kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.014,65   8,27   0.82%
  • EMAS955.000 1,06%
  • RD.SAHAM -1.07%
  • RD.CAMPURAN -0.35%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.08%

Bidik anak muda dengan motif batik tidak biasa


Rabu, 17 Februari 2016 / 18:16 WIB
Bidik anak muda dengan motif batik tidak biasa


Reporter: Jane Aprilyani | Editor: S.S. Kurniawan

Sebagai kain tradisional khas tanah air, batik kini telah menjadi kain kebanggaan. Tren penggunaan batik pun berkembang. Bukan hanya orang tua, kalangan anak muda kini banyak juga mengenakan batik.

Hal ini tak terlepas dari upaya para perajin batik yang mencoba membuat motif-motif modern, sehingga cocok dikenakan anak muda. Salah satu perajin yang gencar memperkenalkan batik di luar motif konvensional adalah Chitra Subyakto yang mengusung brand Sejauh Mata Memandang.

Kendati  tidak konvensional, motif batik buatan Chitra tetap bernafaskan Indonesia. Misalnya, ayam jago yang sering ditampilkan di mangkuk bakso atau mi ayam. "Sesuai dengan perkembangan saat ini, saya pun membuat item fesyen yang berbeda,” ujarnya.

Menekuni usaha ini sejak tahun 2014, Chitra mengaku memilih motif berdasarkan hal-hal kecil yang bisa dilihat di sekitar kita. “Contohnya, kain dengan lukisan mangkok bakmi, dimana seluruh pegawai di kantor suka makan bakmi,” imbuh Chitra kepada KONTAN.

Jika melihat sekilas, sebagian orang mungkin tidak mengira jika kain tersebut merupakan batik karena memang tidak dihadirkan dengan motif klasik. Namun, corak dalam koleksi Sejauh Mata Memandang digambar dengan menggunakan teknik batik, baik tulis ataupun cap.

Chitra sengaja tidak menampilkan motif konvensional agar menarik perhatian anak muda. Memang, Chitra tidak memproduksi sendiri kain batik tersebut.

Setelah mendapat ide dan gambaran ilustrasi untuk kain batiknya, ia pun bekerjasama dengan para perajin batik celup dan tulis, seperti dari Pekalongan, Yogyakarta, dan Madura. Meskipun tidak memproduksi langsung kain batik, motifnya asli dari Chitra.

Harga kain batik buatan Chitra dibanderol mulai Rp 100.000 hingga Rp 3 juta. Dalam sebulan, ia bisa memproduksi 30 pieces batik tulis dan 100 meter kain cap. 

Untuk memasarkan produknya, ia banyak melakukan promosi melalui Instagram dan website. Dia berencana untuk menggenjot produksi dan membuat produk kain khusus untuk laki-laki.

Pemain lainnya adalah Lisa Dwi Arwati di Solo, Jawa Tergah. Mendirikan usaha sejak 2009 dengan mengusung merek Senandung, ia juga fokus membidik kalangan anak muda.

Lisa memproduksi batik printing dan cap yang dibuat langsung oleh perajin dari Solo dan Pekalongan. Ada tiga macam batik buatannya, yaitu kemeja, gamis, dan baju terusan untuk perempuan.

Lisa bilang, batik yang paling banyak diminati buatan perajin Pekalongan. “Karena warnanya cerah dan motifnya terang dilihat. Berbeda dengan batik Solo yang lebih lembut warnanya,” sebut Lisa.

Dengan harga jual mulai Rp 80.000 hingga Rp 110.000 per helai, ia bisa mengantongi omzet hingga Rp 50 juta per bulan.     

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Terpopuler
Kontan Academy
Digital Marketing in New Normal Era The Science of Sales Management

[X]
×