kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Adji Watono bangun kerajaan iklan dari studio foto


Sabtu, 11 Februari 2017 / 18:07 WIB

Adji Watono bangun kerajaan iklan dari studio foto

Selamat dari krisis

Di saat bisnisnya mulai mekar, krisis multidimensi melanda Indonesia pada 1998. Adji menghadapi ujian berat. Krisis membuat perusahaan mengurangi belanja iklan. Akibatnya omzet Dwi Sapta anjlok 50%. Namun Adji melihat perusahaannya masih beruntung. Sebab ada perusahaan iklan lain yang omzetnya turun hingga 70-90% bahkan diambang kebangkrutan.

Dwi Sapta bisa bertahan karena kliennya seperti Djarum, Kalbe Farma, dan Astra adalah perusahaan kuat. Perusahaan itu memang terpapar krisis, tetapi tetap memiliki alokasi belanja iklan, meski berkurang.

Setelah berhasil melewati krisis ekonomi 1998, usaha Dwi Sapta terus berkibar. Krisis, kata Adji, mengajarkan untuk tidak sombong dan tetap inovatif. Hingga sekarang, perusahaan ini memiliki 11 anak usaha yang bergerak di bidang media dan komunikasi.

Sejak 2012, Dwi Sapta Group telah berhasil meraih omzet Rp 1 triliun. Bahkan, saat ini, menurut Adji, omzet perusahaannya sudah lebih dari Rp 1 triliun per tahun. Jumlah klien semakin banyak. Saat ini, Dwi Sapta menangani 150 brand dari 40 perusahaan di Indonesia.

Agar kepaknya makin lebar, di tahun 2017 ini dua peristiwa penting menjadi tonggak sejarah Dwi Sapta. Dua peristiwa tersebut adalah keputusan perusahaan meleburkan diri dalam jaringan perusahaan advertising dunia dan peralihan tongkat estafet kepemimpinan ke generasi kedua.

Pada 25 Januari 2017, Dwi Sapta mengumumkan merger dengan Dentsu Aegis Network. Perusahaan agensi yang berpusat di London ini mengakuisisi delapan dari 11 anak perusahaan Dwi Sapta. Mereka adalah dua agensi periklanan (Dwi Sapta dan Main Ad), dua agensi spesialis media (DSP Media dan Main Media), satu agensi digital (Inexus), satu agen aktivasi merek (BEE Activator), satu agensi humas (Dwi Sapta PR), dan satu agensi riset (Dwi Sapta Research).

Adji bilang keputusan merger dengan Dentsu Aegis Network sudah melalui pertimbangan matang selama dua tahun. Dwi Sapta memutuskan menerima pinangan Dentsu Aegis Network karena melihat kolaborasi dengan mitra internasional adalah keniscayaan di era globalisasi.

Apalagi beberapa klien Dwi Sapta seperti Kalbe Farma dan Mayora juga sudah melebarkan sayap bisnisnya ke luar negeri, seperti ke beberapa negara di Asia Tenggara. Dengan menjadi bagian Dentsu Aegis, Dwi Sapta bisa memanfaatkan jaringan perusahaan di 145 negara. Kita enggak ada pilihan. Sekarang ini era internasional. MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) sudah masuk. Dwi Sapta mesti keluar juga, katanya.

Setelah merger, nama Dwi Sapta pun berubah menjadi Dwi Sapta Dentsu Aegis Network. Tampuk kepemimpinan perusahaan beralih ke generasi kedua yang masih muda. Anak pertamanya, Maya Watono didapuk menggantikan posisi Adji sebagai Chief Executive Officer (CEO).

Maya bergabung dengan Dwi Sapta pada akhir 2006, setelah menetap di Australia selama 10 tahun. Setelah menyelesaikan pendidikan di Australia, Maya tidak langsung kembali ke Indonesia, tetapi bekerja di sana selama beberapa tahun.


Reporter: Petrus Dabu
Editor: Yudho Winarto

TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0004 || diagnostic_api_kanan = 0.0288 || diagnostic_web = 0.1686

Close [X]
×