kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Bisnis olahan tahu masih renyah


Sabtu, 18 Januari 2020 / 09:10 WIB
Bisnis olahan tahu masih renyah

Reporter: Ratih Waseso, Venny Suryanto | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA.  Tahu merupakan salah satu makanan yang punya banyak penggemar. Selain untuk lauk harian, makanan berbahan dasar kedelai ini juga bisa diracik ke ragam olahan makanan untuk jadi camilan dan bikin banyak kalangan ketagihan.

Jenisnya mulai tahu goreng, tahu isi, atau batagor (bakso, tahu goreng). Termasuk juga tahu bulat yang sempat naik daun dan dijajakan secara keliling dengan menggunakan kendaraan roda empat.
 
Inovasi olahan camilan berbasis tahu pun tidak berhenti sampai disitu. Mulai banyak pebisnis yang menawarkan olahan tahu dengan rasa pedas dan biasa disebut tahu jeletot, ada juga tahu kekinian yang digoreng garing dan ada isian yang beragam.
 
Tak heran jika inovasi tersebut membuat camilan olahan tahu menarik perhatian banyak pihak. Para pebisnis pun langsung memanfaatkan situasi tersebut dengan menawarkan kemitraan usaha. Dan sempat mendapat respon positif kala itu.
 
Review waralaba kali ini mencoba mengulas kembali tawaran kemitraan yang sempat ditawarkan para pebisnis  gerai tahu kekinian tersebut. Apakah makin menjanjikan atau sebaliknya. Untuk lebih jelasnya, berikut ulasan singkatnya.  
 
Tahu Jeletot Taisi
 
Bisnis olahan tahu pedas atau yang lebih dikenal dengan sebutan tahu jeletot masih eksis. Salah satunya Tahu Jeletot Taisi asal Depok, Jawa Barat. Ini bisnis besutan Rudi Parlinggoman Sinurat yang  didirikan sejak 2012.
 
Saat  KONTAN bahas satu tahun lalu, jumlah gerai Tahu Jeletot Taisi mencapai 232 gerai yang tersebar di Jakarta, Bogor, Depok, Surabaya, Tangerang dan Bekasi. Adapun tahun ini sudah menggaet 457 mitra. "Perkembangan bisnis ini sangat bagus, dan kami sudah punya legalitas lengkap dan kemasan food grade," kata Rosie Pakpahan, pemilik Tahu Jeletot Taisi kepada KONTAN.
 
Perkembangan mitra yang pesat ini salah satunya berkat paket kemitraan yang dibuat lebih simpel meski nilainya tidak berubah dari tahun lalu. Kalau sebelumnya ada tiga paket yakni Rp 20 juta, Rp 49 juta dan Rp 55 juta, kini cukup dua paket saja yaitu Rp 20 juta untuk jenis booth aluminium  dan Rp 55 juta untuk booth premium. 
 
Dengan modal tersebut, mitra akan mendapatkan fasilitas brand selama lima tahun, satu unit gerai penjualan, peralatan usaha lengkap, survei lokasi usaha, pelatihan karyawan, media promosi dan bahan baku awal.
 
Saat beroperasi, ada beragam variasi isian Tahu Jeletot Taisi. Ada rasa original taisi,  extra spicy taisi, spicy sausage taisi, spicy chicken taisi dan lainnya dengan harga Rp 2.000 - Rp 3.500 per potong. 
 
Yang menjadi persoalan saat usaha ini adalah lonjakan bahan baku seperti cabai, kol atau wortel. Sayang, Rosie tidak merinci lebih lanjut upaya untuk mengatasi persoalan lonjakan bahan baku tersebut. Yang jelas, meski bahan baku terkadang naik, dirinya tidak serta merta mengerek harga jual tahu jeletot ini. 
 
Untuk itu pihaknya terus berupaya berinovasi untuk bisa mengakali lonjakan bahan baku tersebut. Apalagi pihaknya tidak bisa mengerek harga seenaknya. Misalnya dengan membuat inovasi berupa variasi menu yang lain. Salah satunya dengan membuat keripik atau camilan berbahan dasar tahu. "Inovasi selalu ada," tuturnya.
 
Inovasi ini juga diperlukan untuk menjaga konsumen tetap datang ke gerai Tahu Jeletot Taisi. Selain itu juga untuk bisa bersaing dengan pemain sejenis. 
 
Dengan langkah tersebut, Rosie menargetkan Tahu Jeletot Taisi mampu menggaet hingga 1.000 mitra sampai akhir tahun ini. Tak cuma itu, ia juga ada rencana untuk  melebarkan sayap bisnis hingga ke luar negeri. Dan untuk tahap awal adalah ke negera tetangga.  "Rencana kami mau ke Singapura dan Malaysia dulu. Mohon doa, semoga secepatnya," harapnya. 
 
