: WIB    —   
indikator  I  

WeCare.id menggalang donasi untuk pasien miskin

WeCare.id menggalang donasi untuk pasien miskin

KONTAN.CO.ID - Dasinah masih tergolek lemah di Rumahsakit Umum Pusat (RSUP) Dokter Hasan Sadikin, Bandung. Wanita 45 tahun ini menderita penyakit melanoma maligna, kanker kulit yang jarang dan sangat berbahaya.

Tentu, biaya pengobatan Dasinah tak sedikit. Apalagi, ia mesti menjalani imunoterapi yang tidak masuk tanggungan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Beruntung, RSUP Dokter Hasan Sadikin mau ikutan membantu biaya pengobatan itu.

Tapi, dengan penghasilan sang suami sebagai tukang becak yang tak menentu, Dasinah masih mengalami kesulitan. Terlebih dia harus melakukan transfusi darah, dan saat ini dia pun tidak bisa mengonsumsi nasi sehingga harus mendapat asupan nutrisi melalui susu.

Masih banyak Dasinah-Dasinah lain yang membutuhkan uluran tangan Anda dalam bentuk dana. Sebab, sekalipun sudah jadi peserta BPJS Kesehatan, belum tentu mereka memperoleh layanan medis yang optimal.

Nah, bertolak dari keinginan membantu pasien-pasien seperti Dasinah, Gigih Septianto lantas membangun WeCare.id. Perusahaan rintisan (startup) yang bergerak dalam pengumpulan dana kesehatan ini menjaring pasien yang kesulitan biaya pengobatan.

Mau membantu Dasinah untuk sehat kembali? Anda bisa memberikan donasi lewat WeCare.id. Dana yang terkumpul akan dipakai membiayai pembelian susu dan popok, transfusi darah, dan pendampingan.

Ya, pengumpulan dana bagi pasien melalui situs wecare.id yang rilis 15 Oktober 2015 ini terutama ditujukan kepada pasien tak mampu seperti Dasinah, dan yang berada pelosok di tanah air. Termasuk, peserta BPJS Kesehatan.

Sebab, lembaga ini tidak menanggung semua biaya pengobatan. “Sebenarnya, WeCare.id juga keuntungan bagi rumahsakit agar tidak ada yang lolos bayar,” ujar Gigih.

Janjikan transparansi

Gigih tak sendirian mendirikan WeCare.id. Maklum dengan berlatar belakang teknologi informasi, dia membutuhkan tim yang paham soal medis. Akhirnya, ia pun menggandeng seorang dokter kenalannya, Meisty Ariotedjo.

Info saja, tahun lalu, Majalah Forbes memasukkan Meisty Ariotedjo, Co-Founder WeCare.id dalam daftar 30 Under 30 Asia. Daftar ini berisi nama-nama anak muda berusia di bawah 30 tahun di Asia yang dianggap sebagai pemimpin menjanjikan, entrepreneur andal, serta game changer. Ferry Unardi, Co-Founder Traveloka, dan Kevin Aluwi, Co Funder Go-Jek juga masuk dalam daftar 30 Under 30 Asia.

“Secara sederhana, WeCare.id membantu mengumpulkan dana dari publik untuk mendanai pengobatan pasien-pasien yang juga didaftarkan oleh rekan medis kami, dokter ataupun rumahsakit,” kata Gigih yang juga menjabat sebagai Executive Director WeCare.id.

Melalui WeCare.id, Gigih menyediakan platform pengumpulan dana kesehatan yang lebih transparan dan tepercaya. Sebab, semua dana yang terkumpul dan penyebarannya bisa dilihat di website tanpa ada yang ditutupi.

Dalam memulai pencarian pendanaan untuk pasien, Gigih tak menggunakan dana dari luar. Dia benar-benar memanfaatkan sumber daya yang ada secara swadaya. Tapi, sepanjang perjalanan, startup itu mencari dukungan pendanaan ringan, misalnya dana hibah dan tanggungjawab sosial (CSR) perusahaan.

Saat ini, WeCare.id sudah membantu pasien dari 15 provinsi. “Satu pasien kami batasi pendanaan maksimum Rp 25 juta. Tidak banyak-banyak karena takutnya tak terdanai dengan cepat,” ucap Gigih.

Untuk mendapatkan dana tersebut, Gigih menjelaskan, WeCare.id melakukan kampanye pengumpulan dana untuk setiap pasien lewat laman mereka. “Melalui situs kami, para pendonor bisa memilih pasien mana yang akan dibantu. Pendonor dapat berdonasi mulai Rp 25.000,” ujar Gigih.

Pendonor akan mendapatkan laporan setiap kali pasien mengalami kemajuan dalam perawatan medisnya. Selain itu, dana yang disalurkan ke pasien bakal ditampilkan secara transparan di website wecare.id.

