kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 18.013   50,00   0,28%
  • IDX 5.745   49,44   0,87%
  • KOMPAS100 744   8,79   1,19%
  • LQ45 565   8,75   1,57%
  • ISSI 199   0,85   0,43%
  • IDX30 321   4,92   1,56%
  • IDXHIDIV20 395   5,89   1,52%
  • IDX80 85   1,16   1,39%
  • IDXV30 107   1,21   1,14%
  • IDXQ30 103   1,26   1,24%

Berburu batik Medan di Kampung Tembung (3)


Sabtu, 03 Februari 2018 / 10:40 WIB


Reporter: Tri Sulistiowati | Editor: Johana K.

KONTAN.CO.ID - Kendala dalam berbisnis merupakan hal yang lazim bagi para pemilik usaha. Tak terkecuali R Edy Gunawan, pemilik Ardhina Batik. Kini, ia mengalami kesulitan  mendapatkan perajin batik yang terampil.

Dia mengaku bila para remaja disekitar tempat produksinya cenderung suka mendesain batik daripada mengisi motif batik. Alhasil, dia harus memberikan pelatihan kepada mereka yang hendak bergabung.

Selain itu, bahan baku yang harus didatangkan dari Jawa membuat harga produksi tinggi. Otomatis, harga jual juga menjadi lebih mahal.  

Edy pun sempat menanggung rugi lantaran kenaikan harga bahan baku  mendadak. Padahal, saat itu dia sudah punya kesepakatan dengan pelanggan. "Saya tidak mungkin saya mengubah harga karena mereka akan kecewa," katanya.

Beredarnya batik printing dengan motif khas Sumatra Utara rupanya membuat persaingan menjadi cukup sengit. Harga jual yang murah membuat sebagian warga lebih memilih jenis batik itu  daripada batik cap.

Berbeda dengan Edy, Juhrita Tiwi, pemilik Batik Sumatra Utara justru merasakan kendala dari tenggat waktu yang diberikan oleh pelanggan. Seolah tidak mau tahu dengan repotnya tahap produksi dan lamanya waktu pengiriman bahan baku, para pelanggan menginginkan kain pesanannya siap dengan cepat.  

Agar tidak kecewa, perempuan berhijab ini selalu menepati tenggat waktu yang telah disepakati. Tapi, saat merasa tidak sanggup, dia lebih baik menolak pesanan daripada harus melanggar batas waktu pengiriman produk.

Untuk urusan persaingan usaha, Tiwi merasakan  adanya persaingan yang tidak sehat. Tidak sedikit para pemilik usaha saling menjelekkan pengusaha batik lainnya demi mendapatkan perhatian konsumen. "Bagi saya rezeki sudah diatur dan tidak ada gunanya menjelek-jelekkan karena waktu yang akan menjawab," jelasnya.

Asal tahu saja, Tiwi ini tidak banyak melakukan promosi untuk memperkenalkan hasil produksinya. Selama ini, dia hanya mengandalkan penjualan melalui reseller serta gerainya Galeri Sianipar.

Tiwi juga jarang mengikuti berbagai ajang promosi seperti pameran, lantaran sudah merasa kewalahan dengan pesanan yang ada. Maklum saja, kapasitas produksinya belum besar karena keterbatasan jumlah pengrajin.
Lainnya, dia berharap pemerintah Medan dapat memberikan dukungan kepada para perajin batik melalui pelatihan didalam ataupun di luar kota.  

Karena, Tiwi merasa sampai sekarang dukungan pemerintah hanya sebatas pameran. "Yang saya harapkan adalah diberi dukungan dana untuk belajar ke Jawa," tegasnya. Karena selama ini, dia harus mengeluarkan kocek pribadi untuk mengirimkan anak buahnya belajar ke salah satu pusat produksi bati di Jawa.                  

(Selesai)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Terpopuler
Kontan Academy
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS Inventory Management: From Chaos to Control

[X]
×