kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.859
  • SUN90,98 -0,39%
  • EMAS612.058 0,33%

Berawal dari koleksi, kini tenun jadi bahan baju

Sabtu, 21 April 2018 / 14:10 WIB

Berawal dari koleksi, kini tenun jadi bahan baju



KONTAN.CO.ID - Dua tahun terakhir, jenis kain tradisional yang tengah naik daun adalah tenun. Kain tenun dari beberapa daerah seperti Palembang, Sumba, Bali, Lombok dan Timor tengah jadi pusat perhatian dan buruan bagi para pecinta kain tradisional.

Ignasio Haumara, pemilik Gading Haumara Gallery menjelaskan, tren tenun mulai menggeliat sejak dinobatkan UNESCO sebagai warisan budaya Indonesia. Pamor kain tenun makin menggeliat karena didukung pula oleh promosi destinasi wisata di NTT.

Kain tenun asli NTT dengan berbagai motif seperti motif Sumba, motif Timor, motif Rote dan motif Flores dibanderol dengan harga yang cukup tinggi, mulai Rp 1,2 juta-Rp 15 juta per lembar. Bahkan, koleksi khusus yang dibuat dengan benang hasil pintalan para perajin sendiri dan pewarna alami dibanderol sampai Rp 75 juta per lembar. Ignasio bilang, harga itu sepadan  dengan proses penggarapan yang rumit dan lama. "Semua tenun NTT dibuat dengan cara manual dengan waktu 8 bulan sampai setahun," ungkap Ignasio yang kebanyakan pelanggannya merupakan kolektor.  

Selain membeli berupa lembaran kain, kini mulai banyak konsumen yang mencari produk jadi. Pasalnya, tak semua penjahit bisa pas menjahit kain tenun NTT. "Setahun belakangan banyak pelanggan yang minta pakaian jadi, terutama ibu-ibu ya," ujar Ignasio.

Tujuh tahun rutin mengikuti pameran Adhiwastra Nusantara, pria asli NTT ini mengungkapkan minat masyarakat terhadap tenun NTT makin meningkat. Jika pelanggan Gading Haumara Gallery  kebanyakan datang dari Jakarta, kini pelanggan dari daerah lain seperti Surabaya, Bandung dan Bali juga mulai bermunculan.

Sepakat dengan Ignasio, Wignyo Rahadi, desainer sekaligus pemilik Tenun Gaya juga mengatakan kain tenun mulai diperhitungkan dalam dunia fesyen. Berbeda dengan Ignasio yang mengangkat tenun NTT, Wignyo lebih memilih tenun modifikasi untuk diaplikasikan dalam kainnya. "Tenun Gaya ini lebih ke modifikasi berbagai motif tenun nusantara yang kita aplikasikan dalam satu kain," jelas Wignyo, saat ditemui di pameran Adhiwastra Nusantara 2018, beberapa saat lalu.

Aneka kain Tenun Gaya dibanderol mulai Rp 450.000 sampai Rp 2,5 juta per lembar. Ada pula pakaian jadi seharga Rp 650.000-Rp 1,5 juta. Wignyo mengatakan, jika dirinya banyak terinspirasi dari motif tenun Bali dan Lombok serta beberapa motif batik yang diaplikasikan dalam kain karyanya.

Menurut Wignyo, tren pasar kain tradisonal saat ini tidak lagi memetingkan motif dan corak. Konsumen lebih mengutamakan kenyamanan kain dan warnanya. "Konsumen jaman sekarang itu lebih cari kain tradisional yang nyaman dipakai, bukan lagi cari motif apa. Jadi bahan kain harus yang nyaman dipakai. Tenun Gaya sebagian besar menggunakan bahan kain sutera," tandasnya.      


Reporter: Elisabeth Adventa
Editor: Johana K.

BISNIS FESYEN

TERBARU
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0007 || diagnostic_api_kanan = 0.0641 || diagnostic_web = 0.3730

Close [X]
×