kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.900.000   50.000   1,75%
  • USD/IDR 17.015   -85,00   -0,50%
  • IDX 7.279   308,18   4,42%
  • KOMPAS100 1.006   48,66   5,08%
  • LQ45 734   31,96   4,56%
  • ISSI 261   11,11   4,45%
  • IDX30 399   16,64   4,35%
  • IDXHIDIV20 487   15,47   3,28%
  • IDX80 113   5,31   4,92%
  • IDXV30 135   4,22   3,24%
  • IDXQ30 129   4,64   3,73%

Usaha turun-temurun Kampung Bulusari (1)


Senin, 29 September 2014 / 14:35 WIB
Usaha turun-temurun Kampung Bulusari (1)
ILUSTRASI. Meniran beramnfaat menurunkan asam urat tinggi.


Reporter: Tri Sulistiowati | Editor: Havid Vebri

Selain terkenal dengan kuliner olahan tahu, Kediri juga memiliki banyak sentra usaha lain yang mampu menggerakkan roda perekonomian lokal. Salah satunya adalah sentra pembuatan kerupuk pasir di desa Bulusari, Kecamatan Tarakan, Kabupaten Kediri.

Di desa ini terdapat puluhan warga menekuni usaha ini sebagai bisnis turun temurun. Maklum, konon katanya, usaha ini sudah ada sejak tahun 1960. Bagi warga Kediri dan sekitarnya, kerupuk pasir ini biasa disebut opak kali. Kudapan ini juga sudah menjadi kerupuk khas Kediri.

Jarak sentra ini dari Kota Kediri sekitar 30 kilometer (km) dan dapat ditempuh perjalanan darat selama 30 menit. Patokannya ada gapura selamat datang bertuliskan Desa Bulusari. Tidak jauh dari gapura, ada banyak rumah berjejeran yang hampir seluruh halaman depannya digunakan untuk menjemur kerupuk pasir.

Menurut warga setempat, sentra opak kali ini sudah menjadi usaha turun temurun. "Sudah dari tahun 1960-an kami menekuni usaha ini," kata Jainal, salah satu produsen kerupuk pasir di Desa Bulusari.

Menurutnya, sekitar 80% warga desanya kini berprofesi sebagai pengusaha kerupuk pasir. Menurut Jainal, hampir seluruh pengusaha kerupuk pasir di Bulusari merupakan generasi kedua. Mereka mewarisi usaha dari orang tua yang kini sudah memasuki usia senja. Karena fisiknya sudah tidak kuat lalu diteruskan kepada anak-anaknya.

Seperti Jainal yang mewarisi usaha kerupuk pasir dari sang ayah. “Saya baru mengoperasikan bisnis ini secara mandiri sekitar lima tahun yang lalu,” jelasnya. Jainal mengaku, kebanyakan hasil produksi warga desanya diambil oleh para pemasok langganan. Jainal sendiri saat ini menjalin kerjasama dengan satu agen tetap.

Namun, tidak jarang dia juga memasok produknya ke Surabaya, Malang, dan Tulungagung, Jawa Timur. Sayangnya, sejak beberapa bulan belakangan dia tidak lagi bisa mengirimkan produknya keluar kota karena terkendala masalah tenaga kerja. “Untuk memenuhi permintaan di sini saja, saya sudah kewalahan,” katanya.

Sampai saat ini, dia hanya menjual kerupuk pasir mentah dengan harga sekitar Rp 7.000 per kilogram (Kg). Dalam sebulan, bapak satu anak ini bisa mengantongi omzet sekitar Rp 30 juta.

Pengusaha lainnya adalah Wahyudi yang sudah menekuni usaha ini sejak masih remaja. Tiga tahun yang lalu dia mulai merintis usaha kerupuk pasirnya secara mandiri.
Tidak ingin repot, dia hanya melayani pelanggan yang datang ke lokasi usahanya saja. “Semuanya itu agen, nanti mereka jual lagi keluar kota,” katanya.

Wahyudi membanderol harga kerupuknya pasir mentah sekitar Rp 7.000 per kg. Dalam sebulan dia bisa mengantongi omzet sekitar Rp 5 juta.        

(Bersambung)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kontan & The Jakarta Post Executive Pass

[X]
×