kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.857.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.020   -18,00   -0,11%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%

Ahmad Hasbi mencecap renyahnya untung dari keripik singkong (1)


Senin, 11 Juli 2011 / 15:51 WIB
ILUSTRASI. Hore! LPDP segera dibuka, catat tanggal pendaftarannya.


Reporter: Dharmesta | Editor: Tri Adi

Pejalanan hidup Ahmad Hasbi tidaklah mudah. Tak sempat mencecap bangku sekolah karena harus membantu ayahnya bekerja di sawah, Ahmad pantang menyerah. Ia mewujudkan cita-citanya untuk menjadi pengusaha. Keripik singkong membawa keberuntungan Ahmad yang kini mendulang omzet lebih dari Rp 100 juta per bulan.

Ada banyak pemicu bagi seseorang untuk segera mengambil keputusan untuk mengejar cita-citanya. Bagi Ahmad Hasbi, petuah mertuanya yang mengubah jalan hidupnya. Berkat nasihat mertua, ia sekarang menjadi pengusaha keripik singkong dengan omzet lebih dari Rp 100 juta per bulan.

Saban hari, Ahmad, panggilan karibnya, memproduksi sekitar 3 ton keripik singkong. Sulitnya bahan baku membuat dia harus mengerem produksi dari tujuh hari dalam seminggu menjadi lima kali saja dalam seminggu. Dampaknya, omzetnya pun kurang renyah.

Saat ini, saban hari, ia hanya bisa mengantongi omzet Rp 5 juta, dus lima kali produksi saban minggu menjadi Rp 25 juta. "Dulu lebih dari itu," ujarnya.

Mengawali usaha sejak 2003, Ahmad kini mengaku bisa berbangga hati. Sebab, banyak warga di Kecamatan Cisoka, Cikupa, Tangerang, yang mengikuti usahanya menjadi produsen keripik singkong. "Saat ini, ada 15 orang yang berbisnis keripik singkong," ujar Ahmad.

Dengan produksi yang sangat besar, Ahmad mempekerjakan lebih dari 50 orang. Sebanyak 25 orang adalah pegawai tetap yang bertugas di bagian produksi, sisanya adalah pekerja borongan yang bertugas mengemas keripik. Jumlahnya bisa sampai 30 hingga 50 orang, tergantung dari besar kecilnya produksi. "Satu orang biasanya bisa menge-pak 50 sampai 100 bungkus keripik singkong setiap hari," ujar Ahmad yang menjual keripik singkongnya sebesar Rp 8.000 per bungkus itu.

Ahmad bilang, berkembangnya usaha keripik singkong di daerahnya mampu menyerap pekerja dalam jumlah yang besar. Bila satu pengusaha seperti Ahmad bisa menyerap 50 orang, 14 pengusaha keripik lain bisa menyerap ratusan pekerja. "Ini yang membuat saya bangga," ujar Ahmad.

Seperti kisah sukses pengusaha lainnya, keberhasilan Ahmad tak datang tiba-tiba. Kini berusia 35 tahun, Ahmad terlahir sebagai anak ke lima dari delapan bersaudara. Ayahnya adalah petani.

Makanya, sedari kecil, ia terbiasa membantu bekerja di sawah. Ahmad sama sekali tak punya kesempatan untuk mengecap pendidikan formal. Sulitnya hidup menjadi anak petani membuat Ahmad enggan menggantungkan cita-cita menjadi petani. Dalam benaknya, ia ingin menjadi pedagang.

Saat usia 18 tahun, Ahmad memilih mengadu nasib ke ibu kota, persis seperti yang dilakukan oleh kebanyakan pemuda di daerahnya. Di daerah Pesing, Jakarta Utara, Ahmad menjadi kuli bangunan di sebuah proyek.

Hanya bertahan satu tahun, Ahmad pun memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya, Cisoka. Karena tak memiliki keterampilan lain, Ahmad kembali menjadi kuli bangunan di sebuah proyek selama lima tahun.

"Saat proyek selesai, saya pindah lagi ke proyek lain," ujarnya mengenang. Bahu membahu dengan istrinya yang menjadi buruh pabrik, Ahmad memenuhi kebutuhan keluarga.

Berbisnis singkong diawali Ahmad saat mendapat kunjungan dari mertua. Mertua Ahmad yang kebetulan pedagang singkong di Bogor mengatakan bahwa menjadi buruh proyek tidak akan mengubah nasib keluarganya. "Mending kamu jualan singkong," ujar Ahmad menirukan nasihat mertua. Petuah itu membuka jalan bagi Ahmad untuk memulai usaha singkong. Apalagi, sang mertua juga mengajarinya cara membuat keripik singkong dengan rasa yang enak sekaligus renyah.

Bermodal uang Rp 500.000 yang didapat dari uang klaim kecelakaan kerja yang diterima istrinya, Ahmad memulai usaha. Uang sebanyak itu digunakan Ahmad untuk membeli bahan baku, yakni singkong, dari Subang dan Cianjur.

Produksi pertama Ahmad saat itu baru mencapai 30 kilogram per hari. Ia pun memasarkan produknya di kantin-kantin sekolah yang ada di Kecamatan Cisoka. Ukuran keripik pun dibuat mungil agar terjangkau oleh kantong pelajar. "Saya hanya menitip dagang saja. Sore saya ambil uang jika ada yang beli," ujarnya.

Karena belum ada pesaing, dagangan Ahmad laris. Ahmad pun harus pandai mengatur penghasilannya untuk berbelanja sekaligus untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya.

(Bersambung)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×