: WIB    —   
indikator  I  

Usai sayur & beras, telur organik kian diburu (2)

Usai sayur & beras, telur organik kian diburu (2)

Lantaran memiliki penampilan mirip dengan telur ayam pada umumnya, awalnya penjual telur organik pun mengaku kesulitan memasarkan produknya. Edukasi pasar menjadi langkah tepat untuk memperkenalkan jenis telur ini kepada konsumennya.

Muhammad Ihsanmudin penjual telur asal Bekasi, Jawa Barat pun mengakui hal tersebut. Saat memasarkan telurnya, ia harus menjelaskan perbedaan kedua telur itu disertai dengan contoh. Tak jarang, Ikhsan pun harus memecah telur supaya terlihat bagian dalamnya.

Berbeda dengan telur ayam biasa, saat telur organik dipecahkan, akan terlihat warna kuning telurnya yang lebih oranye. Begitu juga, bagian putih telur tampak lebih kental dibandingkan telur biasa. Selain kondisi fisik, tak lupa, Ikhsan memberikan penjelasan terkait manfaat dari konsumsi telur ini.

Memang tak bisa instan, namun perlahan pasar menerima dan mulai beralih menggunakan telur organik. Asal tahu saja, awalnya Ihsan menjual telur dengan cara berkeliling kampung. Kini, dia sudah menggunakan media sosial seperti Instagram untuk memasarkan produknya.

Sayang, pasokan telur kerap kosong saat permintaan tinggi. Ihsan mengaku, hal ini kerap terjadi. Pengiriman telur ke konsumen pun sering tertunda, lantaran dia baru  menjalin kerjasama dengan satu pemasok telur organik.

Tak jauh berbeda, Aeng, pengelola Putra Perkasa Farm juga harus mengedukasi pasar terlebih dulu saat mulai menjual telur organik. Ia membagi brosur, serta memberi telur baik yang mentah dan matang.

Saat ini pemasaran sudah tidak menjadi masalah. Justru, kendala datang dari pakan ayam organik. Untuk menghasilkan telur organik kualitas unggul, pakan juga harus organik, mulai dari sayuran, vitamin, dan tambahan pakan lainnya. "Salah satu bahan campuran pakan masih harus diimpor, ini yang agak sulit," tambahnya.

Tak hanya soal pakan, pasar yang meningkat juga memunculkan pemain baru. Aeng pun menilai, hal ini sudah wajar terjadi.
Maka, agar pelanggannya tidak kabur, dia selalu menjaga kualitas produk. "Kalau sampai menurun kualitasnya, pasti pelanggan langsung beralih," jelasnya.

Dari survei yang dilakukan, dihasilkan karakter pembeli bahan makanan pokok cukup fanatik dengan satu label. Bila, barang dipasaran kosong atau kualitas tak lagi sama maka mereka baru beralih ke merek lainnya.

Sebelumnya, saat kualitas produk menurun, konsumen menyampaikan komplainnya. Meski begitu, mereka masih tetap membeli produk. Karena, saat itu penjualnya sangat terbatas sehingga dia pun masih santai.

Oleh karena itu, untuk menjaga kualitas telur, Aeng sangat berhati-hati dalam pemberian pakan. Sebab,  bila komposisi pakan salah maka kualitas telur akan berubah, bahkan ayam bisa mati.  

Karena terbatasnya produkis, hingga saat ini  Ikhsan belum mampu memenuhi  permintaan konsumen dari luar Bekasi. Demikian juga Aeng yang juga belum  memperluas jangakuan pasarnya. Saat ini, 98% produknya untuk memenuhi permintaan supermarket dan 2% (telur sortiran ) sisanya dijual kepada pengecer. 

(Selesai)


Reporter Tri Sulistiowati
Editor Johana K.

AGRIBISNIS

Feedback   ↑ x