kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Ajak penyandang disabilitas lestarikan kesenian batik


Sabtu, 06 Oktober 2018 / 07:15 WIB

Ajak penyandang disabilitas lestarikan kesenian batik

KONTAN.CO.ID - Beberapa tahun belakangan, batik kembali populer. Berbagai lembaga, perusahaan, kantor pemerintah sampai sekolah pun berlomba-lomba mengenakan batik, khususnya setiap hari Jumat.

Namun, melestarikan budaya batik sejatinya bukan sekadar menggunakannya untuk keperluan sehari-hari. Lebih dalam dari itu, seni membatik sendiri harus tetap hidup di masyarakat. Penggunaan batik memang meningkat, tapi harus diakui jika Indonesia darurat perajin batik.

Kondisi inilah yang mendorong Budi Dwi Hariyanto mendirikan Rumah Batik di daerah Palbatu, Tebet, Jakarta Selatan pada 2011 lalu. Di Rumah Batik tersebut, pengunjung bisa belajar membatik. Bahkan ada kelas membatik gratis, khusus bagi penduduk di sekitar Palbatu dan para penyandang disabilitas.

“Kami sudah buka kelas untuk disabilitas sejak tahun kemarin dan sekarang sudah masuk angkatan ketiga,” jelas pria yang akrab disapa Hari pada KONTAN, pekan lalu.

Sedekah Batik, kelas membatik gratis bagi para penyandang disabilitas merupakan salah satu program Rumah Batik Palbatu. Para peserta disabilitas tersebut belajar pengetahuan seputar batik, menyanting, membuat pola, menciptakan motif, sampai mewarnai kain.

“Yang kami lihat bukan hanya hasilnya, tapi proses membatik ini sendiri. Kami juga ingin memberitahu bahwa batik bukan hanya kain, tapi tentang prosesnya, seperti kehidupan, ada setiap proses yang harus dijalani,” ungkap Hari.  

Para penyandang disabilitas tersebut harus mengikuti sekitar 10 kelas agar bisa mendapatkan sertifikat. Sertifikat ini bisa dipakai jika mereka jika ingin mengajar batik. Sertifikat tersebut juga menjadi bukti bahwa mereka terpercaya dalam membatik.

Para penyandang disabilitas sangat antusias belajar membatik sejak pagi hingga sore hari. Hari pun mengakui, sejak membuka kelas batik gratis bagi para penyandang disabilitas, ia memiliki semangat baru untuk terus melestarikan batik. Menurutnya, kaum disabilitas ternyata lebih peduli pada kesenian batik dibanding orang normal.

Semangat merekalah yang selalu jadi semangat Hari mempertahankan Rumah Batik. "Banyak orang yang bisa dengar, bisa baca, bisa melihat, bisa ngomong tapi nggak punya kepedulian dan tidak dimanfaatkan dengan baik. Kadang semangat kita yang normal ini kalah dengan teman-teman disabilitas," ungkapnya.

Tak hanya bisa belajar membatik, para penyandang disabilitas juga bisa menjual hasil karyanya di Rumah Batik. Hari mengatakan, pihak Rumah Batik juga membantu memasarkan hasil karya mereka.

“Banyak dari mereka yang sudah bisa menjual hasil karyanya. Boleh menjual sendiri, boleh juga menjual di sini,” pungkas Hari.


Reporter: Elisabeth Adventa
Editor: Johana K.


Close [X]
×