kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Berkah peduli berbuah mi lidi


Senin, 14 November 2016 / 17:30 WIB

Berkah peduli berbuah mi lidi


Tak pernah terlintas di benak Riyanto 35 tahun untuk membangun bisnis besar yang menghasilkan omzet dan untung besar. Niat awalnya hanyalah bagaimana memecahkan masalah sosial perkotaan dan lingkungan di Kota Bekasi, Jawa Barat yang ia rasa semakin mengkhawatirkan.

Niat menyelesaikan masalah sosial itulah yang mendorong pria yang akrab disapa Ryri HPM ini mendirikan Komunitas Garuda Muda Bekasi pada 2012. Misi komunitas ini memberdayakan penyandang masalah sosial dan kesejahteraan atawa PMKS yang selama ini dicap sebagai sampah masyarakat. “Awalnya, komunitas ini hanya wadah kreasi untuk mengisi waktu luang,” kenangnya.

Tapi berkat keuletan dan keteguhan Ryri kelompok marjinal seperti pengangguran, mantan narapidana, mantan pecandu narkoba dan lainnya sebelumnya meresahkan masyarakat, mampu melahirkan kreativitas yang bernilai ekonomi tinggi. Seiring waktu, eksistensi Garuda Muda menjelma jadi basis produksi kreatif. Bisnis sosial ini memiliki tiga unit usaha, yakni Java Leaf, Ris.ma Snack, bisnis kaos dan sablon dengan brand Apa Bae. Java Leaf mendaur-ulang limbah kayu menjadi radio kayu unik, lampu hias, miniatur skuter, dan aneka hiasan batok. Produk ini mendapat respon positif dari pasar. Harga kerajinan buatan Java Leaf berkisar Rp 350.000–Rp 4 juta per unit, tergantung ukuran dan jenis.

Tak hanya diminati pasar lokal, produk Java Leaf sampai ke mancanegara seperti Malaysia, Jepang, Korea, Hong Kong, Taiwan, dan Australia. Kesuksesan Java Leaf menembus pasar luar karena sering mendapat kesempatan ikut pameran baik skala  nasional maupun internasional seperti di Turki, negara-negara ASEAN, Australia, dan Eropa. Belum lama ini, Garuda Muda juga berpartisipasi di ajang UMKM Sampoerna Expo 2016.

Soal omzet usaha Java Leaf, Ryri menyebut nilainya sangat relatif. Maklum, permintaan produk kerajinan tangan bersifat musiman. Tapi untuk produk radio kayu saja omzetnya stabil rata-rata di kisaran angka Rp 8 juta–Rp 10 juta sebulan. Sebetulnya pendapatan terbesar Garuda Muda dari berasal dari penjualan mi lidi Ris.ma yang mulai diproduksi 2013. Ris.ma Snack didirikan khusus untuk mengakomodasi anggota wanita. Sebab anggota pria semuanya bekerja di Java Leaf. Saat ini total produksi mi lidi Ris.ma mencapai 30.000 pieces per hari dengan total pekerja 40 orang. Dengan harga Rp 2.000 per pieces, Ris.ma Snack mampu meraup pendapatan ratusan juta. “Omzet bisa Rp 500 juta lebih dalam sebulan,” katanya.

Ia tak menyangka usaha makanan ringan tersebut mendatangkan berkah luar biasa. Padahal hanya bermodal Rp 10 juta. Modal tersebut sebagian besar habis untuk menggaji enam pegawai dan biaya operasional. Cuma, Rp 400.000 yang dibelanjakan untuk bahan baku. “Awal produksi hanya 1.300 pieces per hari,” ujarnya. Menurut Ryri, proses produksi mi lidi cukup mudah dan murah tapi keuntungannya berlipat ganda. Laba dari jualan mi lidi bisa lebih dari 120%. Karena itulah usaha mi lidi bisa cepat berkembang pesat.

