CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.018,99   5,77   0.57%
  • EMAS992.000 0,00%
  • RD.SAHAM -0.20%
  • RD.CAMPURAN 0.04%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.12%

Bisnis laboratorium klinik kian sehat


Minggu, 10 November 2013 / 19:26 WIB
Bisnis laboratorium klinik kian sehat


Reporter: Marantina, Noor Muhammad Falih, Pratama Guitarra | Editor: Dupla Kartini

JAKARTA. Sehat merupakan kebutuhan semua orang. Itu sebabnya, bisnis di bidang   medis tidak pernah surut. Sebut saja, bisnis laboratorium klinik. Bukan hanya orang sakit yang membutuhkan jasa laboratorium klinik, tetapi juga orang sehat yang ingin menjaga diri supaya mereka tetap sehat.

Nah, seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan, bisnis laboratorium klinik pun terus bertumbuh. Namun, sudah cukup banyak pemain di bisnis ini, sehingga para pemilik usaha harus punya strategi bersaing supaya bisa bertahan.

Kali ini, KONTAN mengulas tiga usaha kemitraan laboratorium klinik, yakni Primadia, Hi-Lab, dan Budi Sehat. Sejauh ini, ketiga bisnis lab medis ini mampu berkembang. Lantas, apa faktor-faktor dan strategi yang diterapkan para pemilik usaha sehingga bisa bersaing? Simak ulasan berikut ini.

Primadia

Didi Junaedi mendirikan usaha ini pada 2000 di Jakarta. Primadia menawarkan berbagai jasa kesehatan laboratorium, seperti rontgen, elektrokardiografi, treadmill, spirometri, audiometri dan medical check up. Adapun konsep kemitraan mulai ditawarkan sejak 2008.

Ketika KONTAN mengulas tawaran tersebut pada Maret 2010, baru ada sembilan gerai Primadia yang beroperasi. Rinciannya: tiga gerai milik pusat, sisanya milik mitra.

Nah, dalam waktu tiga tahun terakhir, Didi berhasil menambah tiga gerai baru milik mitra. Jadi, kini, ada total 12 gerai yang tersebar di  Jakarta, Surabaya, Bandung, Pangkal Pinang dan Cirebon.

Menurut Didi, Primadia makin berkembang seperti tercermin dari semakin meluasnya jaringan pelanggan. Pihaknya membidik korporasi, karena potensinya besar. Beberapa perusahaan ternama tercatat menjadi pelanggan laboratorium ini, seperti PT Astra International Tbk, Jamsostek, Coca-Cola Amatil Indonesia, dan PT Combhipar. Perusahaan tersebut kebanyakan menggunakan jasa Primadia untuk kebutuhan medical check up karyawan.

Selain itu, Didi mengaku, pertumbuhan jumlah gerai didukung membaiknya kesadaran masyarakat. “Masyarakat sudah menganggap kesehatan sebagai kebutuhan primer, layaknya pendidikan. Mereka  sudah sadar, tindakan pencegahan jauh lebih baik ketimbang mengobati,” paparnya.

Seiring waktu, ada kenaikan pada paket kemitraan Primadia. Tahun sebelumnya, calon mitra hanya perlu merogoh kocek Rp 382,5 juta. Tapi, kini, mereka harus menyetor modal Rp 500 juta. Didi menyebut, kenaikan tersebut mengikuti kenaikan harga-harga barang.

Selain memberikan berbagai perlengkapan laboratorium, pihak pusat membantu rekrutmen karyawan yang akan bekerja di gerai mitra. Karyawan harus lulusan kejuruan analis farmasi.

Saat ini, Didi tidak mematok target penambahan gerai. Ia memilih fokus membesarkan gerai yang sudah ada, dengan cara meningkatkan pelayanan. “Yang jelas cita-cita kami, menjadikan Primadia sahabat prima bagi kesehatan masyarakat,” ujarnya.

Budi Sehat

Pusat Diagnostik Budi Sehat merupakan klinik kesehatan yang dilengkapi jasa laboratorium dan pengecekan kesehatan. Usaha ini dirintis Boedijanto dan Hilda Widhayani sejak 1982 di Surakarta. "Keduanya berprofesi sebagai dokter," kata Caroline, Franchise Manager Budi Sehat.

Klinik kesehatan yang sudah 49 tahun ini baru menawarkan waralaba pada 2010 silam. Pada tahun yang sama, KONTAN mengulas tawaran kemitraan tersebut. Tercatat,  Pusat Diagnostik Budi Sehat belum memiliki mitra, dan pusat baru punya satu gerai.

