kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR13.935
  • EMAS714.000 1,28%
  • RD.SAHAM 0.53%
  • RD.CAMPURAN 0.27%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.13%

Beras antitengkulak


Jumat, 28 Juni 2019 / 18:42 WIB

Beras antitengkulak
ILUSTRASI. Wikri Wijaya, Pengurus Kelompok Tani Beras Dewa Cap Bukit Asam

KONTAN.CO.ID - Kehidupan petani kecil seringkali tak lepas dari jerat rentenir dan tengkulak. Itulah yang membuat Wikri Wijaya prihatin terhadap nasib petani di desanya.

Di Desa Pagar Alam, Kecamatan Tanjung Agung, Kabupaten Muara Enim, Sumatra Selatan, tempat Wikri tinggal, terhampar lahan pertanian 150 hektare (ha) yang dimiliki oleh sekitar 120 petani. Sayangnya, 80% lahan pertanian tersebut sudah digadaikan pada tengkulak dan rentenir. Bunga pinjaman yang mencekik membuat petani tak berkutik dan jadi miskin. Bunga rentenir itu bisa 40% sampai 50%, ujar Wikri, salah seorang pemuda tani di Pagar Alam.

Ingin melepas petani di desanya dari jerat rentenir, Wikri pun menemui pengurus CSR dari PT Bukit Asam Tbk (PTBA) untuk mencari solusi atas utang piutang sawah petani yang tergadaikan itu.

Gayung bersambut. PTBA ternyata juga memiliki visi ketahanan pangan. Mereka pun sepakat bersama-sama mencari jalan keluar. Selama setahun, yakni sepanjang tahun 2017, saya dan tim melakukan pendataan mengenai pertanian di desa saya. Kami adakan survei, jelasnya.

Setelah itu, tahun 2018 Wikri pun mengajukan proposal kerjasama kepada PTBA, dan langsung mendapatkan lampu hijau.

Respons cepat PTBA itu tak lepas dari proposal Wikri yang berisi program berkelanjutan dan bukan sekadar minta dana segar. Dia mengajukan konsep kelembagaan yang jelas untuk petani, meminta bantuan peralatan pertanian, rice mill, kendaraan bentor, gudang, dan kantor.

Nah untuk mendorong kesejahteraan petani, saya pikir beras organik adalah solusinya. Karena perawatannya mudah, biaya perawatan lebih ringan, tapi harga jualnya tinggi, jelas pria berusia 32 tahun ini.

Maka, pada tahun 2018, CSR PTBA masuk dengan mendirikan badan usaha milik petani (BUMP) bernama PT Pagar Bukit Asam. Wikri menjadi salah seorang pengurusnya. Awalnya hanya ada 10 ha lahan yang menjadi percontohan pertanian beras organik. Tapi, selama setahun ini, luas lahannya sudah meningkat menjadi 59 ha.

Petani yang tergabung dalam PT Pagar Bukit Asam ada sekitar 95 orang. Para petani itu harus mengikuti tata cara bertani yang sudah ditentukan demi menghasilkan beras organik. Sebab untuk mendapatkan status beras organik, petani harus mengantongi sertifikat dari Lembaga Sertifikasi Organik (LSO).

Wikri mengungkap, saat ini beras dari petani dibeli oleh PT Pagar Bukit Asam dengan harga lebih tinggi ketimbang harga sebelum bergabung, yakni sebesar Rp 7.500-Rp 8.000 per kg. Saat ini, berasnya masih dibeli seharga Rp 10.000 per kg, karena statusnya masih beras sehat menuju organik. Sebab, untuk menjadi organik, pertanian ini harus dijalankan selama dua tahun. Semoga akhir tahun ini sudah mengantongi sertifikat dari LSO, beber Wikri, yang memiliki latar belakang guru agama Islam itu.

Nantinya, bila sudah mengantongi sertifikat LSO, beras petani akan dibeli seharga Rp 17.000 per kg.

Selama setahun ini, selain pendapatan petani meningkat, produksi beras juga ikut terkerek. Bila sebelumnya hasil panenan seluas 1 ha hanya sebanyak 1,5 ton sampai 2 ton, sekarang sudah merangkak ke angka 2 ton sampai 2,5 ton per ha. Sepanjang tahun 2018 lalu, kami menghasilkan 280 ton beras, ujar Wikri.

Serapan besar

beras hasil keringat petani di Pagar Alam itu diberi merek beras dewa Cap Bukit Asam. Pihak Bukit Asam awalnya menyerap penuh hasil panenan petani. Tapi secara bertahap, kini beras dewa juga bisa dinikmati masyarakat sekitar. Bahkan kami membuat program pemasaran yang lebih luas lagi. Antara lain, mulai berpromosi dan kerjasama dengan pengusaha-pengusaha katering dan perusahaan-perusahaan, jelas Wikri.

Wikri mengungkapkan, program berkelanjutan dengan CSR PTBA masih terbangun hingga saat ini. PTBA sering memberikan pembinaan dan pelatihan pada petani terkait bisnis dan pemberdayaan. Tujuannya, supaya khasanah para petani lebih luas dan mampu membaca peluang usaha yang bisa digarap dan menghasilkan.

Keberhasilan petani bisa bangkit lewat PT Pagar Bukit Asam ini membuat petani dari desa lain tergerak untuk bergabung. Namun, Wikri menegaskan, sekarang motivasi bertani beras organik berbeda. Bukan sekadar untuk menyelesaikan jerat utang tengkulak, tapi juga karena adanya kesadaran menjaga lahan petanian dan kesehatan.

Kami ini terbangun karena adanya kemitraan dengan program CSR. Tapi dari setahun berjalan ini, kami juga sudah mempunyai program CSR sendiri, jelas Wikri. Ya, tahun lalu, PT Pagar Bukit Asam membagikan 3 ton beras pada merela yang membutuhkan sebagai wujud program CSR mereka. Dan tahun ini, mereka menargetkan bisa menyantuni anak-anak yatim piatu dengan jumlah beras lebih banyak.

Bertani beras organik memang lebih menjanjikan. Hal itu yang mendorong Wikri Wijaya mengajak petani di desanya bertani beras organik.


Reporter: Fransiska Firlana
Editor: Fransiska Firlana

TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Redaksi | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0007 || diagnostic_api_kanan = 0.0496 || diagnostic_web = 0.3004

Close [X]
×