Apalagi cemilan ini digemari oleh hampir semua lapisan umur. Unggul di pemasaran Keberhasilan Ris.ma Snack mengisi pasar yang luas, karena pemilihan segmen yang terbilang tepat, yakni lapisan menengah bawah. Ryri menyebutkan, sebelum menentukan produk dan pangsa pasarnya ia melakukan survei dulu. Strategi pemasaran dan distribusi yang mengandalkan jaringan plus media sosial sehingga efektif dan murah. “Ini yang membedakan dengan pesaing lain. Ris.ma Snack unggul di pemasaran,” klaimnya.

Jangkauan pemasaran mi lidi Ris.ma antara lain wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) dan beberapa daerah di Jawa Barat seperti Garut, Tasikmalaya, serta Bandung. Tak hanya itu, Ris.ma Snack mudah dijumpai di Rembang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, bahkan Jambi. Untuk distribusi, Ris.ma Snack membentuk kelompok mitra binaan selain reseller. Saat ini terdapat belasan mitra binaan yang tersebar di berbagai daerah terutama Jawa Barat. Keberadaan mitra binaan juga mempermudah dan mempercepat produksi di daerah. Sedangkan reseller Ris.ma Snack jumlahnya seratusan. “Sistemnya konsinyasi ke warung kecil. Kalau warung gede minta bagi hasil 40%,” terangnya.

Ryri menegaskan, Ris.ma Snack maupun Java Leaf bukan murni perusahaan melainkan wirausaha sosial seperti misi awal pendirian Garuda Muda. Tapi ke depan, Garuda Muda mempertimbangkan kebutuhan badan hukum seperti berbentuk persekutuan komanditer atau CV. Apalagi mulai tahun depan ada rencana ekspor produk baru, yakni kerajinan tas dari karung goni. “Permintaan pasar sudah ada dan sekarang pun sudah produksi. Tapi mulai ekspor tahun depan,” imbuhnya. 

Jadi inspirasi 

Mungkin tak banyak yang mengenal nama Riyanto di kalangan aktivis Komunitas Garuda Muda Bekasi. Maklum, meskipun usianya masih muda, ia lebih akrab disapa Pak De dan julukan Ryri HPM. Sapaan Pak De di kalangan marjinal merupakan sebuah penghormatan atas kiprahnya memberdayakan masyarakat yang terpinggirkan. Ia mampu menunjukkan jiwa kepemimpinan sekaligus panutan dan inspirasi bagi anggota komunitas yang umumnya penyandang masalah sosial.

“Saya belajar dari kondisi dulu yang sangat sulit, tak bisa bayar sekolah sampai enam bulan,” kenangnya. Sebelum terjun ke aktivitas pemberdayaan sosial-ekonomi dengan mendirikan Garuda Muda, Ryri berprofesi sebagai instruktur hypnotherapy positif of mind (HPM) di bidang pendidikan dan kewirausahaan. Dari situlah Riyanto lebih dikenal dengan julukan Ryri HPM.

Awalnya ia prihatin dengan persoalan sosial perkotaan di Bekasi yang kian merajalela. Kemudian muncul lah ide di hati kecilnya, Bagaimana bisa menolong mereka. Ketika sedang dihadapkan dalam kondisi sulit dan tidak ada yang menolong, Ryri bisa merasakan bagaimana  beban yang dialami mereka. Berbekal ilmu hipnoterapi yang ia miliki ia pun menelurkan motivasi, “Selama ada kemauan semua persolan bisa dihadapi,” sebut ayah satu anak ini.

Tapi, meskipun kini sukses membangun bisnis sosial, mampu menyelesaikan pendidikan tinggi bahkan kerap bertandang ke luar negeri tetap tak mengubah gaya sederhananya. “Ini semua juga berkat dukungan Dinas Sosial Pemkot Bekasi dan Lembaga Kasih Indonesia yang terus membantu dalam menangani kenakalan remaja soal narkoba,” ujarnya merendah.


Reporter: Dadan M. Ramdan
Editor: Dadan Ramdan

Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0023 || diagnostic_api_kanan = 0.0023 || diagnostic_web = 0.1107

Close [X]
×