Caroline bilang, meski tidak secepat perkembangan waralaba kuliner, namun setidaknya perusahaannya sudah berhasil menggaet satu mitra, yaitu gerai di Sragen, Jawa Tengah. Jadi, total sudah ada dua gerai yang beroperasi.

Ia mengklaim, bekal pengalaman selama puluhan tahun di bisnis laboratorium menjadi keunggulan Budi Sehat. Apalagi didukung peralatan laboratorium yang modern dan sistem informasi yang sudah terkomputerisasi. "Kami berani bersaing dengan klinik lain, karena pelayanan di sini sangat baik di bidang medical check up dan peralatan lengkap, seperti scan panoramic yang belum dimiliki klinik lain," bebernya.

Sejumlah layanan diagnostik yang disediakan Budi Sehat masih sama dengan tahun sebelumnya, yaitu rontgen, mammografi, pap smear, USG hingga rekam kesehatan jantung. Bedanya sekarang, Budi Sehat juga melayani kunjungan kerumah atau kantor untuk pengambilan darah, serta general check up.

Pilihan paket investasi yang ditawarkan pun masih sama, yaitu senilai paket pratama dengan investasi Rp 50 juta. Kedua, paket madya senilai  Rp 100 juta. Terakhir, paket utama dengan investasi Rp 150 juta. Perbedaan ketiga paket itu dari jumlah layanan yang ditawarkan.

Calon mitra akan mendapat sejumlah produk dan alat kerja sesuai paket yang diinginkan. Selain itu, mitra tersebut   juga akan menerima konsultasi manajerial, bantuan desain tempat klinik, pelatihan awal, dan pelatihan lanjutan secara berkala. "Kami juga mengaudit manajemen mutu secara rutin," katanya.

Ia menambahkan, tahun ini, Pusat Diagnostik Budi Sehat tidak terlalu gencar menggaet mitra. Mereka memilih bersiap untuk menghadapi persaingan dan menggaet mitra baru pada tahun mendatang. Caranya, dengan memperbaiki sistem, manajemen mutu untuk mendapatkan sumber daya manusia (SDM) yang handal, pengembangan teknologi kedokteran yang modern, serta memperhatikan kepuasan pelanggan.

Hi-Lab

Laboratorium klinik asal Yogyakarta ini beroperasi sejak 2007. Lalu, pada 2012, Hi-Lab menawarkan kemitraan di bawah bendera PT Hi-Lab Internasional.

Saat KONTAN mengulas tawaran kemitraan ini pada Juli 2012, tercatat ada lima gerai yang beroperasi di Yogyakarta dan Jakarta. Seluruhnya gerai milik pusat.

Asisten Manager Marketing Hi-Lab, Sigit Suryono mengakui, hingga kini, jumlah gerai yang sudah beroperasi masih sama. Namun, katanya, akan ada tambahan tiga gerai baru pada awal tahun depan. Ketiganya gerai kepunyaan mitra yang berlokasi di Batam, Magelang, dan Bekasi. “Hampir semua sudah beres, kami sedang mengurus perizinan,” paparnya.

Para mitra Hi-Lab memang butuh waktu cukup lama, karena proses perizinan berjenjang. “Dulu, kami hanya butuh urus izin di Dinas Kesehatan kota, tapi sekarang harus ada izin juga dari Kemenkes, jadi lebih lama,” jelas Sigit.

Sampai saat ini, nilai paket investasi yang ditawarkan bagi calon mitra masih sama, yakni berkisar Rp 500 juta hingga Rp 7,5 miliar. Besaran modal tergantung jenis layanan yang ditawarkan.

Layanan pemeriksaan Hi-Lab masih sama seperti tahun sebelumnya, yaitu pemeriksaan kesehatan tubuh, seperti jantung, ginjal, hati, dan paru. Selain itu, tersedia pula layanan pemeriksaan infeksi hingga tes DNA. Tarif pemeriksaan di Hi-Lab berkisar Rp 21.000 untuk tes sederhana seperti tes gula darah, hingga mencapai Rp 2 juta untuk tes DNA.

Kata Sigit, supaya laboratorium milik mitra bisa cepat dibuka, maka mulai tahun depan, pihak pusat akan lebih gencar mengurus perizinan. Maklum, tahun depan, ditargetkan ada lima gerai baru yang akan dibuka. “Rencana,  kami akan buka di Bali dan Papua, tapi sekarang masih proses mencari lokasi,” imbuhnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Financial Modeling & Corporate Valuation Fundamental THE FUTURE OF SELLING

[X]
×