Tahu Crispy Uno
 
Pemain kemitraan olahan tahu lainnya adalah Tahu Crispy Uno asal Bandung milik Retno Uji Lestariani. KONTAN sempat mengulas usaha ini pada 2016. Saat itu Tahu Crispy Uno belum punya mitra. 
 
Kini bisnisnya masih terus berkembang dan sudah punya 85 mitra yang tersebar di  sekitar Jabodetabek,  kota Bandung, Surabaya, Magelang, Pekalongan dan sejumlah kota dan daerah lainnya. 
 
Perkembangan bisnis yang lumayan cepat tersebut salah satunya terjadi karena paket tawaran kemitraan usaha yang relatif terjangkau. Kalau dulu ia menawarkan paket cuma Rp 4,5 juta, kini sudah menjadi Rp 6 juta. Perubahan terjadi karena ada tambahan fasilitas dan perlengkapan usaha yang diberikan ke mitra. "Gerobak lebih bagus dan ada kaos serta topi untuk mitra," katanya.
 
Sesuai namanya, jenis camilan tahu yang dijajakannya adalah tahu goreng krispi dengan baluran aneka bumbu. Ada rasa asli atau original, kemudian rasa asin, pedas, barbeku, balado, keju dan masih banyak lagi dengan banderol harga sekitar Rp 5.000 per porsi.
 
Meski sudah menjalani bisnis ini bertahun-tahun, ternyata Retno masih menemukan sedikit kendala selama menjalani usaha tersebut. Yaitu kerap terjadi tekstur tahu yang tidak mengembang saat digoreng. Sebab ini bisa membuat tampilan tahu jadi kurang sempurna dan rasanya menjadi tidak renyah. 
 
Terkadang, Retno akan memberi bonus tambahan ke pelanggan jika ada tahu yang kurang sempurna saat digoreng. "Kami menambahkan dengan tahu yang lebih bagus ke pembeli," tuturnya.
 
Maklum, untuk menggoreng tahu hingga menjadi renyah dan krispi itu susah susah gampang. Butuh kesabaran dan ketelatenan. Tapi ia tidak patah semangat untuk terus mencari cara agar setiap tahu yang digoreng selalu renyah dan mengembang sehingga tidak lagi perlu memberi tambahan tahu ke para pembeli. 
 
Sedangkan untuk target mitra ia harapkan bisa lebih banyak lagi. Sampai akhir tahun ini ia mencoba bisa menjaring hingga 100 mitra Tahu Crispy Uno yang bergabung. 
 
Tahu Jotos
 
Nasib berbeda terjadi pada usaha Tahu Jotos besutan Bakti Prasetyo. Usaha ini ternyata sudah tutup sejak dua tahun lalu.  
 
Pebisnis asal Surabaya ini sudah mengembangkan bisnis dengan Tahu Jotos sejak November 2016 silam. Usaha baru ini sempat mempunyai empat mitra yang tersebar di wilayah Surabaya. Sayang kini semua mitra bisnisnya sudah tidak ada yang aktif.
 
Ia menyebut pasar camilan tahu krispi kini makin berkurang. Selain itu dirinya juga kesulitan untuk mengembangkan varian rasa terbaru dari olahan berbahan dasar tahu.
 
Saat beroperasi, Tahu Jotos cuma menawarkan dua varian menu saja yakni tahu jotos dan tahu bakso. Tahu jotos sendiri adalah tahu berisi sayuran yang sudah dicampur dengan sambal. Sementara tahu bakso cocok bagi mereka yang tidak suka pedas. Namun, bila pembeli tetap ingin merasakan sensasi pedas, Tahu Jotos menyiapkan sambal cocol spesial yang diracik sendiri.
 
Harga jual Tahu Jotos Bakti tetapkan sama untuk setiap gerai, sebesar Rp 2.500 untuk satu tahu.  Sedangkan untuk paket kemitraan yang ditawarkan adalah senilai Rp 15 juta. Dengan paket tersebut mitra akan mendapatkan perlengkapan komplit, seperti gerobak, peralatan masak, dan bahan baku sebanyak 200 tahu.
 
Saat itu mitra diproyeksi bisa mengais pendapatan minimal Rp 500.000 per hari. Dengan laba usaha sekitar 20%, maka mitra bisa balik modal cuma empat bulan saja.
Tahu Jotos pun tidak menetapkan biaya royalti. Namun mitra diwajibkan membeli bahan baku ke pusat, seperti tahu, tepung serta sambal. Saat itu, mitra biasanya bisa membeli bahan baku ke pusat setiap harinya. 
 
Setelah Tahu Jotos tutup buku, Bakti tidak tinggal diam. Dia justru sudah punya bisnis baru yang berbeda dari bisnis sebelumnya. "Saya beralih ke pisang keju baru sekitar 5 bulan terakhir ini," kata Bakti   ke KONTAN yang menilai bisnis pisang keju punya potensi di Jawa Timur.                   




TERBARU

Close [X]
×