kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45936,49   -8,95   -0.95%
  • EMAS1.027.000 -0,19%
  • RD.SAHAM -0.04%
  • RD.CAMPURAN -0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Aroma peluang secangkir coklat masih melekat kuat


Sabtu, 20 Oktober 2018 / 06:15 WIB
Aroma peluang secangkir coklat masih melekat kuat


Reporter: Denisa Kusuma, Sugeng Adji Soenarso, Tri Sulistiowati, Venny Suryanto | Editor: Johana K.

KONTAN.CO.ID - Jakarta. Di negara beriklim tropis dengan dua musim, kemarau dan penghujan, bisnis minuman punya daya tarik tersendiri. Apalagi, beberapa tahun terakhir, musim panas datang lebih lama. Seperti yang terjadi sekarang.   

Mengusir dahaga dengan segelas minuman dingin manis tentu akan melegakan saat panas menerpa. Itulah sebabnya, pasar minuman dingin sangat potensial di negeri ini. Salah satunya adalah minuman cokelat. 

Jenis minuman ini memang punya banyak keunggulan. Selain rasanya yang khas, cokelat memang salah satu bahan baku yang aman bagi semua kalangan. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa menyukai cokelat.

Tak heran, bisnis minuman cokelat tak pernah pudar, biarpun bermunculan jenis minuman baru lainnya.
Pada review kali ini, KONTAN akan mengulas tentang bisnis kemitraan minuman cokelat. Tiga pemain yang dipilih adalah Coklat Magic, Coklat Jodoh dan Rumah Ice Cokelat. Simak ulasannya berikut ini:  

Coklat Magic

Fahrul Ubed asal Malang, Jawa Timur mengusung brand Coklat Magic untuk gerai minuman cokelatnya yang berdiri pada 2015. Setahun kemudian, Ubed baru menawarkan kemitraan Coklat Magic.  

Menurut Fahrul, saat ini, perkembangan bisnis minuman cokelat milikinya masih bagus dan stabil. Tidak berbeda dengan tahun lalu, tawaran kemitraan Coklat Magic masih sama. Ada enam paket yang ditawarkan. Yakni, paket super hemat Rp 3,5 juta, paket reguler Rp 7,5 juta, paket silver Rp 10 juta dan paket gold Rp 15 juta. 

Dari pengamatan Ubed, sepanjang 2018 ini, rata-rata mitra bisnisnya masih bisa menjual rata-rata 30-40 cup per hari. Omzet mitra dapat menyentuh angka Rp 12 juta hingga Rp 15 juta dalam sebulan. "Namun, soal pendapatan  sebenarnya tergantung pada lokasi penjualan," terang dia. 

Biasanya, mitra yang berjualan dengan gerobak butuh waktu tiga bulan untuk balik modal. Berbeda dengan mitra yang menjual minuman cokelatnya di kafe-kafe. 

Gerai milik Ubed sendiri kini ada di lima lokasi. Sementara, gerai mitranya sudah ada 400 gerai. Tidak ada sistem bagi hasil. Ubed juga tak mengutip royalty fee. Mitra hanya perlu membeli bahan baku dari pusat. 

Dalam menjalin kemitraan kesulitan yang cukup sering dihadapi oleh Ubed adalah kurangnya inisiatif mitra dalam berjualan. Sebab, seringkali, lokasi penjualan juga kurang strategis. Ubed pun lantas memberi solusi untuk menawarkan produk mereka secara online.

Pada tahun ini, Ubed sendiri ingin fokus membimbing mitra untuk menggenjot penjualan. Sebab, dia melihat, 20% dari jumlah gerai mitra tak ada kemajuan. 

Ubed pun menawarkan solusi yakni konsep tanpa cup. Jadi, mitra tak perlu membeli kemasan di Coklat Magic, hanya perlu membeli bubuk cokelatnya. Tapi, ada syarat yang harus dipenuhi mitra. Yakni, jumlah pembeliannya 3.000 bungkus. "Biasanya, yang mengambil konsep ini adalah pemilik kafe," ujarnya.

Lantaran ingin membenahi penjualan mitra, Ubed tak merencanakan ekspansi maupun penambahan gerai. Namun, dia menambah sejumlah rasa baru pada 2018 ini. Yakni, memadukan cokelat dengan berbagai rasa, seperti anggur dan stroberi. Harganya tetap  Rp 3.000 per cup.  

Rumah Ice Cokelat

Bisnis minuman cokelat masih manis. Kondisi inilah yang terlihat dari bisnis Rumah Ice Cokelat. Mitranya terus berkembang. 

Setahun lalu, ketika KONTAN mewawancarai Hendra, pemilik Rumah Ice Coklat, ia mengungkapkan jumlah gerainya sebanyak 53 unit. Kini, gerai Rumah Ice Coklat telah berkembang menjadi 95 gerai yang tersebar di sejumlah kabupaten di Lampung.

Hendra bilang, legitnya bisnis kemitraan minuman cokelat ini lantaran perubahan gaya promosi yang dia lakukan. "Dulu, saya hanya pasang selebaran. Sejak beralih ke media sosial, permintaan mitra bertambah," ujarnya.