Startup berbasis di Bandung ini punya tiga layanan. Pertama, Bantu Pasien yang menampilkan profil pasien yang membutuhkan bantuan dana dari publik. Hingga kini, sudah sekitar 205 pasien yang mendapatkan bantuan dengan total pendanaan publik lebih dari Rp 2 miliar.

Kedua, Bantu Inisiatif. Selain pasien, papar Gigih, WeCare.id juga membantu mengumpulkan dana untuk organisasi atau komunitas yang memiliki program-program berkaitan dengan isu kesehatan.

Contoh, cek kesehatan gratis atau penyediaan nutrisi di desa-desa. “Untuk Bantu Inisiatif belum banyak, baru sekitar 10 inisiatif yang sudah kami bantu menggalang dananya,” tambah dia.

Ketiga, Ajukan Pasien. Untuk mengajukan nama pasien, ada dua cara. Melalui medikator atau medical partners, yakni mitra medis WeCare.id yang terdiri dari dokter dan rumahsakit. Lalu, lewat katalis tertentu.

Siapa saja bisa mengajukan pasien ke WeCare.id, dengan catatan, pasien memiliki kemungkinan sembuh yang tinggi. Pasien yang sudah tua sekali dan tak bisa produktif lagi setelah mendapatkan pembiayaan tak masuk kriteria WeCare.id.

Gigih juga sedang mengembangkan konsep keanggotaan alias membership bagi pasien yang sudah pernah memperoleh bantuan dana lewat WeCare.id. Tujuannya, untuk mengikat para pasien agar tidak sakit lagi setelah keluar dari rumahsakit.

“Mirip seperti microinsurance untuk memfasilitasi kebutuhan layanan medis yang sifatnya jangka panjang untuk pasien,” jelas Gigih yang juga Co-Founder dari CharityLights. 

Dengan menjadi anggota dan membayar Rp 100.000 per bulan, pasien tetap mendapat biaya rawat jalan maksimum Rp 5 juta per tahun. Biaya rawat jalan ini terutama untuk pengobatan yang tidak masuk tanggungan BPJS Kesehatan.

Misalnya, pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh (medical check up). Kemudian, biaya transportasi dari rumah pasien ke rumahsakit jika lokasinya jauh. “Program ini masih tiga bulan jalan. Kami masih coba dahulu. Baru 10–15 pasien yang daftar,” kata Gigih.

Untuk program ini, WeCare.id  bekerjasama dengan berbagai pihak, namun yang utama adalah medical partners yaitu rekan rumahsakit, klinik, dan dokter. Selain itu juga dengan dinas kesehatan kota atau kabupaten. Contohnya, Dinas Kesehatan Kota Bandung.

Mengutip 10%

Untuk membiayai operasional dan pengembangan, Gigih mengungkapkan, WeCare.id mengutip 10% dari total dana yang terkumpul dari masyarakat untuk masing-masing pasien. “Biasanya kami langsung top up biaya. Misalnya, pasien butuh Rp 10 juta, kami cari dana Rp 11 juta,” ungkap dia.

Pemasukan model lain yang saat ini WeCare.id terapkan adalah melakukan co-marketing atau co-branding dengan berbagai merek atau perusahaan untuk mengkampanyekan program-program kesehatan atau sosial mereka. Kongsi ini berskema profit-sharing.

Meski begitu, Gigih mengaku, WeCare.id belum bisa menghasilkan keuntungan. Soalnya, startup ini ingin bertumbuh lebih cepat dan besar. “Kami berharap, WeCare.id sudah bisa self-sustaining dan berkembang dengan lebih cepat di 2019 mendatang,” imbuhnya.

Apalagi, menurut Gigih, peluang bisnis ini sangat besar, terutama bagi masyarakat untuk mendapatkan akses alternatif pendanaan medis. Juga kesempatan bagi masyarakat untuk saling membantu satu sama lain.

“Tantangannya, biasanya masalah operasional seperti kapasitas tim yang masih terbatas. Dan tentu, tantangan dalam mengembangkan model bisnis lebih baik dari yang kami miliki sekarang,” ujar Gigih.

Sejak awal, Gigih menggunakan kocek pribadinya untuk mengembangkan WeCare.id. Sayangnya, pria 27 tahun ini enggan menyebutkan nilai modal yang sudah dia keluarkan.

“Upaya-upaya untuk mencari pendanaan masih akan kami lakukan dalam waktu dekat, dengan memilah-milah kesempatan-kesempatan yang sedang terbuka ke depan,” kata Gigih.

Siapa mau membantu?


Reporter Francisca Bertha Vistika
Editor S.S. Kurniawan

BISNIS START-UP

Feedback   ↑ x
Close [X]