PELUANG USAHA
Berita
Wasno mengirit duit dengan bahan sisa pabrik (2)

INSPIRASI WASNO

Wasno mengirit duit dengan bahan sisa pabrik (2)


Telah dibaca sebanyak 2652 kali
Wasno mengirit duit dengan bahan sisa pabrik (2)

Keterbatasan modal memacu Wasno lebih kreatif demi menyiasati keadaan. Ia misalnya membuat boneka dari bahan sisa pabrik. Dengan cara ini, dia bisa menekan ongkos produksi dan harga jual produknya lebih murah. Toh, kualitas hasil karyanya tidak kalah bersaing dengan boneka buatan pabrik besar.

Seperti pengusaha lainnya, Wasno pernah mengalami kesulitan modal saat membangun usaha pembuatan boneka di Cikampek, Karawang. Namun kesulitan modal itu memicu Wasno lebih kreatif membuat boneka dengan biaya produksi lebih murah.

Karena tidak memiliki banyak modal membeli bahan kain, Wasno memutuskan membuat boneka dari bahan kain sisa potongan di pabrik boneka dan pabrik garmen. "Harga bahan kain sisa pabrik itu lebih murah dari pada membeli bahan kain baru," kata Wasno.

Dengan bahan sisa potongan pabrik itulah Wasno berhasil membuat boneka yang berharga murah. Tapi membuat boneka dari bahan sisa potongan pabrik itu tidak mudah. Apalagi kain sisa pabrik itu memiliki ukuran yang beragam sehingga sulit untuk menjahitnya menjadi sebuah boneka.

Tapi berkat kreativitas, Wasno terus melakukan eksperimen agar mampu membuat boneka dari bahan sisa pabrik tersebut. "Sebelum saya produksi, saya belajar dulu membuat boneka dari bahan sisa pabrik," terang Wasno.

Setelah mencoba berulang-ulang kali, boneka berbahan sisa pabrik itu pun selesai. Namun kualitas yang dihasilkan jauh dari harapan Wasno. Tapi dia tidak kehilangan akal, Wasno akhirnya membuat boneka dengan cara menggabungkan penggunaan bahan kain sisa pabrik dengan kain baru.

Walaupun harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli kain baru, tapi biaya pembuatan boneka tetap lebih murah ketimbang biaya produksi boneka pabrikan. "Pengetahuan membuat boneka saya peroleh secara otodidak," jelas Wasno yang mengklaim kualitas bonekanya tak jauh beda dengan boneka pabrikan.

Selain belajar otodidak, Wasno sebenarnya sudah memiliki dasar pengetahuan membuat boneka sewaktu bekerja di salah satu pabrik boneka di Karawang. Pengetahuan dari pabrik itulah yang menjadi pedomannya membuat boneka dengan tangan sendiri.

Setelah berhasil membuat boneka dari bahan sisa pabrik dan bahan kain baru, Wasno kemudian memproduksinya dalam jumlah terbatas. Pertama kali ia memproduksi 10 sampai 20 boneka per hari. "Modal pembuatan boneka dari uang saya sendiri," kenang Wasno.

Meskipun tidak mendapat bantuan atau pinjaman modal, tapi Wasno tidak menyerah untuk membesarkan usaha itu. Secara bertahap, Wasno menambah jumlah produksi boneka itu dengan memanfaatkan uang tabungan yang ia sisihkan dari setiap penjualan.

Sampai tahun 2000, Wasno berhasil memproduksi 150 boneka per hari termasuk mendirikan toko boneka di Karawang. Namun ia ternyata belum puas, Wasno ingin memperbesar usahanya itu dengan mengajukan pinjaman modal ke perbankan. "Bantuan modal mengalir setelah ada toko yang menjadi agunan ke bank," ungkap Wasno.

Kucuran pinjaman perbankan itu mengalir Rp 50 juta. Uang itu digunakan Wasno untuk menambah kapasitas produksi dengan cara menambah mesin jahit, memperluas bengkel, dan menambah karyawan.

Proyek penambahan kapasitas produksi boneka berjalan sukses. Produksi boneka Wasno naik dari 150 boneka per hari menjadi 250 per hari. Kenaikan produksi itu berimbas pada kenaikan belanja bahan serta belanja karyawan.

Wasno beri contoh, dalam sehari ia mesti mengeluarkan Rp 5 juta untuk belanja kain bulu sebanyak 100 kilogram (kg). Untuk diketahui, harga kain bulu itu Rp 50.000 per kg. "Belum lagi komponen gaji karyawan yang juga turut bertambah," tutur Wasno.

Walaupun biaya produksi membengkak, Wasno bisa tersenyum karena omzetnya juga bertambah. Jumlah produksi yang meningkat membuat banyak pelanggan baru berdatangan ke tokonya.

Dalam merintis usaha sendiri, Wasno mengaku kecewa dengan minimnya peran pemerintah. Ia menilai, pengusaha boneka di Cikampek banyak yang tidak mendapat perhatian. Mereka membangun usaha sendiri tanpa ada peranan pemerintah. "Seharusnya pemerintah berperan sebagai bapak angkat, sehingga usaha kami tidak jalan di tempat," harapnya.

(Bersambung)

Editor: Tri Adi
Telah dibaca sebanyak 2652 kali



Syarat & Ketentuan Komentar :
  1. Tidak memuat isi bohong, fitnah, sadis dan cabul.
  2. Tidak memuat isi yang mengandung prasangka dan kebencian terkait dengan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta menganjurkan tindakan kekerasan.
  3. Tidak memuat isi diskriminatif atas dasar perbedaan jenis kelamin dan bahasa, serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa, atau cacat jasmani.
  4. KONTAN memiliki kewenangan mutlak untuk mengedit atau menghapus komentar yang bertentangan dengan ketentuan ini.

LIPSUS

LIPSUS Update

  • Siap-siap, mobil murah tak lagi terjangkau

    +

    Harga mobil LCGC kemungkinan naik akibat inflasi dan pengurangan insentif.

    Baca lebih detail..

  • Adu gengsi produsen otomotif

    +

    Tren mobil baru di ajang Indonesia International Motor Show 2014.

    Baca lebih detail..