kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45702,42   14,31   2.08%
  • EMAS934.000 -1,06%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Berkah korona, produk lokal bisa isi celah pasar China


Sabtu, 01 Februari 2020 / 12:10 WIB
Berkah korona, produk lokal bisa isi celah pasar China
ILUSTRASI.

Reporter: Ratih Waseso, Venny Suryanto | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Wabah virus korona yang berasal dari Wuhan, China tengah merebak kemana-mana, termasuk juga ke bidang ekonomi. Pasar global pun mulai membatasi produk yang berasal dari Negeri Tirai Bambu tersebut, termasuk Indonesia yang tidak lagi mengimpor produk hortikultura. Dan ini bisa merembet ke produk lainnya.

Sejatinya ini menjadi kabar positif bagi para pebisnis lokal, termasuk juga kalangan UMKM. Maklum, produk asal China sudah banyak tersebar luas di pasar dalam negeri, mulai makanan, mainan, garmen, kosmetik hingga produk lainnya.
 
Konsumen pun masih menyambut positif produk dari China ini. Salah satu hal yang menjadi perhatian utama adalah harganya lebih murah dari produk lokal.
Salah satu pemain UMKM, Cara Jocelyn, pemilik Kanna Keramik. Kanna mengakui bahwa produk impor dari China dari sisi harga bisa jauh lebih murah dibandingkan dengan produk lokal. 
Nah, inilah yang menjadi pekerjaan rumah bagi usahanya untuk bisa membuat produk yang sepadan dengan produk impor, baik itu dari sisi kualitas maupun dari harga. "Produk lokal saat ini bisa bersaing dengan produk luar, baik dari sisi harga maupun kualitasnya," katanya kepada KONTAN. 
Maka ia tengah menyiapkan diri untuk membuat dan mengembangkan produk keramik untuk pasar lokal. Kanna Keramik saat ini memproduksi ragam produk piring, gelas, vas bunga dan sejenisnya dari bahan keramik.
 
"Semoga kami bisa menyadarkan masyarakat Indonesia untuk menggunakan produk lokal, meski ada yang mahal tapi kualitasnya boleh di adu dengan produk impor," ucapnya. 
Pebisnis lainnya, Ali Affandy juga berharap adanya wabah virus korona bisa memberi berkah bagi bisnisnya, yakni konveksi garmen celana denim alias jin. Apalagi sejak tahun lalu, bisnis celana jin, terutama dari lokal tergolong sepi. 
 
Salah satu penyebabnya adalah maraknya marketplace yang menjajakan ragam produk impor, terutama dari China dan salah satunya adalah celana jin. "Siapa tahu ada peluang untuk menambah (produksi)," harapnya kepada KONTAN.
 
Namun Ali masih belum bisa memastikan berapa banyak tambahan produksi yang bakal ia jalani karena masih melihat kondisi pasar terlebih dahulu. Ia pastikan seluruh bahan baku produk celana jin buatannya berasal dari lokal.
 
Yang pasti saban bulan, Ali mengirim sekitar 5.000 potong celana jin ke Pasar Tanah Abang. Harga celana buatannya adalah berkisar antara Rp 55.000 sampai Rp 110.000 per potong.
 
Proses produksi ia lakukan di Pekalongan, Jawa Tengah. Saat ini dan mempekerjakan sebanyak tiga pegawai. Untuk bahan bakunya sendiri berasal dari Bandung. 
 
"Semoga ke depan ada peluang buat pengusaha konveksi kecil seperti kami untuk bisa menambah produksi dan kalau bisa menguasai pasar dalam negeri," harapnya.    




TERBARU

Close [X]
×