan untuk harga jual menu,  ada sedikit perubahan. Sejak akhir tahun lalu, mereka menaikkan harga sekitar Rp 3.000 hingga Rp 5.000 tiap produknya. Kenaikan ini dipicu lantaran harga bahan baku yang meningkat. Sebelumnya,  produk mereka dibanderol dengan harga Rp 7.000 hingga Rp 15.000 per porsi.

Adapun untuk paket investasi, masih sama seperti tahun sebelumnya. Ada tiga macam paket investasi. Yakni, pertama, paket outdoor dengan besaran investasi Rp 28,8 juta. Kedua, paket upgrade mall seharga Rp 33, 8 juta. Ketiga, paket booth indoor senilai Rp 48,8 juta.

Untuk perolehan omzet, Yenny mengaku hingga saat ini masih cukup stabil. Setiap bulan, mitra bisa mengantongi omzet sekitar Rp 35 juta sampai dengan Rp 50 juta. Yenny mengatakan, beberapa bulan yang lalu sebelum pemilu legislatif, omzet mitra sempat menurun. Tapi saat ini sudah kembali normal dan diprediksi akan meningkat saat liburan sekolah tiba dan menjelang Lebaran tahun ini.

Pota Potatoes

Gerai Pota Potatoes mulai berdiri sejak Oktober 2006 di Bandung, Jawa Barat. Di bawah bendera Pioni Adya Group (PAG), brand ini mulai mengembangkan sayapnya dan membuka tawaran kemitraan di tahun 2009.

Ketika KONTAN mengulas tawaran ini pada tahun 2013, tercatat Pota Potatoes sudah memiliki 183 gerai yang tersebar dari Aceh hingga Jayapura. Saat ini gerainya makin berkembang hingga memiliki sekitar 200 gerai. Perinciannya, 11 milik pusat dan sisanya milik mitra. "Lokasi mitra kami dari Aceh hingga Sorong, Papua," urai Dana Prihadi, Pemilik Pota Potatoes.

Dana menilai, usahanya berkembang cukup baik lantaran gencarnya promosi. Selain aktif promosi di media massa, tak jarang, mitra usahanya dijadikan sebagai alat promosi. Caranya, meminta mitra Pota Potatoes memberikan testimoni positif mengenai bisnis yang ia jalankan.

Hal ini menyebabkan calon mitra menjadi kian tertarik berbisnis bersama Pota Potatoes. Tak jarang, berkat testimoni itu banyak calon mitra baru yang tertarik untuk bergabung. Meskipun kompetitor semakin banyak, Dana tetap optimistis bisa tetap bersaing. Ia menyiasatinya dengan rajin menambah menu baru, seperti pota hasbro, pota finchi, dan stik kentang bumbu mayones.

Selain berbentuk stik, ada pula bentuk nuget. Sejauh ini, walaupun harga bahan baku sudah naik, Dana belum mengerek naik harga jual produk. Satu porsi Pota Potatoes masih dibanderol Rp 6.000 hingga Rp 12.000.

Paket investasi yang ditawarkan pun masih sama. Pota Potatoes menawarkan tiga paket investasi. Paket booth dengan besaran investasi Rp 5 juta dan Rp 7 juta. Kerjasama usaha berlaku masing-masing tiga tahun dan lima tahun.

Sementara, paket ketiga adalah paket lengkap. Investasinya Rp 30 juta. Dana bilang, kebanyakan mitra memilih paket lengkap karena mitra tidak ingin repot-repot membeli perlengkapan sendiri.

Agar usahanya bisa bertahan dan semakin berkembang, Dana berniat lebih gencar lagi berpromosi. Bukan hanya di media cetak, tapi juga merambah promosi di radio. Ia menargetkan bisa memiliki total 250 gerai Pota Potatoes hingga pengujung tahun ini. Pota Potatoes mengincar mitra baru yang berlokasi di Indonesia Timur, seperti Sulawesi dan Ambon. Silakan Anda pertimbangkan lagi mana tawaran kemitraan yang paling cocok.

Di mata konsultan waralaba dari Proverb Consulting, Erwin Halim, potensi bisnis camilan seperti kentang goreng masih cukup menarik. Ini dilihat dari  data pertumbuhan mitra yang dapat terjaring seperti yang di ulas kali ini. Selain itu, Erwin bilang, ini juga didorong oleh kecenderungan terjadinya demonstration effect.

Maksudnya adalah proses meniru pola hidup yang dilakukan oleh kelompok lain. Erwin menjelaskan, dalam hal ini, kebiasaan memakan kentang pada awalnya hanya dilakukan oleh kalangan atas dan orang-orang Barat. Namun saat ini rupanya masyarakat kelas menengah juga sudah mulai terbiasa memakan kentang. “Baik remaja ataupun anak-anak juga terlihat pola makannya saat ini sudah berubah,” ujar Erwin.

Ia memperhatikan, anak-anak yang pergi ke sekolah sudah mulai banyak yang cukup  membawa bekal kentang saja, tidak lagi harus nasi melulu seperti dahulu.

Melihat hal tersebut, Erwin menilai prospek bisnis kentang goreng masih akan bersinar ke depannya. “Ini dilihat dari indikasi yang terjadi di masyarakat seperti yang saya jelaskan itu,” ucap Erwin.

Ia mengatakan, pengaruh dari Barat pun memasuki sektor kuliner. Karena ternyata tanpa disadari telah terjadi perubahan dalam pola makan masyarakat Indonesia. Namun Erwin mengingatkan, di bisnis makanan seperti ini kualitas harus selalu dijaga.

Erwin menilai, penggunaan penyedap makanan dan bahan-bahan yang tidak sehat lainnya harus selalu dikontrol oleh pebisnis di makanan ini. Ini agar kesehatan konsumen tetap terjaga.                     n

       


Reporter Kornelis Pandu Wicaksono, Pratama Guitarra, Tri Sulistiowati
Editor Rizki Caturini

REVIEW KEMITRAAN

Feedback   ↑ x
Close [X]