Hendra juga terus melakukan inovasi. Sejak Lebaran kemarin, ia menambah produk minumannya yaitu Jko Drinks. Namun, produk terbarunya ini, ia kemas tersendiri dalam kemitraan yang berbeda. Yakni, Double dengan paket investasi sebesar Rp 7 juta. Sementara, paket kemitraan Rumah Ice Coklat terdiri dari paket mulai dari dari Rp 5,5 juta, Rp 7 juta, Rp 8 juta, dan Rp 9 juta. 

Dalam menentukan harga jual, Hendra memberi keleluasaan pada mitranya. Ia bilang, sebaiknya mitra menjual minimal di Rp 7.000. Sedangkan, untuk penjualan di supermarket berkisar Rp 8.000 hingga Rp 10.000

Sampai saat ini, Hendra juga juga belum menjumpai keluhan dari mitra-mitranya. "Keluhan berat sejauh ini tidak ada, hanya menurut saya soal persaingan saja," ujarnya. 

Ia mengakui bahwa dengan persaingan yang ada, permintaan kemitraan sedikit menurun walaupun tidak signifikan. Karenanya, Hendra berkomitmen untuk terus menambah produk-produk baru. Kini, varian rasa minuman di Rumah Ice Cokelat sudah mencapai 30 menu. 

Sampai akhir tahun nanti, Hendra juga tidak memiliki target mitra baru. Ia memilih fokus untuk menjaga mitra-mitranya yang sudah ada.  

Coklat Jodoh

Berbeda dengan Coklat Magic dan Rumah Ice Cokelat, bisnis kemitraan Coklat Jodoh nampaknya kurang beruntung. Pasalnya, setengah dari total gerai Coklat Jodoh justru  tutup dengan alasan menurunnya daya beli konsumen. Terutama, saat musim hujan tahun lalu.  

Kini, total gerai milik mitra yang masih buka saat ini hanya sekitar 20 unit. Gerai-gerai itu tersebar di Jabodetabek dan Bandung, Jawa Barat. Sedangkan, gerai pusat tetap hanya satu unit.

Sebelumnya, saat di ulas KONTAN setahun lalu, Ihya Adgini Islami mengatakan,  jumlah gerai mitra ada 39 unit. Namun, selama setahun terakhir ini memang banyak mitra yang menutup gerainya. 

Adgini pun mulai mengembangkan produk minuman cokelat dalam kemasan botol. Tujuannya untuk mendongkrak penjualan gerai pusat.  "Kemasan botol ini untuk sementara hanya di jual oleh gerai pusat," kata dia. Rata-rata penjualan minuman kemasan ini mencapai 50 botol per hari.  

Kedepan, Adgini berencana untuk meningkatkan kapasitas produksi minuman dalam kemasan botol. Selain untuk dijual di gerai mitra, ia juga bisa menitipkannya di  kantin-kantin sekolah maupun universitas supaya pasarnya lebih luas. 

Adgini pun masih membuka tawaran kemitraan Coklat Jodoh. Paket kemitraan masih sama seperti tahun lalu, yakni mulai Rp 9,5 juta sampai Rp 12 juta. Harga produknya pun juga masih dipatok sama dari Rp 7.000 sampai Rp 8.000 per cup. Sedangkan untuk kemasan botol dibandrol Rp 10.000 per botol. 

Kendala bisnis yang dihadapinya adalah kenaikan harga bahan baku yang diiringi dengan penurunan daya beli konsumen. Alhasil, dia memilih mengurangi porsi keuntungan bersih usaha daripada menaikkan harga jual. 
"Keuntungan kami pangkas sampai 50% dari nilai sebelumnya," jelasnya. Sebelumnya, porsi keuntungan bersih yang dapat diperoleh mitra sekitar 30% dari total penjualan setiap bulannya.               

Harus ada strategi guna pertahankan pasar

Luasnya ceruk pasar minuman cokelat, seharusnya membuat bisnis sangat potensial. Apalagi, minuman ini bisa berpadu dengan berbagai bahan lainnya untuk menciptakan variasi menu. Oleh karena itu, peluang bisnisnya juga cukup besar.  

Erwin Halim, pengamat usaha dari Proverb Consulting menilai, potensi bagi peluang bisnis minuman cokelat masih bagus. "Penjualan minuman cokelat masih cukup baik dan peminatnya masih tinggi," ujarnya.

Ia pun menyarankan, pemilik bisnis untuk lebih gencar menyiapkan strategi agar bisnis bertumbuh dan membuat pasar atau keinginannya tetap ada. "Lantas, bagaimana caranya? Dengan membuat issue atau membuat ulasan tentang bisnis minuman cokelat," kata Erwin, Jumat.

Senada, Djoko Kurniawan, konsultan usaha juga mengungkapkan jika  peluang bisnis minuman cokelat masih besar. Untuk menggenjot bisnisnya, para pemain juga harus pandai mengatur strategi. Maklum, persaingan dari jenis minuman baru membuat persaingan bisnis ini ketat. 

Pemain harus bisa memberikan edukasi soal produk kepada konsumen. "Mereka harus bisa menjelaskan soal kualitas cokelat dan manfaat yang terkandung dari cokelat bagi kesehatan. Pengenalan produk secara online di media sosial juga penting untuk dilakukan," ujar Djoko. 

Sedangkan, bagi mitra, Djoko menyarankan untuk ikut melakukan kegiatan marketing skala lokal. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan brand awareness. Selain itu, mitra juga wajib menjaga kualitas produk dan layanan sesuai standar pusat.  

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×