kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.759.000   -15.000   -0,54%
  • USD/IDR 18.077   77,00   0,43%
  • IDX 5.840   -101,28   -1,70%
  • KOMPAS100 772   -13,86   -1,76%
  • LQ45 581   -8,07   -1,37%
  • ISSI 203   -2,64   -1,28%
  • IDX30 329   -5,24   -1,57%
  • IDXHIDIV20 407   -5,51   -1,34%
  • IDX80 87   -1,44   -1,63%
  • IDXV30 111   -2,14   -1,88%
  • IDXQ30 106   -1,74   -1,61%

Biayanya murah, panennya memberi fulus wah (1)


Kamis, 19 Februari 2015 / 18:03 WIB
ILUSTRASI. diler di Tajur, Bogor


Reporter: Dinda Audriene Muthmainah, Tri Sulistiowati | Editor: Havid Vebri

Bagi mereka yang hobi memelihara burung kicau tentu sudah tak asing dengan ulat Jerman. Jenis ulat ini sudah biasa menjadi pakan tambahan untuk menambah stamina burung agar semakin rajin berkicau.

Tak heran bila permintaan ulat ini tinggi di pasaran. Itu juga yang mendorong banyak orang tertarik membiakkan ulat ini. Salah satunya adalah Susanti asal Medan, Sumatera Utara.

Ia  mengaku, tertarik membiakkan ulat Jerman  karena permintaannya tinggi dan belum banyak peternak membiakkan ulat ini.Perempuan yang lebih akrab disapa Santi ini mengaku baru membiakkan ulat ini setahun lalu. "Saya dapat indukannya dari seorang teman," katanya.

Saat ini, Santi mempunyai sekitar 15 kilogram (Kg) ulat Jerman yang ditempatkan dalam kotak kayu. Karena tingginya permintaan, ia mengaku tidak kesulitan memasarkan ulat tersebut.

Kebanyakan konsumennya masih di sekitar Medan. Santi menjual ulat peliharaannya seharga Rp 90.000–Rp 100.000 per kg. Dalam sebulan ia bisa menjual 10 kg ulat Jerman. Bila dihitung total penjualan dalam satu bulan sekitar Rp 1 juta.

Kendati omzetnya masih kecil, keuntungan bersih yang didapatnya cukup besar, mencapai 70% dari omzet. "Cara pembudidayaannya mudah dan cukup murah," ujarnya.
Pemain lainnya adalah Rakhmat Hidayat. Pria asal Bogor ini mulai mengembangkan ulat Jerman sejak tahun 2010, dengan modal awal Rp 5 juta.

Modal sebesar itu dipakainya buat  membeli bibit sebanyak 30 kg, rak, baki, dan beberapa botol bekas yakult. Sayangnya, usahanya tidak berjalan lancar. Ulat peliharaannya sempat terkena hama sampai membuatnya harus menutup usahanya.

Namun di tahun 2014, laki-laki yang akrab disapa Rakhmat ini kembali mencoba beternak ulat Jerman. Saat ini, jumlah ulatnya berjumlah sekitar 100 kg. Rakhmat membanderol harga ulat Jermannya sebesar Rp 25.000–Rp 35.000 per kg, tergantung kondisi pasar.

"Kalau stok di pasaran sedang banyak, harganya Rp 25.000. Kalau lagi sedikit, harga otomatis naik sampai Rp 35.000," jelas Rakhmat. Ulat-ulat jerman miliknya panen setiap tiga minggu sekali. Sekali panen bisa mencapai 100kg–200 kg. Semua ulat tersebut selalu habis terjual.

Dengan penjualan sebanyak itu, ia ia dapat meraup omzet Rp 4 juta–Rp 5 juta dalam sebulan. Ada pun  keuntungan bersihnya sampai 50%. Kebanyakan konsumennya berasal dari Sukabumi dan Jakarta. Untuk wilayah Sukabumi, ia memiliki pelanggan peternak ikan arwana. Adapun langganannya di Jakarta adalah pedagang Pasar Burung Pramuka.         

(Bersambung)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×