: WIB    —   
indikator  I  

Yuk, berburu aneka biskuit di Ciracas! (3)

Yuk, berburu aneka biskuit di Ciracas! (3)

KONTAN.CO.ID -  Jajaran 13 kios dan toko kue di sepanjang Jalan Raya Bogor KM 26, Ciracas, Jakarta Timur tentu menimbulkan persaingan ketat antara para pemainnya. Namun, para pedagang tak khawatir. Mereka percaya setiap kios atau toko punya pelanggan masing-masing.

Bagi Handry, pemilik Toko Kue Dwi, persaingan justru memotivasinya untuk memberi servis lebih baik. Wajar jika para pemain akan mengklaim harga mereka paling murah. Namun,  Handry lebih memilih untuk meningkatkan kualitas pelayanan dibanding memusingkan persoalan harga.

Menurut dia, menyentuh sisi psikologis konsumen jauh lebih penting. “Konsumen pasti senang kalau mendapat layanan baik saat berbelanja. Mereka juga butuh rekomendasi produk yang sesuai," jelas dia.

Dengan menyentuh sisi psikologis konsumen akan menumbuhkan rasa nyaman saat berbelanja. Alhasil, konsumen akan datang lagi dan berpotensi meningkatkan omzet. Memberi rekomendasi produk yang sesuai keinginan dan anggaran konsumen juga penting dalam membangun rasa nyaman saat berbelanja.

Di samping itu, strategi  Handry dalam menghadapi persaingan adalah melengkapi produk di tokonya. Semakin lengkap dan banyak varian produk yang ditawarkan, semakin luas juga pasar konsumen yang bisa ditangkap. Pasokan produk pun harus lancar agar tidak mengecewakan pelanggan. “Makanya kalau Ramadhan, varian produk saya lengkapi. Bahkan saya buat juga paket bingkisan untuk pabrik atau acara tertentu. Banyak juga yang beli banyak untuk dijual lagi,” tutur Handry.  

Syafii, pelaku usaha lainnya juga melakukan hal yang sama untuk menghadapi ketatnya persaingan. Ia juga terus memperbanyak varian  produk di tokonya. Pada hari biasa, kios milik Syafii hanya menyediakan biskuit dan camilan yang sering dibeli oleh konsumen. Namun, menjelang Lebaran, varian produknya ditambah dua hingga tiga kali lipat dari hari biasa.

Ia menyakini denga produk yang kian beragam akan berdampak pada kedatangan konsumen yang lebih banyak. "Bisa jadi di toko lain produk itu tidak ada, tapi di toko saya ada. Ya namanya rejeki pasti ada saja,” ujarnya sambil tertawa.

Kios berukuran 12 m2 tempat Syafii berjualan disewanya per tahun dengan harga sewa Rp 20 juta. Sudah lima tahun lebih Syafii menggantungkan pemasukannya dengan berjualan aneka biskuit dan camilan. Ia mengatakan, tidak setiap hari kiosnya ramai pembeli. Sering juga dalam satu hari tidak ada pembeli sama sekali.

Syafii juga harus sabar menghadapi berbagai karakter pembeli. Memang tak semua yang datang akan menenteng belanjaan dari tokonya.  “Ada kadang mereka hanya nawar harga. Ada yang nggak sreg dan akhirnya tidak jadi beli. "Ada juga yang harus nego lama sekali, baru beli," cetusnya.

(Selesai)


Reporter Elisabeth Adventa
Editor Johana K.

SENTRA UKM

Feedback   ↑ x
Close [X]