kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.920.000   30.000   1,04%
  • USD/IDR 16.900   45,00   0,27%
  • IDX 7.935   -168,62   -2,08%
  • KOMPAS100 1.117   -23,38   -2,05%
  • LQ45 816   -13,78   -1,66%
  • ISSI 278   -6,99   -2,45%
  • IDX30 426   -6,36   -1,47%
  • IDXHIDIV20 515   -6,10   -1,17%
  • IDX80 125   -2,26   -1,78%
  • IDXV30 139   -2,98   -2,10%
  • IDXQ30 139   -1,10   -0,79%

Aneka payung mengembang di Juwiring (2)


Selasa, 10 Februari 2015 / 14:27 WIB
Aneka payung mengembang di Juwiring (2)
ILUSTRASI. Cara Alami Turunkan Gula Darah untuk Penderita Diabetes


Reporter: Rani Nossar | Editor: Havid Vebri

Pesona payung hias dari Juwiring, Klaten tidak hanya terkenal di Jawa Tengah saja. Payung hias karya para perajin asal Juwiring sudah menyebar ke berbagai pelosok di Tanah Air. Sentra payung hias di Kecamatan Juwiring ini salah satunya ada di Desa Kwarasan yang terletak sekitar 22 kilometer (km) arah timur laut Kota Klaten.  

Begitu memasuki desa ini, aneka payung warna warni memenuhi halaman rumah-rumah penduduk. Payung-payung tersebut sedang dijemur hingga catnya mengering. Sepanjang hari, penduduk desa ini sibuk memotong bilah-bilah bambu untuk dibuat kerangka. Selain itu, ada juga yang sibuk melukis kertas payung dan mengecat kerangka payung.

Kendati sebagian penduduk sudah banyak meninggalkan kerajinan ini, aktivitas pembuatan payung tetap semarak. Di desa ini ada dua jenis payung hias. Yakni, payung berbahan kertas dan bukan kertas seperti kain.

Payung yang bukan berbahan kertas lebih tahan air dan tahan lama. Kebanyakan penduduk di sini membuat payung kain karena peminatnya lebih banyak. Payung kain banyak dipakai buat acara-acara kesenian dan festival. Sementara payung kertas lebih ditujukan untuk upacara kematian dan sesaji.

Baik payung kertas maupun bukan kertas, semua menggunakan bambu sebagai rangka. Gunarto, salah satu perajin payung kain mengaku, kerajinan ini tetap eksis karena tidak ada kendala,  baik kendala bahan baku mapun pemasaran.

Bila butuh bahan baku, ia tinggal telepon dan bambu akan diantar dari Jatinom, Klaten. Biaya produksi hanya boros di pembelian bambu, lem, dan cat saja. Sebulan ia bisa menghabiskan biaya Rp 2 juta untuk perlengkapan bahan baku saja. "Tapi kalau sedang sepi, kadang bambu tidak habis dipakai," katanya.

Jika sedang banyak pesanan sanggar tari dari Jakarta dan Surabaya, ia bisa menghabiskan 100 gelondongan bambu. Payung bikinannya banyak dipakai buat dekorasi dan properti untuk kebutuhan panggung dan acara televisi.

Kalau untuk upacara keagamaan, pesanan banyak datang dari Yogyakarta, Solo, dan Bali. Pernah juga ada pesanan dari Australia. "Tapi tiga tahun belakangan pasarnya lebih sering di dalam negeri saja," jelasnya.

Sementara perajin lain, Sugiyanto fokus membuat payung kertas untuk kematian dan sesaji. Payung bikinannya terbuat dari kertas semen. Di desa ini hanya ada tiga perajin yang membuat payung kertas.  

Menurut Sugiyanto, payung kematian dan sesaji masih banyak peminatnya, meski tidak sebanyak payung hias untuk tarian dan pernikahan. Setiap bulan, ia membuat 250 payung dan selalu diserap pasar. Proses pembuatannya tidak selama payung hias non kertas. Hanya, saat melukis bagian atas payung yang terbuat dari kertas semen butuh waktu agak lama.           

(Bersambung)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×